Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Begini Strategi China Cegah Gelombang Kedua Infeksi Virus Corona

Sebagai negara besar pertama yang mencabut lockdown akibat wabah penyakit virus corona (Covid-19), China berfokus untuk menghindari gelombang kedua infeksi virus mematikan ini.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 April 2020  |  11:05 WIB
Seorang pasien Covid-19 diizinkan pulang dari Rumah Sakit Leishenshan (Gunung Dewa Petir) di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (4/4/2020). Rumah sakit itu menutup area bangsal umum terakhirnya pada Kamis (9/4/2020)./Antara - Xinhua
Seorang pasien Covid-19 diizinkan pulang dari Rumah Sakit Leishenshan (Gunung Dewa Petir) di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (4/4/2020). Rumah sakit itu menutup area bangsal umum terakhirnya pada Kamis (9/4/2020)./Antara - Xinhua

Bisnis.com, JAKARTA – Sebagai negara besar pertama yang mencabut lockdown akibat wabah penyakit virus corona (Covid-19), China berfokus untuk menghindari gelombang kedua infeksi virus mematikan ini.

Meja-meja sekolah ditempatkan secara berjarak, warga wajib menggunakan masker, dan aplikasi pelacakan dikerahkan di seantero negeri.

Mengacu pada pernyataan para pakar China bahwa virus ini tidak dapat diberantas, pemerintah fokus menjaga agar tingkat infeksi dapat dikelola guna menghindari lonjakan kasus yang membanjiri seluruh rumah sakit.

Langkah penyeimbangan untuk membiarkan penduduk kembali ke kehidupan normal sembari mempertahankan infeksi di tingkat rendah adalah suatu tindakan yang harus dikuasai banyak negara yang berencana mengendurkan lockdown di negara mereka.

Meski didukung sarana yang tidak dimiliki negara lain, seperti pengawasan dan kontrol yang ketat atas mobilitas masyarakatnya, tidak ada jaminan China akan berhasil menghindari wabah baru.

“Ketika China memulai kembali kehidupan ekonomi dan sosialnya, ada hal-hal tak diketahui yang dapat menyebabkan wabah baru,” ujar Nicholas Thomas dari City University of Hong Kong, seperti dilansir dari Bloomberg, Rabu (29/4/2020).

Berikut upaya dan strategi China untuk menghindari gelombang infeksi virus corona lebih lanjut di negaranya:

1. Menangani ancaman di perbatasan

Hampir semua orang asing dilarang memasuki China, sementara warga yang kembali dari luar negeri harus menjalani isolasi sedikitnya selama dua pekan.

Kota-kota dengan pemerintahan yang paling ketat, seperti Beijing, bahkan memberlakukan tujuh hari tambahan karantina di dalam rumah setelah tahap itu. Siapa pun yang terisolasi di dalam rumah di kota ini dapat membunyikan alarm meskipun hanya membuka pintu depan rumah mereka.

Pembatasan yang ekstrem semakin diberlakukan dengan ketat meskipun hampir tidak ada kasus lokal baru selama berpekan-pekan.

2. Pengujian massal

Ketika banyak negara masih berjuang untuk melakukan pengujian pada semua orang yang menunjukkan gejala sakit, kota-kota di China kini mencoba untuk melakukan pengujian terlebih dahulu kepada warga yang kembali bekerja.

Di provinsi Hubei dan Guangzhou, perusahaan-perusahaan meminta para pekerja yang kembali berkerja untuk melakukan tes virus corona. Di Shanghai, pengujian sukarela telah diluncurkan di seluruh kota dan perusahaan, setiap warga juga dapat mendaftar tes di rumah sakit atau klinik.

Klinik, spesialis penyakit menular, dan Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) setempat dikoordinasikan untuk mengidentifikasi, mendiagnosis, serta mengisolasi infeksi sejak dini, diikuti oleh pelacakan kontak dan karantina untuk mencegah persebaran di masyarakat, menurut Zhang Wenhong, direktur departemen penyakit menular di Shanghai Huashan Hospital.

“Di Shanghai, ada ribuan orang CDC dan dokter yang memburu pasien-pasien ini dan mengisolasi kontak dekat mereka. Langkah ini penting untuk respons cepat dalam sistem pencegahan dan kontrol,” jelas Zhang.

3. Aplikasi pelacakan

Dalam suatu langkah yang sepertinya tidak mungkin dilakukan di negara-negara demokrasi Barat karena masalah privasi, China menggabungkan kekuatan aparat pengawasan dan perusahaan internet untuk mengawasi siapa saja yang rentan terinfeksi.

Pelacakan dan fungsi pemantauan kesehatan dibangun ke dalam aplikasi-aplikasi telepon pintar oleh Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd., dengan memanfaatkan data dari departemen pemerintah, operator telepon, lokasi dan transaksi untuk memberikan gambaran terperinci tentang tingkat risiko masing-masing individu.

Hasil akhirnya, jutaan orang akan menunjukkan kode warna merah, kuning atau hijau sebelum diizinkan masuk ke dalam hotel, restoran, toko, kereta bawah tanah, dan kompleks perumahan.

4. Pembukaan secara bertahap

Meski ada pelonggaran pembatasan, China telah berhati-hati untuk melakukannya secara bertahap. Banyak kota masih tidak mengizinkan bioskop, teater, atau bar untuk dibuka kembali.

Masker wajah, yang sudah menjadi pemandangan umum di China, telah beralih fungsi dari upaya pencegahan opsional menjadi wajib di tempat-tempat kerja dan transportasi umum.

Pembukaan kembali secara bertahap belum menyebabkan gelombang infeksi baru. Fakta ini memberi harapan kepada negara-negara lain yang mulai merencanakan untuk melonggarkan penerapan lockdown di negara mereka.

"Tidak ada yang ingin melihat lonjakan baru dalam jumlah kasus dengan terburu-buru mencabut pembatasan,” ujar Takeshi Kasai, direktur regional Organisasi Kesehatan Dunia untuk wilayah Pasifik Barat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top