Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasokan Minyak Melimpah, Tanker Minyak Padati Selat Singapura

Penurunan konsumsi bahan bakar global mendorong penggunaan kapal kargo untuk menyimpan minyak.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 April 2020  |  13:22 WIB
Kapal Tanker MT Antea. Foto: marinetraffic.com
Kapal Tanker MT Antea. Foto: marinetraffic.com

Bisnis.com, JAKARTA - Penurunan konsumsi bahan bakar global mendorong penggunaan kapal kargo untuk menyimpan minyak. Hal itu tampak pada pemandangan kapal-kapal di batas perairan Singapura dipadati tanker berisi minyak.

Rahul Kapoor, Kepala Analis Komoditas dan Penelitian IHS Markit, mengatakan sekitar 60 tanker bahan bakar bersih saat ini berlabuh di sepanjang selat yang sibuk ini, naik dari biasanya 30 sampai 40 kapal.

Beberapa kapal digunakan untuk menimbun bahan bakar di laut saat tangki di daratan terisi penuh. Sedangkan yang lain menunggu pelayaran ke pembeli di seluruh Asia dan dunia.

Kapal-kapal yang dipenuhi minyak termasuk bensin dan bahan bakar jet itu, bergerak dari pusat-pusat kilang utama seperti Korea Selatan dan China karena jatuhnya permintaan domestik dan stok yang membengkak. Tanker-tanker ini dikirim ke Selat Singapura, di mana kelebihan bahan bakar diperparah dengan penundaan pembongkaran di negara kota itu.

Kapal saat ini harus menunggu sekitar dua minggu untuk mengeluarkan kargo di Singapura, dibandingkan dengan biasanya yang hanya membutuhkan 4 hingga 5 hari.

Opsi penyimpanan menyusut secara global karena tangki di darat penuh dengan cepat. Hal itu mendorong pedagang, penyuling, dan perusahaan infrastruktur untuk mencari alternatif seperti pipa dan kapal.

Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa para pelaku industri minyak berhasil mendapatkan sejumlah tank di Singapura meski dengan tarif yang jauh lebih tinggi.

"Negara-negara pengekspor bahan bakar utama menghadapi kesulitan menemukan tempat untuk menyimpan pasokan minyak yang berlimpah," kata Sri Paravaikkarasu, kepala minyak Asia di konsultan industri FGE.

Dia melanjutkan, di Singapura, tingkat pemrosesan minyak mentah di kilang mungkin turun menjadi sekitar 60 persen dari kapasitas, dan mungkin turun lebih jauh ke level 50 persen selama kuartal kedua.

Sementara itu, penyimpanan minyak di darat sedang tertekan karena melimpahnya pasokan di seluruh dunia. Di India, tank-tank penuh 95 persen pada pekan lalu ketika para penyuling bergegas mencari ruang untuk menampung kelebihan bahan bakar, bahkan beralih ke stasiun pompa dan depo. Di Singapura, stok bahan bakar naik ke level tertinggi dalam empat tahun pada pertengahan April.

Memanfaatkan tanker telah menjadi pilihan terbaik berikutnya. Perusahaan analitik Vortexa memperkirakan penyimpanan minyak mentah terapung di Asia menjadi yang tertinggi dalam empat tahun.

Dengan mempertimbangkan perairan Singapura dan Malaysia, perusahaan data intelijen Kpler melihat peningkatan 45 persen pada volume bahan bakar bersih, terdiri atas nafta, bensin, bahan bakar jet dan diesel. Bahan bakar itu disimpan di kapal ke 6.64 juta barel pada 23 April 2020.

Di seluruh dunia, tarif pengiriman untuk kapal tanker yang bersih maupun kotor telah melonjak secara dramatis seiring dengan meningkatnya permintaan penyimpanan terapung. Pengirim juga dengan sengaja mengurangi kecepatan kapal tanker untuk meningkatkan waktu transit pengiriman sambil menunggu munculnya minat beli dari pelanggan atau menghemat bahan bakar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak mentah kapal tanker

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top