Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Serangan Racun di Rusia, Pembungkaman Terhadap Individu Kritis?

Serangan racun kepada individu tertentu di Rusia memunculkan pertanyaan besar: mengapa korbannya hanya kelompok kritis? Betulkah perencana atau orang serangan racun tidak bisa diketahui?
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Agustus 2020  |  09:02 WIB
Pemimpin oposisi Rusia Alexey Navalny (kiri) dan istrinya, Yulia (kanan), berjalan bersama para pengunjuk rasa lainnya dalam sebuah demonstrasi di Moskow, Rusia, Sabtu (29/2/2020). - Bloomberg/Andrey Rudakov
Pemimpin oposisi Rusia Alexey Navalny (kiri) dan istrinya, Yulia (kanan), berjalan bersama para pengunjuk rasa lainnya dalam sebuah demonstrasi di Moskow, Rusia, Sabtu (29/2/2020). - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA -  Rusia belakangan diramaikan dengan berita aksi serangan racun. Korbannya adalah individu yang dikenal kritis.

Korban terbaru, Alexei Navalny, dikenal sebagai penggiat antikorupsi dan pernah menantang Presiden Vladimir Putin dalam pemilihan presiden Rusia tahun 2018. Navalny mengalami koma akibat dugaan diracun pada hari Kamis pekan lalu.

Hal yang menarik untuk diperhatikan adalah latar belakang para korban. Mereka yang diracun diidentifikasi memiliki kemiripan dalam hal aktivitas dan sikap mereka terhadap masalah politik, keamanan, hukum, HAM, dan ekonomi yang dijalankan pemerintah Rusia.

Mereka ada yang berprofesi sebagai aktivis HAM dan lingkungan, jurnalis, ilmuwan, agen mata-mata, politisi, dan budayawan.

Beberapa korban ada yang pernah menjadi agen mata-mata intelijen Rusia namun kemudian melarikan diri dan membelot ke negara yang dianggap musuh oleh penguasa Rusia.

Hampir semua yang menjadi korban racun diberitakan media internasional sebagai oposisi atau pengkritik keras terhadap penguasa Rusia termasuk yang berkuasa saat ini, Presiden Vladimir Putin.

Mereka yang jadi sasaran diracun sebelumnya sudah menjadi target pembunuhan atau ancaman kematian lainnya. Mereka yang sudah diracun namun masih hidup, tetap diburu untuk dihabisi nyawanya.

Alexei Navalny misalnya, sudah beberapa kali menjadi target pembunuhan. Bahkan ini racun kedua yang menimpa dirinya. Pada tahun 2017, dia disiram zat kimia antibiotik hijau sehingga mengganggu penglihatannya hingga saat ini.

Tahun lalu, 2019, Navalny yang dijebloskan ke penjara karena mengorganisai unjuk rasa memprotes maraknya korupsi di Rusia, dicurigai telah diracun.

Kamis pekan lalu, dalam perjalanannya menjelang kampanye pemilihan lokal dari Siberia ke Moskow, Navalny memesan teh di kafe Vienna di bandara Tomsk, Siberia. Dia sekarat di dalam pesawat, tak sadarkan diri.

Rekan seperjalanan dan istrinya yakin Navalny diracun. Jika nanti terbukti diracun berdasarkan hasil pemeriksaan dokter di Jerman yang merawat Navalny, ini artinya pelaku ingin membunuh Navalny di Siberia, ratusan kilometer jaraknya dari Moskow.

Alexei Navalny dikenal aktif di sosial media. Mayoritas pengikutnya merupakan kalangan muda, yang meledek kelompok mapan dan setia kepada Putin.

Kemiripan lain dari para korban yang diracun adalah tak satu pun otak atau perencana di balik aksi pelaku peracunan dapat ditemukan untuk dimintai pertanggungjawaban.

Dalam kasus racun yang hampir membunuh mantan mata-mata Rusia yang membelot ke Inggris, Sergei Skripal dan anak perempuannya Yulia di Salisbury, Inggris, dua warga Rusia bernama Alexander Petrov dan Ruslan Boshirov menjadi tersangka.

Keduanya dicurigai sebagai pelaku karena mereka berada di dekat rumah Skripal. Mereka mengaku sedang berwisata di Salisbury, namun pemerintah Inggris menegaskan keduanya merupakan aparat intelijen Rusia, GRU.

Kanselor Jerman Angela Merkel dalam pernyataan bersama dengan Menteri Luar Negeri Heiko Maas meminta otoritas Rusia melakukan penyelidikan penuh mengenai racun pada tubuh Navalny dan menuntut pertanggungjawaban mereka.

"Mengingat peran penting Navalny dalam politik oposisi di Rusia, aparat berwenang di sana sekarang diminta untuk segera menyelidiki kejahatan ini secara terperincil dan dalam transparansi penuh," kata Merkel, sebagaimana dikutip dari abc.net.au, 25 Agustus 2020.

Jerman beberapa kali menerima warga Rusia yang diracun untuk menjalani perawatan. Sebelum Navalny, Viktor Kalashnikov, jurnalis freelance dan mantan agen KGB. Ia dirawat di rumah sakit RS Chrite di Berlin pada November 2010. Kini Navalny dirawat di rumah sakit yang sama, 

Dokter menemukan kandungan merkuri 3.7 mikrogram di dalam darah Kalashnikov. Ia diracun bersama istrinya.

"Moskow meracun kami," kata Viktor kepada media Jerman, Focus.

Aktivis Pussy Cat keturunan Rusia-Kanada, Pyotr Verzilov, dipindahkan ke rumah sakit di Berlin, Jerman setelah diracun pada tahun 2018 di Moskow. Dia diracun beberapa saat setelah diwawancara karena mengkritisi sistem hukum Rusia.

Kremlin membantah keterlibatannya meracun warganya yang rekam jejak mereka sebagai pengkritik atau oposisi pemerintah Rusia.

Begitu pun Rusia sepertinya tidak mau mengambil inisiatif membongkar kejahatan racun ini untuk mendapatkan jawaban mengapa orang-orang yang dikenal kritis dan berseberangan dengan pemerintah kerap menjadi target untuk diracun. Bersamaan dengan itu, Rusia mengklaim menghormati kemerdekaan berpendapat sebagai salah satu pilar demokrasi.

Seperti hantu, kasus racun di Rusia menimbulkan jatuh korban yang jumlahnya bertambah terus, namun pelakunya gentayangan tanpa bisa disentuh apalagi ditangkap, tulis Tempo.co mengutip laman abc.net.au dan dw.com.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rusia racun

Sumber : Tempo.co

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top