Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS Tuding Dua Peretas China Menyaru Jadi Kontraktor

Departemen Kehakiman AS mendakwa dua warga negara China setelah dituduh melakukan kegiatan spionase maya selama satu dekade atas kontraktor pertahanan, peneliti Covid-19 dan ratusan korban lainnya di seluruh dunia.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 22 Juli 2020  |  06:45 WIB
Petugas berseragam jaket lapangan FBI (Federal Bureau of Investigation).  - Istimewa
Petugas berseragam jaket lapangan FBI (Federal Bureau of Investigation). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Departemen Kehakiman AS mendakwa dua warga negara China setelah dituduh melakukan kegiatan spionase maya selama satu dekade atas kontraktor pertahanan, peneliti Covid-19 dan ratusan korban lainnya di seluruh dunia.

Otoritas AS mengatakan Li Xiaoyu dan Dong Jiazhi mencuri piranti lunak desain senjata seukuran terabyite, informasi soal obat, kode sumber perangkat lunak, dan data pribadi dari target yang mencakup para pembangkang dan tokoh oposisi China.

Para penjahat dunia maya itu adalah kontraktor untuk pemerintah Cina, bukan mata-mata penuh, kata pejabat AS seperti dikutip ChannelNewsAsia, Rabu (22/7/2020).

Asisten Jaksa Agung urusan Keamanan Nasional, John Demers mengatakan pada konferensi pers virtual bahwa China "menutup mata terhadap peretas kriminal yang beroperasi di perbatasannya."

"Dengan cara ini, China kini telah mengambil posisi yang sama dengan Rusia, Iran, dan Korea Utara, dalam kelompok negara-negara memalukan yang menyediakan tempat berlindung yang aman bagi para penjahat dunia maya dengan dalih untuk kepentingan negara."

Pesan yang dikirim ke salah satu dari beberapa akun yang terdaftar atas nama Li, alias Orolxy, belum dibalas. Sedangkan nomor kontak untuk Dong juga belum ditemukan.
Kedutaan Besar China di Washington juga belum memberikan komentar meskipun Beijing telah berulang kali membantah peretasan yang ditudingkan pihak Amerika Serikat.

Sebagian besar dakwaan tidak menyebutkan nama perusahaan atau target individu, tetapi Jaksa AS, William Hyslop, yang berbicara bersama Demers, mengatakan ada "ratusan korban di Amerika Serikat dan di seluruh dunia."

Para pejabat tersebut mengatakan penyelidikan itu dipicu oleh adanya para peretas yang membobol jaringan milik Situs Hanford, kompleks nuklir AS yang dinonaktifkan di negara bagian Washington timur pada 2015.

"Li dan Dong adalah salah satu kelompok peretas paling produktif yang kami selidiki," kata Agen Khusus FBI, Raymond Duda, yang mengepalai kantor lembaga itu di Seattle.

Surat dakwaan tertanggal 7 Juli itu baru diumumkan kepada publik kemarin. Li dan Dong adalah kontraktor untuk Kementerian Keamanan Negara China, atau MSS, sebuah agen yang sebanding dengan Central Intelligence Agency (CIA).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat mata-mata
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top