Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

India Blokir Aplikasi Jadi Serangan Lunak ke China

Bintang TikTok menghadapi masa depan yang tidak menentu setelah larangan aplikasi. Pemblokiran ini adalah serangan lunak ke China atas pelanggaran perbatasan yang diklaim dan konflik kekerasan baru-baru
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 01 Juli 2020  |  12:43 WIB
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creator's Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019). - Bloomberg/Shiho Fukada
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creator's Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019). - Bloomberg/Shiho Fukada

Bisnis.com, JAKARTA-- Larangan India terhadap 59 aplikasi China termasuk TikTok dan WeChat membuat jutaan pengguna terkejut dan kecewa.

Pemerintah di Delhi mengatakan aplikasi itu merugikan kedaulatan dan integritas India, pertahanan India, keamanan negara serta ketertiban umum.

TikTok membantah berbagi data dengan pemerintah China. Beijing mengatakan pihaknya sangat prihatin tentang larangan itu.Para ahli menggambarkan larangan itu sebagai langkah politik di tengah meningkatnya ketegangan bilateral.

Bintang TikTok menghadapi masa depan yang tidak menentu setelah larangan aplikasi. Sentimen anti-China telah tinggi di India sejak bentrokan awal bulan Juni di perbatasan yang disengketakan antara dua negara.

Kendati, China tidak memberikan rincian apakah ada korban dari warga negara China. Pertempuran terjadi di wilayah Himalaya di Ladakh.

Panggilan untuk memboikot barang-barang China segera muncul, dan pemerintah mengeluarkan arahan untuk membatalkan atau membatasi kontrak China dengan perusahaan sektor publik.

Namun larangan aplikasi mengejutkan banyak pihak. Daftar ini mencakup platform microblogging Weibo, game strategi Clash of Kings, UC Browser Alibaba, dan aplikasi e-commerce Club Factory dan Shein.

Pengembang aplikasi mengatakan mereka tengah melakukan pembicaraan dengan pemerintah India. Sementara itu, Beijing telah meminta India untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.

"Kami ingin menekankan bahwa pemerintah China selalu meminta bisnis China untuk mematuhi peraturan dan hukum lokal dan internasional. Pemerintah India memiliki tanggung jawab untuk menegakkan hak-hak hukum investor internasional termasuk yang Cina," kata juru bicara kementerian luar negeri China Zhao Lijian dikutip BBC Rabu (1/7/2020).

Kementerian Teknologi Informasi India mengatakan larangan itu adalah hasil dari banyak keluhan dari berbagai sumber tentang aplikasi yang mencuri dan secara diam-diam mentransmisikan data pengguna dengan cara yang tidak sah.

Banyak aplikasi China telah dikaitkan dengan kontroversi mengenai privasi data, dan telah dituduh berbagi informasi sensitif dengan pemerintah China. Para senator AS bahkan menyerukan penyelidikan terhadap TikTok, yang dengan keras menolak klaim tersebut.

Ini bukan pertama kalinya aplikasi China dilarang di India. Pada 2017, UC Browser Alibaba berada di bawah pengawasan karena diduga membocorkan data seluler pengguna India.

Tahun itu, kementerian pertahanan India meminta semua personel dan perwira bersenjata untuk mencopot 42 aplikasi China yang diklasifikasikan sebagai "spyware".

Namun, beberapa orang percaya bahwa waktu larangan itu merupakan respons terhadap peristiwa di perbatasan.
"Ini adalah langkah murni politik," Nikhil Pahwa, editor MediaNama, pengawas media.

"Saya tidak berpikir itu akan mempengaruhi aplikasi, mungkin jumlah pengguna [akan turun] tetapi hanya akan berdampak kecil pada pendapatan [mereka]," kata Pahwa.

Larangan ini telah memengaruhi jutaan pengguna di seluruh India karena tidak dapat menggunakan aplikasi.

Pakar kebijakan teknologi Prasanto K Roy mengatakan seperti yang ditunjukkan China, pemerintah memang dapat memblokir aplikasi, tidak hanya menghapusnya dari toko aplikasi,namun tidak dapat menginstal ulang atau memutakhirkan pemasangan.

Dia menambahkan bahwa meskipun ada cara untuk mengatasi larangan itu, itu akan secara efektif membunuh aplikasi populer.

"Jika lebih dari 95% dari 100 juta pengguna keluar, itu membunuh 'efek jaringan' dan sebagian besar konten, dan karenanya aplikasi seperti TikTok tidak lagi menarik."

India adalah pasar asing terbesar TikTok, dengan sekitar 120 juta pengguna aktif. TikTok memungkinkan pengguna untuk mempublikasikan dan berbagi video pendek.

DRoy mengatakan larangan itu akan merugikan semua orang India yang menghasilkan uang dan koneksi bisnis melalui aplikasi ini.

Dia setuju bahwa ada kekhawatiran tentang bagaimana aplikasi memperlakukan data pengguna, tetapi dia mengatakan jawabannya harus dalam bentuk undang-undang privasi, yang tidak dimiliki India.

"Ini adalah serangan lunak ke China, pembayaran atas pelanggaran perbatasan yang diklaim dan konflik kekerasan baru-baru ini," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

TikTok
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top