Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Suku Bunga Negatif Minim Faedah Bagi Pasar Saham Singapura

Kendati penurunan suku bunga pada umumnya dipandang baik bagi pasar saham, manfaat penurunan suku bunga di Singapura menuju teritori negatif masih tidak pasti.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  13:23 WIB
Tampak depan Gedung Monetary Authority of Singapore - Bloomberg/Ore Huiying
Tampak depan Gedung Monetary Authority of Singapore - Bloomberg/Ore Huiying

Bisnis.com, JAKARTA – Kendati penurunan suku bunga pada umumnya dipandang baik bagi pasar saham, manfaat penurunan suku bunga di Singapura menuju teritori negatif masih dirasa tidak pasti.

Pada Mei, suku bunga acuan overnight Singapura turun menjadi kurang dua basis poin dari level nol atau di ambang zona negatif. Sementara itu, swap offer rate (SOR) 1 bulan berubah negatif untuk pertama kalinya dalam hampir sembilan tahun.

Namun, daya tarik dari pasar saham Singapura senilai US$370 miliar yang didorong oleh suku bunga di bawah nol persen atau sub-zero dibayangi oleh implikasi negatifnya terhadap ekonomi dan sistem keuangan.

Produk domestik bruto (PDB) Singapura diperkirakan akan terkontraksi 4 persen hingga 7 persen tahun ini, kontraksi terburuknya sejak kemerdekaan pada tahun 1965, karena imbas pandemi virus corona (Covid-19) terhadap ekonominya yang bergantung pada perdagangan.

Penurunan suku bunga terjadi ketika Otoritas Moneter Singapura (MAS) berjanji untuk menyediakan likuiditas keuangan yang cukup, sementara pemerintah telah mengerahkan stimulus sebesar S$92,9 miliar (US$66 miliar) sejauh ini.

“Turunnya suku bunga dan yield obligasi negara berarti saham akan tampak lebih menarik dibandingkan obligasi,” ujar Kepala Strategi Investasi Bank of Singapore Ltd. Eli Lee, seperti dikutip dari Bloomberg.

“Tapi, seperti yang telah kita pelajari dari Jepang dan Eropa, suku bunga ultra-rendah biasanya dihasilkan dari upaya-upaya kebijakan untuk memerangi tekanan deflasi dan tekanan ekonomi,” tambahnya.

Sementara itu, meski suku bunga sub-zero telah menjadi realita di Eropa dan Jepang selama bertahun-tahun, bank sentral Federal Reserve AS secara konsisten menentang suku bunga negatif karena ketidakpastian yang ditimbulkannya dan potensi kerusakan pada sistem keuangan.

Sebagian investor di Singapura juga khawatir bahwa langkah-langkah yang diambil di negara lain mungkin tidak akan berhasil untuk diterapkan di negara kepulauan kecil itu.

“Suku bunga negatif akan sangat merugikan di Singapura mengingat pasar saham negara itu memiliki eksposur yang tinggi terhadap finansial,” tutur Head of Dynamic Markets di AMP Capital Investors Ltd. Nader Naeimi.

Naeimi yakin bahwa di Jepang dan Eropa, suku bunga negatif telah merusak margin bank, memutus saluran utama untuk transmisi kebijakan moneter dan menyebabkan fase bearish di pasar saham.

Di sisi lain, menurut Analis KGI Securities (Singapore) Pte. Joel Ng, penurunan suku bunga di bawah nol juga bisa menguntungkan.

“Indeks saham Singapura berisikan banyak saham properti, terutama Real Estat Investment Trusts (REITs), yang umumnya berkinerja baik di dalam kondisi suku bunga rendah,” terang Ng.

Indeks Straits Times telah turun sekitar 20 persen tahun ini dan diperdagangkan di kisaran rekor terendah valuasi terendah sebesar kurang dari 0,9 kali nilai buku.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Suku Bunga singapura ekonomi singapura

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top