Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Covid-19 Diramal Bunuh 180.000 Orang di AS

Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) diprediksi telah akan membunuh 180.000 orang di Amerika Serikat pada Oktober 2020.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 25 Juni 2020  |  07:54 WIB
Petugas medis bersiap memeriksa masyarakat di Michigan Health Professionals Covid-19 melalui fasilitas pengujian di Millennium Medical Group di Farmington Hills, Michigan, Amerika Serikat, Selasa (7/4/2020). Menurut data departemen kesehatan kota menunjukkan jumlah kasus virus corona yang dikonfirmasi dari Detroit terus meningkat lebih dari 5.500 pasien dan 221 diantaranya meninggal. Bloomberg - Emily Elconin
Petugas medis bersiap memeriksa masyarakat di Michigan Health Professionals Covid-19 melalui fasilitas pengujian di Millennium Medical Group di Farmington Hills, Michigan, Amerika Serikat, Selasa (7/4/2020). Menurut data departemen kesehatan kota menunjukkan jumlah kasus virus corona yang dikonfirmasi dari Detroit terus meningkat lebih dari 5.500 pasien dan 221 diantaranya meninggal. Bloomberg - Emily Elconin

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi virus corona penyebab Covid-19 diprediksi akan membunuh 180.000 orang di Amerika Serikat pada Oktober 2020.

Estimasi baru angka kematian yang dibuat oleh Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington itu sebenarnya lebih rendah sekitar 10 persen dari proyeksi sebelumnya.

Ada ekspektasi bahwa wabah akan mulai meningkat kembali pada akhir Agustus dan semakin meningkat pada September hingga mencapai 179.106 korban jiwa pada 1 Oktober.

Namun, setelah AS memberlakukan lockdown selama berbulan-bulan tanpa strategi nasional yang terpadu, lebih dari 121.000 orang di negeri ini telah meninggal dunia akibat Covid-19.

Menurut data yang dihimpun oleh Johns Hopkins University dan Bloomberg News, angka kematian AS akibat Covid-19 telah mencapai 121.662 orang per Rabu (24/6/2020).

California, Florida, dan Texas masing-masing mencetak rekor kenaikan kasus baru pada Rabu, sementara Arizona mencatat puncak jumlah rawat inap.

Pemerintahan Presiden Donald Trump menyerahkan sebagian besar keputusan soal kebijakan kepada masing-masing negara bagian.

Di California, yang lebih awal memberlakukan aturan tinggal di rumah di seluruh negara bagian ini pada Maret, Gubernur Gavin Newsom mendesak warga untuk kembali berkomitmen memperlambat penyebaran kasus baru.

California telah mencatat rekor jumlah infeksi dan rawat inap yang dikonfirmasi pekan ini, karena semakin banyak bisnis kembali dibuka dan demonstrasi sosial berlanjut.

“Kita tidak dapat terus melakukan apa yang telah kita lakukan selama beberapa pekan terakhir,” ujar Newsom dalam konferensi pers pada Rabu (24/6/2020), setelah negara bagian ini melaporkan lebih dari 7.100 kasus baru.

Di Florida, para pemimpin negara bagian ini ramai-ramai memerintahkan penggunaan masker dan menindak bar-bar dan klub malam tempat virus ini menyebar.

Sementara itu, Texas mencatat hari terburuknya sejauh ini untuk kasus-kasus baru, dengan melonjak 5.551 menjadi 125.921, menurut departemen kesehatan negara bagian ini.

Peningkatan sebesar 4,6 persen secara harian ini melebihi rata-rata kenaikan dalam tujuh hari sebesar 3,7 persen.

“Infrastruktur kami kewalahan," ungkap Direktur layanan medis darurat Houston David Persse dalam suatu konferensi pers pada Rabu (24/6/2020), dikutip dari Bloomberg.

Permintaan tempat tidur perawatan intensif di wilayah tersebut melonjak 10 persen dalam satu hari. Di Texas Medical Center, sekelompok sistem rumah sakit yang bersama-sama mengoperasikan kompleks medis terbesar di dunia, jumlah kasus perawatan intensif melonjak menjadi 1.298 dalam sistem dengan kapasitas operasi normal 1.330.

Perkembangan mengkhawatirkan ini menjadi perhatian pasar. Indeks saham S&P 500 jatuh 2,6 persen pada perdagangan Rabu, seiring dengan pelemahan saham perusahaan energi dan maskapai penerbangan.

Kepala penyakit menular di Baylor College of Medicine, Texas, Thomas Giordano, membandingkan wabah itu dengan api yang dimulai di sudut utara AS dan perlahan-lahan menyebar ke selatan.

“Ketika orang-orang bermunculan dan bisnis mulai dibuka, itu seperti oksigen untuk bara api tersebut dan memicu kebakaran. [Bara api] sudah terbakar di Texas dan tempat-tempat lain di wilayah Selatan tanpa perubahan kebijakan. Saya khawatir ini akan membesar,” katanya.

Lonjakan kasus ini terjadi ketika negara-negara bagian di seluruh AS telah mencabut atau mengurangi perintah lockdown, sebagian besar karena keinginan Presiden Donald Trump.

Profesor ilmu metrik kesehatan di Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington Ali Mokdad berpendapat beberapa negara bagian harus mempertimbangkan langkahnya kembali.

Negara-negara bagian dengan kasus-kasus yang melonjak harus mempertimbangkan perlunya penggunaan masker dan menutup bisnis tertentu.

Dia mengatakan penutupan pre-emptive bisa ditetapkan untuk periode yang ditentukan guna memberi kepastian bisnis lebih dari penutupan sebelumnya.

"Saya tidak bisa melihat kemungkinan salah satu dari negara bagian dengan peningkatan [kasus baru] seperti yang Anda semua lihat saat ini tidak mengurangi intensitasnya,” tutur Mokdad.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top