Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Peneliti Temukan 6 Jenis Virus Corona Baru pada Kelelawar di Myanmar

Virus tersebut dilaporkan berada dalam keluarga yang sama dengan SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab pandemi COVID-19. Akan tetapi, virus baru itu tidak terkait secara genetik dengan wabah saat ini.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 15 April 2020  |  08:44 WIB
Peneliti Temukan 6 Jenis Virus Corona Baru pada Kelelawar di Myanmar
Satwa kalong (Pteropus vampyrus) ANTARA FOTO - Irwansyah Putra
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Ilmuwan telah menemukan enam jenis virus corona baru yang ada pada hewan kelelawar yang berbasis di Myanmar.

Virus tersebut dilaporkan berada dalam keluarga yang sama dengan SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab pandemi COVID-19. Akan tetapi, virus baru itu tidak terkait secara genetik dengan wabah saat ini.

Keenam jenis virus corona baru itu ditemukan dalam tiga spesies kelelawar yang berbeda, yakni kelelawar great asiatic yellow house, kelelawar wrinkle-lipped free tailed, dan kelelawar horsefield leaf-nosed.

Tim peneliti mencatat bahwa studi tambahan akan diperlukan untuk menentukan apakah virus corona baru ini memiliki potensi penularan lintas spesies. Upaya ini diperlukan untuk memahami risiko terhadap kesehatan manusia.

Penelitian terbaru dilakukan oleh Smithsonian Global Health Program yang diharapkan bisa membantu para ahli memahami keanekaragaman virus corona pada kelelawar dan menginformasikannya upaya global untuk mendeteksi, mencegah, dan menanggapi potensi penyakit menular.

Marc Valitutto, mantan dokter hewan di Smithsonian Global Health Program dan penulis utama studi ini mengatakan bahwa pandemi virus mengingatkan betapa eratnya kesehatan manusia yang terhubung dengan kesehatan satwa liar dan lingkungan.

“Di seluruh dunia, manusia berinteraksi dengan satwa liar dengan frekuensi yang terus meningkat. Jadi, semakin kita mengerti tentang virus pada hewan, semakin baik kita dapat mengurangi potensi pandemi mereka,” katanya seperti dikutip Daily Mail, Rabu (15/4).

Valitutto dan tim mengumpulkan air liar dan sampel tinja dari 11 spesies kelelawar yang berbeda di beberapa wilayah Myanmar. Secara keseluruhan, ada lebih dari 750 sampel yang dikumpulkan mulai dari Mei 2016 hingga Agustus 2018.

Sampel kemudian diuji dan dibandingkan dengan virus corona lain yang diketahui dan memberikan hasil enam jenis virus yang belum ada sebelumnya. Dilaporkan oleh Live Science, enam virus corona baru ini diberi nama PREDICT-CoV-90 (ditemukan di kelelawar great asiatic yellow house).

PREDICT-CoV-47 dan PEDICT-CoV-82 (ditemukan pada kelelawar wrinkle-lipped free tailed) serta PREDICT CoV-92, PREDICT CoV-93, PREDICT-CoV-96 (ditemukan pada kelelawar horsefield leaf-nosed).

Suzan Murray, direktur Smithsonian Global Health Program dan penulis pendamping penelitian enyebut bahwa banyak virus corona yang mungkin tidak menimbulkan risiko bagi manusia. Akan tetapi, perlu identifikasi sejak dini untuk memastikan hal tersebut.

“Pengawasan, penelitian, dan pendidikan yang waspada adalah alat terbaik yang kita miliki untuk mencegah pandemi sebelum terjadi,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Kelelawar
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top