Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Konflik Laut Mediterania, Erdogan Tuding Yunani Ciptakan Kekacauan

Erdogan mengatakan bahwa angkatan laut negaranya tidak akan mundur dari laut Mediterania bagian timur.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 25 Agustus 2020  |  10:35 WIB
Ilustrasi-Kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) transit di Selat Gibraltar, memasuki Laut Mediterania. - Reuters
Ilustrasi-Kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) transit di Selat Gibraltar, memasuki Laut Mediterania. - Reuters

Bisnis.com, ISTANBUL - Turki terlibat pertikaian dengan Yunani di Laut Mediterania. Kedua negara selama ini mengakui wilayah tersebut sebagai miliknya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada Senin (24/8/2020) bahwa angkatan laut negaranya tidak akan mundur dari laut Mediterania bagian timur, wilayah yang sama-sama diklaim Turki dan Yunani.

"Pihak yang menempatkan Yunani di hadapan angkatan laut Turki tidak akan berdiri di belakang mereka," kata Erdogan usai rapat kabinet.

Erdogan menambahkan bahwa Pemerintah Yunani tidak berhak mengirim Navtex, peringatan navigasi dan cuaca maritim, di area yang diklaim oleh Turki.

"Yunani telah mengumumkan Navtex milik mereka sendiri dengan melanggar hukum dan cara yang tak elok. Dengan pendekatan ini, Yunani telah menanam sebuah kekacauan yang tidak akan bisa dihindari olehnya," ujar Erdogan.

Turki memperpanjang misi kapal Oruc Reis untuk survei eksplorasi sumber daya alam di kawasan Mediterania bagian timur hingga 27 Agustus, sehingga meningkatkan ketegangan di wilayah sengketa tersebut. Yunani sendiri menyebut survei itu ilegal.

Juru bicara Pemerintah Yunani Stelios Petsas, Senin, menyatakan bahwa Yunani telah meluncurkan Navtex yang memiliki tenggat waktu pada tanggal yang sama, 27 Agustus.

"Yunani merespons secara tenang dan dengan kesiapan dalam hal diplomatik maupun level operasional dan dengan kepercayaan diri bangsa, kami melakukan apa saja yang diperlukan untuk mempertahankan hak atas kedaulatan kami," kata Petsas.

Turki dan Yunani, yang merupakan sekutu dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), belakangan ini dengan keras saling menyatakan ketidaksetujuan terhadap klaim sumber daya hidrokarbon di Mediterania.

Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Turki menyebut latihan maritim mereka yang melibatkan kapal-kapal Turki dan angkatan laut sekutu akan dilakukan di Mediterania pada 25 Agustus ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

turki yunani

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top