Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

HUT DKI Jakarta dan Kabar Baik Perkembangan Statistik Pandemi Covid-19

Ulang tahun DKI Jakarta ke-493 tidak akan semeriah tahun-tahun sebelumnya.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  22:46 WIB
Peserta Parade Jakarnaval 2015 melakukan atraksi dalam menyambut ulang tahun Jakarta ke-488 di Monas, Jakarta, Minggu (7/6/2015). Jakarnaval kali ini dilaksanakan lebih awal dari Hari Ulang Tahun DKI Jakarta tanggal 22 Juni 2015, untuk menghormati bulan suci Ramadan yang akan mulai pada tanggal 18 Juni 2015. - Antara/Rosa Panggabean
Peserta Parade Jakarnaval 2015 melakukan atraksi dalam menyambut ulang tahun Jakarta ke-488 di Monas, Jakarta, Minggu (7/6/2015). Jakarnaval kali ini dilaksanakan lebih awal dari Hari Ulang Tahun DKI Jakarta tanggal 22 Juni 2015, untuk menghormati bulan suci Ramadan yang akan mulai pada tanggal 18 Juni 2015. - Antara/Rosa Panggabean

Bisnis.com, JAKARTA - Rasanya ada yang hilang di hari ulang tahun ke-493 DKI Jakarta, karena tak semeriah tahun-tahun sebelumnya akibat pandemi Covid-19. Namun, di hari ini, setidaknya satu kabar baik terungkap, bahwa virus Corona (Covid-19) bukan lagi ancaman di Ibu Kota.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan bahwa laporan terbaru tim epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) mengungkap bahwa era Pembatasan Sosial Berskala Besar masa transisi (PSBBT) Jakarta bisa diteruskan hingga akhir bulan.

Artinya, kebijakan rem darurat (emergency brake policy) untuk mengembalikan lagi Ibu Kota ke era pembatasan ketat belum diperlukan. Sementara evaluasi PSBBT Fase I apakah diteruskan atau berlanjut ke Fase II akan digelar pada akhir Juni 2020.

"Nah, ke depan bersamaan dengan proses trasnisi ini, kita akan terus fasilitasi, baik penumbuhan usaha mikro dan menengah sampai besar, baik sektor jasa sampai kontruksi, supaya segera bisa bangkit berkegiatan kembali. Tapi itu semua dengan pertimbangkan kondisi wabah," ujar Anies, Senin (22/6/2020).

Anies percaya pengalaman masyarakat dan dunia usaha terhadap era pembatasan, telah menumbuhkan kreativitas baru, mengimporvisasi cara bekerjanya yang lebih efektif, serta mempertahankan marwah dan peran Jakarta sebagai pusat perekonomian.

Bagaimana perkembangan kabar baik ini apabila dilihat dari angka-angka statistik perkembangan Covid-19 di DKI Jakarta? Berikut Bisnis rangkum dari laman resmi corona.jakarta.go.id dan keterangan resmi Pemprov DKI Jakarta:

Angka Reproduksi Efektif

Anies mengungkap bahwa angka reproduksi efektif (Rt) DKI Jakarta terbilang aman, walaupun sebelumnya Pemprov DKI Jakarta mengkhawatirkan adanya lonjakan kasus akibat mulai dibukanya kembali beberapa aktivitas masyarakat.

"Bahkan angka R kita berada di posisi 0,98 pada saat kita memulai transisi 0,99. Artinya masyarakat mulai berkegiatan, dan kondisi wabah masih tetap terkendali. Mudah-mudahan masyarakat, semua, makin menyadari untuk disiplin menggunakan masker, jaga jarak, tidak berkerumun, cuci tangan rutin, dengan begitu kita bisa lebih cepat lagi mengendalikan wabah," jelasnya.

Seperti diketahui, Rt merupakan indikator di ranah epidemiologi untuk menentukan apakah suatu daerah dinyatakan aman untuk beraktivitas dengan pembatasan minimal.

Angka Rt merupakan tingkat orang yang tertular dari satu orang positif Covid-19. Sebagai contoh, apabila angka Rt = 2, berarti satu pasien berpotensi menulari rata-rata dua orang, Rt = 3 berarti satu pasien berpotensi menulari rata-rata tiga orang, dan seterusnya. Artinya, angka reproduksi efektif ideal berada di bawah 1.

Namun, dalam laman www.thebonza.com milik perusahaan analisis big data Bonza Teknologi Indonesia, DKI Jakarta kini memiliki angka 1,15 per 22 Juni 2020.

Ketika memutuskan untuk menerapkan PSBBT, Anies mengungkap bahwa Rt DKI Jakarta pun berada di angka 0,99. Sementara selama PSBBT digelar, angka Rt Jakarta versi Bonza berturut-turut:

5 Juni 2020 = 1,00

6 Juni 2020 = 1,09

7 Juni 2020 = 1,17

8 Juni 2020 = 1,22

9 Juni 2020 = 1,24

10 Juni 2020 = 1,19

11 Juni 2020 = 1,12

12 Juni 2020 = 1,07

13 Juni 2020 = 1,01

14 Juni 2020 = 0,99

15 Juni 2020 = 0,99

16 Juni 2020 = 1,04

17 Juni 2020 = 1,08

18 Juni 2020 = 1,11

19 Juni 2020 = 1,14

20 Juni 2020 = 1,16

21 Juni 2020 = 1,15

22 Juni 2020 = 1,15


Penambahan Kasus Harian

Pertambahan kasus setiap hari di DKI Jakarta memang tampak mengalami peningkatan karena mencatatkan angka rata-rata di atas 100 kasus.

Bahkan, Jakarta justru memecahkan rekor kasus harian di era PSBBT, tepatnya Selasa (9/6/2020) dengan penambahan kasus harian mencapai 234 kasus. Angka ini mengalahkan rekor sebelumnya yaitu 223 kasus yang tercatat ada pada 16 April 2020.

Namun demikian, Anies menjelaskan bahwa jumlah kasus positif ini tampak meningkat karena Pemprov DKI active case finding.

Adapun active case finding merupakan upaya penyediaan 2.230 kuota pemeriksaan tes PCR per hari oleh Puskesmas Kecamatan. Jajaran diminta mengambil sampel di tempat potensial Covid-19 di luar contact tracing dan follow up pengobatan.

Kuota per wilayah dibagi untuk Jakarta Pusat sebanyak 330 sampel, Jakarta Utara 340 sampel, Jakarta Barat 470 sampel, Jakarta Selatan 540 sampel, dan Jakarta Timur 550 sampel.

"Kalau dahulu yang kita lakukan banyak pada pemeriksaan terhadap yang punya gejala, sekarang kita melakukan tracing secara aktif lalu testing, sehingga jumlah yang dites meningkat, tetapi positivity rate-nya pun masih di bawah 10 persen," jelas Anies.

Berikut tren kasus harian baru di Jakarta selama PSBBT dari laman corona.jakarta.go.id:

5 Juni 2020 = 84 kasus

6 Juni 2020 = 102 kasus

7 Juni 2020 = 120 kasus

8 Juni 2020 = 91 kasus

9 Juni 2020 = 239 kasus

10 Juni 2020 = 147 kasus

11 Juni 2020 = 129 kasus

12 Juni 2020 = 76 kasus

13 Juni 2020 = 120 kasus

14 Juni 2020 = 115 kasus

15 Juni 2020 = 105 kasus

16 Juni 2020 = 124 kasus

17 Juni 2020 = 117 kasus

18 Juni 2020 = 176 kasus

19 Juni 2020 = 140 kasus

20 Juni 2020 = 178 kasus

21 Juni 2020 = 127 kasus

22 Juni 2020 = 127 kasus


Kapasitas Tes

Masih soal active case finding, memang tampak bahwa beberapa hari terakhir ini DKI Jakarta menggenjot kapasitas tes. Tak ayal, Jakarta terbilang telah memiliki kapasitas tes laboratorium yang cukup sudah melebihi standar WHO mensyaratkan jumlah tes per 1 juta penduduk bisa mencapai 3.500 jika hendak melakukan pelonggaran PSBB.

"WHO mensyaratkan, apabila kita mengalami transisi maka positivity ratenya Harus di bawah 10 persen. Jakarta selama sepuluh hari terakhir rata-rata lima persen. Jadi kondisi kita masih aman tapi jangan karena merasa aman, lalu kita rileks. Ini harus tetap waspada, wabahnya belum selesai, kedisiplinan masih harus dilakukan," tambah Anies.

Berikut tren pembuktian test untuk orang terduga Covid-19 baru dan spesimen yang dites di DKI Jakarta selama PSBBT beserta positivity rate-nya (persen):

5 Juni 2020 =

1.052 orang (9,7 persen) /

4.065 spesimen (8,1 persen)


6 Juni 2020 =

1.831 orang (8,7 persen) /

4.680 spesimen (7,9 persen)


7 Juni 2020 =

1.920 orang (5 persen) /

2.577 spesimen (6,3 persen)


8 Juni 2020 =

1.762 orang (11 persen) /

3.807 spesimen (8,2 persen)


9 Juni 2020 =

2.898 orang (6,5 persen) /

4.879 spesimen (6,9 persen)


10 Juni 2020 =

3.684 orang (3,5 persen) /

5.763 spesimen (6,6 persen)


11 Juni 2020 =

1.387 orang (5,5 persen) /

3.987 spesimen (8 persen)


12 Juni 2020 =

2.282 orang (5,3 persen) /

4.834 spesimen (9,3 persen)


13 Juni 2020 =

3.308 orang (3,5 persen) /

7.071 spesimen (6,7 persen)


14 Juni 2020 =

1.693 orang (6,2 persen) /

2.636 spesimen (7,4 persen)


15 Juni 2020 =

2.823 orang (3,3 persen) /

6.225 spesimen (4,7 persen)


16 Juni 2020 =

2.872 orang (5,1 persen) /

6.297 spesimen (6,8 persen)


17 Juni 2020 =

3.739 orang (4,7 persen) /

5.853 spesimen (7,2 persen)


18 Juni 2020 =

3.195 orang (4,4 persen) /

5.633 spesimen (5,7 persen)


19 Juni 2020 =

3.578 orang (5 persen) /

6.141 spesimen (5,8 persen)


20 Juni 2020 =

2.791 orang (4,6 persen) /

3.619 spesimen (7,8 persen)


21 Juni 2020 =

2.635 orang (4,8 persen) /

3.231 spesimen (6,6 persen)


Kapasitas RS


Menurut standar WHO, suatu daerah bisa mulai melakukan pelonggaran apabila tingkat okupansi RS ini telah berada di bawah 60 persen. Hal ini, karena sisa kapasitas RS di suatu daerah harus cukup pula untuk melayani pasien di luar Covid-19.

Anies menjelaskan bahwa tidak ada lonjakan kasus yang datang ke rumah sakit. Trennya justru menurun. Sementara infrastruktur kesehatan dan tenaga kesehatannya terus diperbanyak sehingga tingkat okupansi bisa ditekan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Widyastuti sebelumnya menjelaskan bahwa kapasitas infrastruktur dari 67 RS rujukan Covid-19 di wilayah DKI Jakarta telah mencapai 4.556 tempat tidur dan 659 ICU.

Berikut tren jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di RS setiap harinya. Berikut perinciannya selama PSBBT:

5 Juni 2020 = 1.633 pasien

6 Juni 2020 = 1.635 pasien

7 Juni 2020 = 1.445 pasien

8 Juni 2020 = 1.448 pasien

9 Juni 2020 = 1.442 pasien

10 Juni 2020 = 1.427 pasien

11 Juni 2020 = 1.446 pasien

12 Juni 2020 = 1.424 pasien

13 Juni 2020 = 1.419 pasien

14 Juni 2020 = 1.368 pasien

15 Juni 2020 = 1.390 pasien

16 Juni 2020 = 1.416 pasien

17 Juni 2020 = 1.402 pasien

18 Juni 2020 = 1.377 pasien

19 Juni 2020 = 1.382 pasien

20 Juni 2020 = 1.340 pasien

21 Juni 2020 = 1.287 pasien

22 Juni 2020 = 1.310 pasien

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jakarta dki jakarta ulang tahun Virus Corona Features covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top