Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Paus Fransiskus Prihatin, Erdogan Ubah Hagia Sophia jadi Masjid

Paus Fransiskus menyatakan keprihatinan mendalam atas keputusan Turki menjadikan museum Hagia Sophia di Istanbul sebagai masjid.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 13 Juli 2020  |  09:15 WIB
Museum Hagia Sophia yang dialihfungsikan menjadi masjid di Turki - Istimewa
Museum Hagia Sophia yang dialihfungsikan menjadi masjid di Turki - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA--Paus Fransiskus menyatakan keprihatinannya atas keputusan Turki menjadikan museum Hagia Sophia di Istanbul sebagai masjid.

Sementara itu, Ankara menyatakan keputusan itu akan mempertahankan hubungan kesetaraan dan saling menghormati di negara itu.

Pernyataan Paus Fransiskus tersebut merupakan reaksi pertama Vatikan terhadap keputusan Turki mengubah monumen era Bizantium kembali menjadi masjid. Langkah Turki itu telah menuai kritik kalangan internasional.

"Saya memikirkan Hagia Sophia dan saya sangat sedih," kata Paus Fransiskus menjelang akhir khotbah tengah hari di Lapangan Santo Petrus, Mingu, seperti dikutip Aljazeera.com, Senin (13/7/2020).

Dewan Gereja-Gereja Sedunia telah meminta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk mengubah keputusannya.

Patriark Bartholomew, pemimpin spiritual Kristen Ortodoks sedunia yang berbasis di Istanbul, menyebut tindakan Turki sebagai langkah yang mengecewakan.

Erdogan, Sabtu lalu, menolak kecaman internasional atas keputusan mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid.

"Mereka yang tidak mengambil langkah melawan Islamofobia di negara mereka sendiri menyerang keinginan Turki untuk menggunakan hak-hak kedaulatannya," kata Erdogan pada video konferensi, Sabtu.

Hagia Sophia dibangun 1.500 tahun lalu sebagai katedral Kristen Ortodoks.

Bangunan itu diubah menjadi masjid setelah Ottoman menaklukkan Konstantinopel (sekarang Istanbul) pada 1453. Tapi, pemerintah sekuler Turki pada 1934 memutuskan untuk menjadikannya museum.

Erdogan pada Jumat secara resmi mengubah bangunan museum itu kembali menjadi masjid dan menyatakan bangunan itu terbuka untuk ibadah umat Islam.

Hal itu disampaikan Erdogan beberapa jam setelah pengadilan tinggi membatalkan keputusan tahun 1934.

Uskup Hilarion, yang mengepalai departemen Gereja Ortodoks Rusia untuk hubungan gereja eksternal, menggambarkann putusaan itu sebagai "pukulan bagi Kekristenan global".

Dewan Gereja Dunia, yang mewakili 350 gereja Kristen, menyatakan telah menulis surat kepada Erdogan untuk mengungkapkan "kesedihan dan kecemasan" mereka.

Kepala Gereja Ortodoks Yunani Uskup Agung Ieronymos kemarin mengecam apa yang dia sebut sebagai "instrumentalisasi agama untuk tujuan partisan atau geopolitik".

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

turki paus fransiskus

Sumber : Aljazeera.com

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top