Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lockdown Hantam Ekonomi Eropa

Ekonomi Eropa mengalami pukulan besar pada bulan April ketika lockdown diberlakukan pemerintah negara-negara di Benua Biru untuk menahan penyebaran virus Corona. Kebijakan itu membuat perusahaan-perusahaan berjuang agar bisa tetap bertahan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 23 April 2020  |  17:05 WIB
Ekonomi Eropa mengalami pukulan besar pada bulan April ketika lockdown diberlakukan pemerintah negara-negara di Benua Biru untuk menahan penyebaran virus Corona. Kebijakan itu membuat perusahaan-perusahaan berjuang agar bisa tetap bertahan. - wikipedia/Ilustrasi
Ekonomi Eropa mengalami pukulan besar pada bulan April ketika lockdown diberlakukan pemerintah negara-negara di Benua Biru untuk menahan penyebaran virus Corona. Kebijakan itu membuat perusahaan-perusahaan berjuang agar bisa tetap bertahan. - wikipedia/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi Eropa mengalami pukulan besar pada bulan April ketika lockdown di negara-negara di Benua Biru untuk menahan penyebaran virus Corona. Kebijakan itu membuat perusahaan-perusahaan berjuang agar bisa tetap bertahan.

Laporan IHS Markit, memperkirakan aktivitas sektor swasta di zona euro akan jatuh menjadi 13,5 dari 29,7 pada Maret lalu.

Penurunan ini jauh lebih tajam daripada yang diantispasi para ekonom dan menjadi pembacaan terendah untuk Indeks Manajer Pembelian (PMI) sejak mulai dicatat lebih dari dua dekade lalu.

"Harapannya pada langkah-langkah pembatasan yang perlahan diangkat untuk membantu meredakan kelumpuhan," kata Chris Williamson, kepala ekonom bisnis di IHS Markit, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (23/4/2020).

Namun, kemajuan tampaknya sangat lambat karena pemerintah mengupayakan untuk mencegah gelombang kedua infeksi Covid-19.

Laporan ini menjadi pratinjau suram bagi para pemimpin Eropa, yang akan membahas kemungkinan rencana penyelamatan senilai 2 triliun Euro atau senilai US$2,2 triliun untuk blok itu pada Kamis (23/4/2020).

Pemerintah telah menjanjikan miliaran Euro dalam bentuk bantuan, dan Bank Sentral Eropa pada Rabu (22/4), telah meningkatkan upayanya untuk melindungi negara-negara yang paling rentan.

Laporan PMI itu juga menggemakan survei lain yang menunjukkan Eropa, dan ekonomi global, menuju resesi yang tajam karena pembatasan oleh pemerintah terhadap pergerakan dan bisnis.

Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan kemerosotan tahun ini dapat menjadi yang paling parah dalam hampir satu abad dan perkiraannya kawasan euro dapat menyusut 7,5 persen pada 2020.

"Dengan sebagian besar ekonomi Uni Eropa ditutup, bisnis baru baik di bidang manufaktur maupun jasa mengalami penurunan pada rekor tercepat di bulan April," kata IHS Markit.

Industri jasa menanggung beban paling berat, mencerminkan hantaman ke industri rekreasi, maskapai penerbangan, restoran, dan hotel.

Dua ekonomi terbesar di zona euro, Jerman dan Prancis, turut memperlihatkan kemerosotan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada awal kuartal kedua tahun ini.

Survei di zona euro juga menunjukkan penurunan kepercayaan diri, serta rekor tertinggi untuk pemutusan kerja.

Beberapa penurunan lapangan kerja mencerminkan berapa besar pekerja yang dirumahkan. Bahkan, jika situasinya terus berlanjut, perusahaan mungkin terpaksa benar-benar memecat mereka.

Beberapa pemerintah telah mulai melonggarkan pembatasan, perlahan-lahan membuka kembali ekonomi mereka untuk membantu perusahaan dan karyawan.

Tetapi negara-negara di zona euro juga sadar bahwa mereka belum memiliki status benar-benar bersih dari wabah ini, sehingga kondisinya masih jauh dari kondisi normal.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

zona euro Virus Corona Lockdown
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top