Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Konflik Laut Mediterania, Erdogan Tuding Yunani Ciptakan Kekacauan

Erdogan mengatakan bahwa angkatan laut negaranya tidak akan mundur dari laut Mediterania bagian timur.
Ilustrasi-Kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) transit di Selat Gibraltar, memasuki Laut Mediterania./Reuters
Ilustrasi-Kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) transit di Selat Gibraltar, memasuki Laut Mediterania./Reuters

Bisnis.com, ISTANBUL - Turki terlibat pertikaian dengan Yunani di Laut Mediterania. Kedua negara selama ini mengakui wilayah tersebut sebagai miliknya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada Senin (24/8/2020) bahwa angkatan laut negaranya tidak akan mundur dari laut Mediterania bagian timur, wilayah yang sama-sama diklaim Turki dan Yunani.

"Pihak yang menempatkan Yunani di hadapan angkatan laut Turki tidak akan berdiri di belakang mereka," kata Erdogan usai rapat kabinet.

Erdogan menambahkan bahwa Pemerintah Yunani tidak berhak mengirim Navtex, peringatan navigasi dan cuaca maritim, di area yang diklaim oleh Turki.

"Yunani telah mengumumkan Navtex milik mereka sendiri dengan melanggar hukum dan cara yang tak elok. Dengan pendekatan ini, Yunani telah menanam sebuah kekacauan yang tidak akan bisa dihindari olehnya," ujar Erdogan.

Turki memperpanjang misi kapal Oruc Reis untuk survei eksplorasi sumber daya alam di kawasan Mediterania bagian timur hingga 27 Agustus, sehingga meningkatkan ketegangan di wilayah sengketa tersebut. Yunani sendiri menyebut survei itu ilegal.

Juru bicara Pemerintah Yunani Stelios Petsas, Senin, menyatakan bahwa Yunani telah meluncurkan Navtex yang memiliki tenggat waktu pada tanggal yang sama, 27 Agustus.

"Yunani merespons secara tenang dan dengan kesiapan dalam hal diplomatik maupun level operasional dan dengan kepercayaan diri bangsa, kami melakukan apa saja yang diperlukan untuk mempertahankan hak atas kedaulatan kami," kata Petsas.

Turki dan Yunani, yang merupakan sekutu dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), belakangan ini dengan keras saling menyatakan ketidaksetujuan terhadap klaim sumber daya hidrokarbon di Mediterania.

Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Turki menyebut latihan maritim mereka yang melibatkan kapal-kapal Turki dan angkatan laut sekutu akan dilakukan di Mediterania pada 25 Agustus ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Newswire
Editor : Saeno
Sumber : Antara

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper