Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Susul Singapura, Korsel Masuk Zona Resesi

Dalam periode April-Juni, PDB Korea Selatan tumbuh negatif 2,9 persen dari periode yang sama tahun lalu. Sebelumnya, ekonomi Negeri Ginseng tersebut juga mengalami kontraksi 3,3 persen pada kuartal I/2020.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  08:28 WIB
Seorang pekerja berkostum tradisional Korea mengenakan topeng pelindung untuk mencegah tertularnya virus corona selama pemeragaan ulang Royal Guards Changing Ceremony di depan Istana Deoksu di Seoul, Korea Selatan, 31 Januari 2020. - Reuters
Seorang pekerja berkostum tradisional Korea mengenakan topeng pelindung untuk mencegah tertularnya virus corona selama pemeragaan ulang Royal Guards Changing Ceremony di depan Istana Deoksu di Seoul, Korea Selatan, 31 Januari 2020. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi Korea Selatan mengalami kontraksi pada tingkat yang lebih tajam dari ekspektasi pada kuartal II/2020 setelah pandemi menekan ekspor dan pendapatan sektor swasta.

Dalam periode April-Juni, produk domestik bruto riil (PDB) negara itu menyusut 2,9 persen dari periode yang sama tahun lalu, menandai pertumbuhan paling lambat sejak kontraksi tahunan 3,8 persen pada kuartal IV/1998, menurut data dari Bank of Korea (BOK).

Pada kuartal I/2020, ekonomi Negeri Ginseng tersebut juga mengalami kontraksi 3,3 persen. Secara teknis, Korea Selatan telah memasuki fase resesi, mengikuti Negeri Singa.

Pada kuartal pertama, ekonomi Korea Selatan turun 1,3 persen. Namun, secara tahunan, ekonomi tumbuh 1,4 persen pada periode Januari-Maret.

Dilansir Yonhap, Bank of Korea sebelumnya mengantisipasi ekonomi menyusut sekitar 2 persen satu tahun dalam periode April-Juni, menempatkan prospek pertumbuhan tahunan pada kontraksi 0,2 persen.

Tetapi Gubernur BOK Lee Ju-yeol pekan lalu mencatat ekonomi Korea Selatan kemungkinan akan mengalami pukulan yang lebih berat dari perkiraan sebelumnya tahun ini karena pandemi COVID-19.

"Ketika kami menawarkan proyeksi pertumbuhan pada bulan Mei, kami memperkirakan pandemi COVID-19 akan mulai melambat pada paruh kedua tahun ini, tetapi sekarang kami berada di minggu kedua bulan Juli, dan penyebaran penyakit ini agak meningkat," katanya pada konferensi pers Kamis lalu.

Dengan demikian, Ju-yeol melihat pemulihan ekspor kita mungkin akan tertunda lebih lanjut, sehingga pertumbuhan ekonomi Korea Selatan dapat terpengaruh.

Ekspor Korea Selatan merosot 13,6 persen (yoy) pada kuartal kedua, menandai perubahan haluan dari kenaikan 5,6 persen (yoy) dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Ini juga menandai penurunan tajam ekspor dalam setahun sejak kuartal keempat 1974, ketika ekspor turun 17,9 persen.

Konsumsi domestik juga terus melemah pada kuartal kedua, tergelincir 4,1 persen (yoy). Kondisi ini menandai pemulihan dari kontraksi sebesar 4,8 persen pada kuartal I/2020.

Pemerintah sejauh ini mengelontorkan anggaran US$49,3 miliar atau 59 triliun won dalam 3 batch untuk menopang ekonomi domestik.

Negara ini melaporkan kasus pertama pada 20 Januari 2020. Di samping anggaran yang masif, sektor swasta tetap melemah seiring dengan investasi bangunan yang hanya tumbuh 0,1 persen pada kuartal II/2020, turun tajam dari ekspansi 4,2 persen pada kuartal I/2020.

Secara sektor, output manufaktur turun 6,7 persen (yoy). Penurunan tersebut lebih dalam dibandingkan sebelumnya sebesar 3,5 persen (yoy) pada kuartal I/2020.

Sektor konstruksi juga mengalami penurunan 0,2 persen (yoy) pada kuarta kedua ini, dibandingkan 3 persen (yoy) pada kuartal I/2020. Sektor manufaktur turun 6,7 persen (yoy). Penurunan ini lebih dalam dari sebelumnya sebesar 3,5 persen (yoy) pada kuartal I/2020.

Sektor jasa Korea Selatan melambat 1.7 persen, lebih dalam dibandingkan 0,2 persen pada kuartal pertama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

korea selatan resesi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top