Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Donald Trump: Kesepakatan Perdagangan AS-China 'Sepenuhnya Utuh'

Donald Trump merespons pernyataan Peter Navarro sebelumnya yang menyebut kesepakatan perdagangan AS-China berakhir.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 23 Juni 2020  |  11:22 WIB
President Donald Trump saat berkunjung ke Honeywell International Inc. produsen masker N95 di Phoenix pada 5 Mei 2020. - Bloomberg/Brendan
President Donald Trump saat berkunjung ke Honeywell International Inc. produsen masker N95 di Phoenix pada 5 Mei 2020. - Bloomberg/Brendan

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perjanjian perdagangan fase satu dengan China tidak berubah sama sekali, menyusul pernyataan penasihat perdagangan Peter Navarro soal kesepakatan tersebut.

“Kesepakatan Perdagangan China sepenuhnya utuh. Semoga mereka akan terus memenuhi ketentuan dalam Perjanjian! " ungkap Trump dalam sebuah posting dii Twitter, Senin (22/6/2020).

Sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (22/6/2020) waktu setempat, Navarro mengatakan Presiden Donald Trump telah memutuskan untuk mengakhiri kesepakatan perdagangan dengan China ketika para pejabat intelijen semakin yakin bahwa pandemi virus corona (Covid-19) berasal dari laboratorium di kota Wuhan.

“Sudah berakhir. Titik baliknya adalah mereka [China] datang pada 15 Januari untuk menandatangani perjanjian perdagangan tersebut dan itu adalah dua bulan penuh setelah mereka tahu virusnya sudah muncul,” ungkap Navarro.

Navarro segera mengklarifikasi pernyataannya soal kesepakatan dagang AS-China yang seketika menyulut reaksi pasar.

Menurut Navarro, komentarnya itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kesepakatan perdagangan Fase I yang terus berlangsung hingga kini.

“Komentar saya diterima di luar konteks. Komentar itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesepakatan perdagangan Fase I, yang terus berlangsung,” ujar Navarro, seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (23/6/2020).

Reaksi pasar dan respons Trump yang cepat menunjukkan sensitivitas terhadap perjanjian perdagangan pada saat ekonomi global sedang dihantam oleh virus corona dan dihadapkan dengan meningkatnya kekhawatiran atas hubungan AS-China.

Kedua negara terus saling balas dalam perang dingin soal pandemi virus Corona, Hong Kong, hak asasi manusia, dan teknologi.

Kontrak pada Indeks S&P 500 melemah hingga 1,6 persen sebelum mampu sedikit pulih, sedangkan yuan offshore melemah 0,4 persen setelah beberapa media melaporkan pernyataan tersebut.

Pejabat China bersikeras bahwa mereka bermaksud untuk tetap berpegang teguh pada kesepakatan dan mewujudkan peningkatan impor dari AS dengan total US$200 miliar selama dua tahun.

Tekanan ekonomi yang disebabkan oleh virus Corona membuat AS meragukan target dari China tersebut, namun Washington menawarkan fleksibilitas.

Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer mengatakan pekan lalu bahwa perjanjian fase satu dapat ditegakkan dan AS sepenuhnya bermaksud terus melaksanakannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kerja sama perdagangan perang dagang AS vs China

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top