Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pilpres di Belarusia Ricuh, Pemerintah Tangkap Lebih dari 6.000 Pengunjuk Rasa

Svetlana Tikhanovskaya, Capres dari partai oposisi melarikan diri ke Lithuania akibat kericuhan dalam Pilpres di Belarusia.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 13 Agustus 2020  |  08:01 WIB
Polisi anti huru hara di Minsk - Siarhei Leskiec  -  AFP / Getty Images
Polisi anti huru hara di Minsk - Siarhei Leskiec - AFP / Getty Images

Bisnis.com, JAKARTA - Pihak berwenang di Belarusia menyatakan telah menangkap lebih dari 6.000 orang sejak tiga malam aksi demo penuh kekerasan akibat kecurangan dalam pemilihan presiden yang disengketakan pada Minggu (9/8/2020).

Rekaman aksi polisi saat memukuli para pendemo dan menahan pengunjuk rasa dengan tindak kekerasan beredar luas.

Sejumlah pihak oposisi telah dipenjara dan diusir dari negara itu dalam tindakan keras besar-besaran setelah pemilihan umum, yang menurut komisi pemilihan dimenangkan secara telak oleh Presiden Alexander Lukashenko.

Di antara pihak opisisi yang melarikan diri adalah Svetlana Tikhanovskaya, kandidat oposisi utama, yang berangkat ke Lithuania setelah anak-anaknya diancam.

Anggota oposisi menuduh polisi menyerang pengunjuk rasa tanpa proses hukum. Video menunjukkan petugas polisi menembak orang yang lewat dengan peluru karet dan memukuli demonstran dengan pentungan setelah penangkapan mereka.

Sedangkan televisi pemerintah menayangkan video tentang pengunjuk rasa dengan memar di wajah mereka saat diinterogasi oleh polisi di sebuah ruangan.

“Jadi, apakah kita akan terus membuat revolusi?,” menurut rekaman suara dalam tayangan tersebut seperti dikutip TheGuardian.com, Kamis (13/8/2020).

Di Brest, sebuah wilayah di barat daya negara itu, penegak hukum mengonfirmasi bahwa mereka menggunakan amunisi untuk menembak ke arah pengunjuk rasa sehingga melukai satu orang. Kementerian Dalam Negeri mengklaim para pengunjuk rasa telah menyerang mereka dengan batang baja.

Di sebuah pusat penahanan di pinggiran ibu kota, Minsk, keluarga yang putus asa berkumpul setiap pagi untuk meminta informasi kepada polisi tentang kerabat yang hilang saat aksi protes. Saat mobil polisi hijau tua tiba yang membawa lebih banyak tahanan, terdengar teriakan "Memalukan!"

“Putra saya akan pulang dan bertemu istrinya pada Senin malam dan saya belum mendengar kabar darinya sejak itu,” kata Natalia, 75 tahun, sambil menangis.

Sedangkan yang lainnya membawa kantong makanan dan persediaan lainnya dengan harapan bisa diserahkan kepada orang-orang di dalam tahanan.

Dalam rapat umum di dekat pasar Minsk kemarin, ratusan wanita yang mengenakan pakaian putih dan memegang bunga membentuk rantai manusia untuk memprotes kebrutalan polisi dan penangkapan massal.

Teater Bebas Belarusia, sebuah kelompok teater bawah tanah yang mengkritik pemerintah, melaporkan bahwa dua anggotanya telah ditangkap dan mengatakan bahwa mereka ditahan dalam kondisi yang menyedihkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pemilu belarusia

Sumber : TheGuardian.com

Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top