Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

65 Pengungsi Rohingya di Aceh Didaftarkan Jadi Pengungsi Resmi

UNHCR sudah memulai proses registrasi pengungsi sejak 5 Juli 2020. Proses pendaftaran diharapkan selesai pada 12 Juli 2020.
Warga mengevakuasi pengungsi etnis Rohingya dari kapal di pesisir pantai Lancok, Aceh Utara, Aceh, pada Kamis (25/6/2020)./Antara-Rahmad
Warga mengevakuasi pengungsi etnis Rohingya dari kapal di pesisir pantai Lancok, Aceh Utara, Aceh, pada Kamis (25/6/2020)./Antara-Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA - Sebanyak 65 dari 99 migran etnis Rohingya yang berada di Lhokseumawe, Aceh sudah didaftarkan menjadi pengungsi resmi oleh Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR).

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan UNHCR sudah memulai proses registrasi pengungsi sejak 5 Juli 2020. Proses pendaftaran diharapkan selesai pada 12 Juli 2020.

Pendaftaran yang dimaksud adalah untuk mendapatkan kartu UNHCR yang berguna untuk mendapatkan hak perlindungan resmi dari dunia internasional.

Dengan kartu tersebut, pengungsi akan terhindar dari risiko dipenjara, diperbolehkannya mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan layanan esensial lainnya.

"65 dari 99 migran sudah didaftarkan ke UNHCR Indonesia. Akhir pekan ini rencananya akan dipindahkan ke gedung Balai Latihan Kerja Lhokseumawe," katanya saat konferensi pers, Kamis (9/7/2020).

Pada pekan lalu Kemlu sudah mengirimkan timnya untuk melakukan koordinasi dengan pemda, UNHCR, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) terkait penanganan migran Rohingya.

Retno juga melaporkan terdapat 25 anak-anak berumur sekitar 5 -17 tahun yang ikut rombongan ini tanpa keluarganya. Untuk itu, Palang Merah Indonesia (PMI) bersama IOM ikut membantu pengungsi terhubung dengan keluarganya.

Adapun dua pengungsi yang sempat dirawat di rumah sakit sudah sembuh dan telah kembali ke persinggahan.

"Layanan kesehatan telah diberikan kepada para migran yang sakit ringan. RS Cut Meutia Lhokseumawe juga siap menangani migran yang mengalami kondisi serius," tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada 24 Juni 2020, nelayan Indonesia menemukan 99 pengungsi Rohingya di Pulau Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara.

Atas dasar kemanusiaan, Indonesia menerima pengungsi tersebut untuk sementara dengan memberikan bantuan pangan dan tempat singgah.

Retno mengungkapkan kecurigaan bahwa pengungsi ini merupakan korban penyelundupan manusia.

Untuk itu, dalam berbagai kesempatan skala internasional, Retno meminta perhatian dunia untuk mendorong keamanan di Rakhine State. Menurutnya, prioritas utama bagi para migran adalah mengembalikan ke rumah mereka dengan catatan, kondisi negaranya aman.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nindya Aldila
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper