Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelang Pilpres AS, Peneliti Vaksin Covid-19 Khawatirkan Tekanan Politis

Para peneliti kesehatan khawatir pemerintah akan menekan Administrasi Pangan dan Obat (FDA) AS agar mengabaikan data yang tidak akurat. 
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 03 Agustus 2020  |  17:02 WIB
Para peneliti di dunia tengah berlomba untuk menciptakan vaksin virus corona (Covid-19) yang efektif. - Euronews
Para peneliti di dunia tengah berlomba untuk menciptakan vaksin virus corona (Covid-19) yang efektif. - Euronews

Bisnis.com, JAKARTA - Para peneliti kesehatan khawatir pemerintah Amerika Serikat akan memberikan intervensi politik dalam beberapa bulan ke depan dalam upaya penemuan vaksin Covi-19.

Dilansir dari New York Times, Minggu (2/8/2020), kekhawatiran itu muncul lantaran Presiden AS Donald Trump saat ini dinilai harus berpacu dengan waktu untuk menemukan vaksin untuk virus Corona jelang perhelatan pemilihan presiden baru AS pada November 2020.

Seperti diketahui, AS menjadi negara dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi dengan puluhan ribu meninggal dunia dan puluhan juta kehilangan pekerjaan.

Pada April lalu, Departemen Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat AS membuat presentasi untuk Gedung Putih terkait dengan percepatan pengembangan vaksin yang menjadi kunci utama untuk penanganan wabah di negaranya. 

Judul presentasi tersebut adalah Mengaktifkan Alkes Luas ke Publik pada Oktober 2020. Dengan kenyataan bahwa pengembangan vaksin dibutuhkan waktu bertahun-tahun, tentu wacana ini menjadi terlalu ambisius.

Kendati sejumlah perusahaan farmasi telah menyiapkan pengembangan vaksin dengan investasi jumbo, target Oktober nampaknya akan tetap meleset. Paling tidak, ratusan juta dosis vaksin baru bisa diamankan pada akhir tahun ini atau awal 2021.

Para peneliti kesehatan khawatir pemerintah akan menekan Administrasi Pangan dan Obat (FDA) AS agar mengabaikan data yang tidak akurat. 

Mereka juga khawatir FDA akan didesak memberikan persetujuan terbatas kepada vaksin untuk digunakan oleh kelompok tertentu seperti petugas kesehatan, sebelum pemilu pada 3 November 2020.

Paul A. Offit dari Universitas Pennsylvania, yang merupakan anggota komite vaksin FDA, mengatakan banyak orang jadi gugup apakah administrasi akan memengaruhi Warp Speed atau kemitraan publik-swasta untuk vaksin.

"Lalu [pemerintah] mengambil satu atau dua atau tiga vaksin, dan mengatakan mereka sudah mengujinya ke ribuan orang, lalu bilang tampaknya aman, dan akan menggunakannya," katanya.

Trump yang selalu mempromosikan progres pengembangan vaksin meningkatkan harapan persetujuan penggunaan vaksin akan dilakukan dengan cepat.

"Kami berharap untuk mendapatkan vaksin dalam waktu yang sangat sangat cepat sebelum akhir tahun, jauh sebelum rencana awal. Kita hampir sampai pada tahap final," kata Trump saat kampanye di Pennsylvania.

Bloomberg melaporkan, pemerintah AS diketahui telah setuju menyiapkan US$2,1 miliar untuk bermitra dengan Sanofi dan Glaxo. Pendanaan ini untuk menyiapkan uji klinis dan proses produksi sehingga bisa menyumbang 100 juta dosis.

Tak hanya itu, investasi dengan Pfizer dan BioNTech telah disepakati senilai US$1,95 miliar untuk pemerintah AS. 

Novavax Inc., juga telah mengumumkan investasi senilai US$1,6 miliar dam U$1,2 miliar untuk AstraZeneca untuk memacu pengembangan dan produksi.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat vaksin Virus Corona pilpres amerika covid-19
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top