Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gonjang-ganjing Laut China Selatan, China: Awas Aksi Militer AS

China mengingatkan negara-negara untuk tetap bersikap waspada terhadap kecenderungan aksi militer Washington di Laut China Selatan serta bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas regional.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 Juli 2020  |  10:10 WIB
Aktivitas kapal milik China di sekitar pulau karang Laut China Selatan. - Reuters
Aktivitas kapal milik China di sekitar pulau karang Laut China Selatan. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – China mengingatkan negara-negara untuk tetap bersikap waspada terhadap kecenderungan aksi militer Washington di Laut China Selatan serta bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas regional.

Peringatan tersebut disampaikan Anggota Dewan dan Menteri Luar Negeri Wang Yi dalam suatu konferensi video pada Selasa (14/7/2020) dengan Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin.

“Amerika Serikat terus mengganggu ketenangan di Laut China Selatan dengan mengirim kapal perang dan pesawat terbang canggih untuk menunjukkan kekuatannya di sana,” ujar Wang, dilansir dari China Daily.

Sebelumnya, dalam sebuah penyataan pada Senin (13/7/2020), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa klaim Beijing atas sumber daya lepas pantai di sebagian besar Laut China Selatan sepenuhnya melanggar hukum.

Menurut Wang, pernyataan itu melanggar komitmen Washington untuk tidak memihak dalam sengketa teritorial di Laut China Selatan.

Tindakan tersebut secara sengaja menabur perselisihan antara China dan negara-negara Asia Tenggara serta berpotensi menciptakan konflik antara negara-negara regional dan merusak stabilitas regional.

“Praktik seperti itu hanya akan merusak kredibilitas AS,” kata Wang.

China disebutnya akan terus bekerja dengan Filipina dan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara untuk menangani masalah maritim melalui dialog dan konsultasi.

Setali tiga uang dengan Wang, Menlu Locsin mengatakan sengketa maritim bilateral seharusnya tidak dan tidak akan mempengaruhi persahabatan antara Filipina dan China.

“Filipina ingin menyelesaikan sengketa yang berkaitan dengan Laut China Selatan melalui negosiasi bilateral yang bersahabat dan mempromosikan kerja sama maritim dengan China,” tegas Locsin.

Sementara itu, menanggapi pernyataan Pompeo, juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian mengatakan pada Selasa (14/7/2020) bahwa Beijing tidak pernah berusaha untuk membangun "kerajaan maritim" di Laut China Selatan.

Dia mendesak Washington untuk menghentikan upayanya mengganggu serta menyabot perdamaian dan stabilitas regional.

“AS adalah pembuat onar yang merusak perdamaian dan stabilitas di wilayah Laut China Selatan. Kami mendesak AS untuk berhenti membuat masalah pada masalah Laut China Selatan,” ungkap Zhao.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat laut china selatan
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top