Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dibayangi 'Default', Argentina Negosiasikan Utang US$68,8 Miliar

Presiden Argentina Alberto Fernandez mengatakan pihaknya akan mengajukan penawaran kepada krediturnya dalam beberapa hari mendatang untuk menunda pembayaran utang.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 13 April 2020  |  10:17 WIB
Gedung-gedung tampak terlihat dari pinggir Sungai Rio de Plata, Buenos Aires. - Bisnis/Feni Freycinetia
Gedung-gedung tampak terlihat dari pinggir Sungai Rio de Plata, Buenos Aires. - Bisnis/Feni Freycinetia

Bisnis.com, JAKARTA - Argentina sedang dalam pembicaraan untuk menegosiasikan kembali utang internasional sebesar US$68,8 miliar dengan kreditur swasta.

Presiden Argentina Alberto Fernandez mengatakan pihaknya akan mengajukan penawaran kepada krediturnya dalam beberapa hari mendatang untuk menunda pembayaran utang. Pihaknya menghindari default yang mahal, bahkan setelah negara itu memperpanjang karantina hingga 26 April untuk menghentikan penyebaran virus Corona.

Fernandez menambahkan bahwa sementara pembicaraan utang berjalan dengan baik, perhitungan keberlanjutan utang akan dipengaruhi oleh dampak virus.

"Virus corona memengaruhi negosiasi ulang utang, sama seperti virus Corona memengaruhi seluruh ekonomi global. Apa yang akan kami tandatangani adalah sesuatu yang bisa kami capai sebagai pemerintah dan sebagai negara. Saya tidak ingin berkomitmen untuk menandatangani sesuatu yang tidak terpenuhi," kata Fernandez, dilansir Bloomberg, Senin (13/4/2020).

Tampaknya Argentina membutuhkan rencana pemulihan ekonomi seperti Marshall Plan setelah Perang Dunia II. Upaya pemulihan besar-besaran kini lebih mendesak daripada rencana pengendalian inflasi, kata Fernandez.

Menurut perkiraan Goldman Sachs, PDB Argentina kini diperkirakan berkontraksi 5,4 persen pada 2020 dari perkiraan sebelumnya 1 persen.

S&P Global menurunkan peringkat Argentina ke "selective default" pekan lalu setelah negara itu mengatakan akan membekukan pembayaran utang dalam mata uang dolar di bawah hukum lokal sampai akhir tahun.

Sebelumnya pada April, Fitch Ratings menurunkan Argentina ke tingkat "default terbatas" dan Moody mengumumkan penurunan peringkat yang sama.

"Apa yang tidak akan terjadi adalah segala bentuk restrukturisasi utang dalam peso. Kami akan memenuhi utang dalam peso," katanya.

Fernandez juga mengatakan tindakan karantina nasional telah berhasil memperlambat laju penularan, tetapi belum bisa memastikan kapan kebijakan itu akan berakhir. Menurut Kementerian Kesehatan, Argentina memiliki 2.142 kasus dikonfirmasi Covid-19 dan 90 kematian.

"Saat ini, saya tidak khawatir tentang anggaran atau defisit fiskal. Prioritasnya adalah melindungi jiwa dan kesehatan," kata Fernandez.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

argentina gagal bayar
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top