Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rumah Vokasi, Ketua Apindo: Kendala Utama Menciptakan Lapangan Kerja

40 persen tenaga kerja diisi tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan SD hingga SMA, dan hanya 12-13 persen lainnya diisi latar belakang pendidikan tinggi.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 15 Juli 2020  |  18:22 WIB
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani (dari kanan) bersama President Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSBSI) Mudhofir, dan Ketua Harian Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Syukur Sarto menjawab pertanyaan wartawan, di Jakarta, Kamis (11/4/2019). - Bisnis/Endang Muchtar
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani (dari kanan) bersama President Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSBSI) Mudhofir, dan Ketua Harian Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Syukur Sarto menjawab pertanyaan wartawan, di Jakarta, Kamis (11/4/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan program Forum Pengarahan Vokasi (Rumah Vokasi) untuk mendorong link and match dunia industri dan dunia vokasi.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, program serupa bukan merupakan hal baru bagi dunia industri, lantaran sudah pernah diinisiasi sebelumnya oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

“Namun, harapannya, dengan program ini kerja sama antara kementerian dan dunia industri makin sempurna,” kata dia, Rabu (15/7/2020).

Rosan menambahkan bahwa saat ini, 40 persen tenaga kerja diisi  tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan SD hingga SMA, dan hanya 12-13 persen lainnya diisi latar belakang pendidikan tinggi. Dengan semakin kuatnya pendidikan vokasi, diharapkan bisa mengisi kesenjangan bagi orang yang ingin bekerja, namun tiadk memiliki kemampuan untuk kuliah.

“Harapannya bisa menjembatani kebutuhan dunia usaha 5 tahun 10 tahun ke depan, sehingga program yang disusun bisa pas dan cocok dengan kebutuhan ke depan. Misalnya menciptakan lapangan-lapangan kerja yang bahkan tahun lalu enggak booming seperti programmer coding misalnya,” imbuh Rosan.

Senada, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan bahwa program vokasi bukanlah hal baru bagi dunia industri. Hanya saja ada kendala penciptaan lapangan kerja, sehingga penyerapan terutama dari dunia vokasi sangat minim.

Hariyadi menyebut sejak 2017 jumlah industri yang menyerap siswa vokasi terus bertambah. Pada 2017 siswa vokasi yang berpartisipasi ada itu 56.700 orang, dengan perusahaan yang mendukung kurang lebih 1.600.

Kemudian, pada 2018 perusahaan yang berpartisipasi menjadi 1.900 dan ada 120.000 siswa vokasi. Selanjutnya pada 2019 ada 2.325 perusahaan pendukung dan 189.000 peserta vokasi, disertai dengan tenaga mentor 1.900 orang.

“Kendala utama itu bukan di vokasinya, tapi penciptaan lapangan kerja, yang terserap hanya kurang dari 15 persen. Kami mohon dukungan menyukseskan UU Cipta Kerja, agar lapangan kerja bisa lebih cepat diciptakan. Ini jadi PR kita bersama untuk menyeimbangkan partisipasi industri dengan sumber daya dari sekolah vokasi,” ungkap Hariyadi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemendikbud apindo vokasi
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top