Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah Gelontorkan Stimulus, Defisit Anggaran Inggris Membengkak

Dilansir dari Bloomberg, Kantor Statistik Nasional Inggris mencatat defisit anggaran mencapai 35,5 miliar poundsterling (US$45 miliar) pada Juni.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 Juli 2020  |  21:12 WIB
Warga Inggris di masa pandemi Covid-19. - Bloomberg
Warga Inggris di masa pandemi Covid-19. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Defisit anggaran Inggris melonjak ke rekor tertingginya menyusul menyusul lonjakan biaya untuk mendukung perekonomian melewati krisis virus corona.

Dilansir dari Bloomberg, Kantor Statistik Nasional Inggris mencatat defisit anggaran mencapai 35,5 miliar poundsterling (US$45 miliar) pada Juni dengan pinjaman yang ditarik mencapai 127,9 miliar poundsterling dalam tiga bulan pertama tahun fiskal 2020.

Tingkat utang ini melonjak menjadi 99,6 persen dari produk domestik bruto (PDB), yang tertinggi sejak tahun 1961.

Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak telah menggelontorkan 190 miliar poundsterlig dalam bentuk stimulus dan pemotongan pajak untuk menyelamatkan tenaga kerja dan menjaga bisnis tertap berjalan.

Kantor Tanggung Jawab Anggaran memperkirakan, defisit anggaran hingga akhir tahun ini dapat melebihi 370 miliar poundsterling, jauh di atas proyeksi sebelumnya yang hanya 55 miliar poundsterling.

Dikombinasikan dengan kerusakan yang ditimbulkan oleh resesi terburuk selama setidaknya satu abad, itu berarti defisit yang diperkirakan hanya 55 miliar pound tahun ini sekarang tentu saja akan melebihi 370 miliar pound,

Defisit anggaran pada tahun 2020-2021 diperkirakan mencapai 19 persen dari PDB, yang tertinggi sejak Perang Dunia II dan hampir dua kali lipat defisit setelah krisis keuangan satu dekade lalu.

Jangka panjang

Para ekonom menilai butuh wuktu puluhan tahun untuk menurunkan tingkat utang pemerintah ke tingkat yang lebih berkelanjutan. Namun, meskipun tingkat utang tinggi, tingkat bunga masih lebih terjangkau dari sebelumnya, sebagian berkat program pembelian obligasi Bank of England di pasar sekunder yang telah menurunkan imbal hasil.

Meskipun demikian, kenaikan tampaknya tidak dapat dihindari begitu krisis telah berlalu.

"Pada waktunya, Kementerian Keuangan akan menghadapi tantangan politik yang sulit untuk mengembalikan keuangan publik pada posisi yang berkelanjutan," kata ekonom di lembaga think tank Resolution Foundation Charlie McCurdy.

"Tetapi waktu untuk kenaikan pajak yang tepat adalah ketika pemulihan ekonomi telah dicapai,” lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Gambaran terbaru dari keuangan publik menunjukkan pendapatan pemerintah turun 13 persen dalam periode April-Juni 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pengeluaran melonjak lebih dari 40 persen, didorong oleh peningkatan pengeluaran departemen sebesar 70 persen.

Defisit bulan Juni tetap lebih rendah dari pada bulan April dan Mei. Hal ini mencerminkan berkurangnya dukungan pemerintah karena ekonomi secara bertahap mulai bergerak kembali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris defisit anggaran
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top