Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS Borong Persediaan Remdesivir, Inggris dan Eropa Tak Kebagian

Amerika Serikat telah membeli hampir seluruh persediaan obat virus corona atau covid-19 untuk kebutuhan tiga bulan ke depan, tanpa menyisakan satu pun untuk Inggris, Eropa, dan negara besar lainnya.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 01 Juli 2020  |  16:37 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat telah membeli hampir seluruh persediaan obat virus Corona atau covid-19 untuk kebutuhan tiga bulan ke depan, tanpa menyisakan satu pun untuk Inggris, Eropa, dan negara besar lainnya.

Para Ahli khawatir dengan tindakan sepihak AS tentang remdesivir dan implikasi yang lebih luas, misalnya saat vaksin tersedia. Pemerintahan Trump telah menunjukkan bahwa dia siap untuk mengalahkan semua negara lain untuk mengamankan pasokan medis yang dibutuhkan AS.

“Mereka mendapatkan akses ke sebagian besar pasokan obat [dari remdesivir], jadi tidak ada apa pun untuk Eropa,” kata Andrew Hill, peneliti senior yang berkunjung di Liverpool University seperti dikutip The Guardian Rabu (1/7/2020).

Remdesivir adalah obat pertama yang disetujui oleh otoritas lisensi di AS untuk mengobati Covid-19, dibuat oleh Gilead dan telah terbukti membantu orang pulih lebih cepat dari penyakit ini.

Sebanyak 140.000 dosis pertama, dipasok ke uji coba obat di seluruh dunia. Pemerintahan Trump kini telah membeli lebih dari 500.000 dosis, yang merupakan seluruh produksi Gilead untuk bulan Juli dan 90 persen pada bulan Agustus dan September.

"Presiden Trump telah mencapai kesepakatan luar biasa untuk memastikan Amerika memiliki akses ke terapi terotorisasi pertama untuk Covid-19," kata sekretaris layanan kesehatan dan kemanusiaan AS, Alex Azar.

Obat itu sebelumnya diproduksi untuk Ebola tetapi gagal bekerja, dan dipatenkan untuk Gilead, yang berarti tidak ada perusahaan lain di negara-negara kaya yang bisa membuatnya. Biayanya sekitar US$3.200 per perawatan enam dosis,

Anthony Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, mengatakan kepada Senat bahwa AS berjalan mundur.

"Kita menuju ke arah yang salah," kata Fauci. Pekan lalu AS melihat catatan harian baru 40.000 kasus virus Corona baru dalam satu hari. Saya tidak akan terkejut jika kita mencapai 100.000 sehari jika ini tidak berbalik," katanya.

Pada hari Senin, gubernur Arizona memerintahkan bar, bioskop, pusat kebugaran dan taman air ditutup selama sebulan, beberapa minggu setelah mereka dibuka kembali. Texas, Florida, dan California, semuanya mengalami peningkatan kasus, juga menerapkan kembali pembatasan.

Membeli pasokan remdesivir dunia bukan hanya reaksi terhadap meningkatnya penyebaran dan kematian. AS selama ini mengambil sikap 'Amerika duluan' di setiap pandemi global.

Pada Mei, pabrikan Prancis Sanofi mengatakan AS akan mendapatkan akses pertama ke vaksin Covid-19 jika tesnya berhasil.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau memperingatkan akan ada konsekuensi negatif yang tidak diinginkan jika AS terus mengalahkan sekutu-sekutunya.

Pemerintahan Trump juga meminta Undang-Undang Produksi Pertahanan untuk memblokir beberapa barang medis yang dibuat di AS agar tidak dikirim ke luar negeri. Namun, tampaknya tidak ada yang mencegah AS.

Obat itu telah disambut dengan penuh semangat selama lima bulan terakhir,namun tidak ada mekanisme untuk memastikan pasokan di luar AS.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksin Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top