Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Puncak Covid-19 Satu Pekan Lagi, Wali Kota London Enggan Cabut Lockdown

Sadiq Khan akan mencabut status lockdown jika Inggris telah melewati fase puncak wabah Corona. Sebelum itu, dia tak akan mencabutnya. Pun, Khan juga menyatakan bahwa ICU RS di London siap menampung pasien positif.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 April 2020  |  19:15 WIB
Sebuah pesan mengingatkan orang-orang untuk menjaga jarak dengan sesama, ditulis di aspal jalan di luar sebuah pub di London, Inggris, Jumat (27/3/2020). - Bloomberg/Hollie Adams
Sebuah pesan mengingatkan orang-orang untuk menjaga jarak dengan sesama, ditulis di aspal jalan di luar sebuah pub di London, Inggris, Jumat (27/3/2020). - Bloomberg/Hollie Adams

Bisnis.com, JAKARTA - Wali Kota London, Inggris, Sadiq Khan, mengatakan proses pencabutan lockdown atau isolasi masih relatif jauh karena merebaknya wabah virus Corona.

Saat ini, Inggris mencatat ada sekitar 52 ribu orang terinfeksi virus Corona dengan sekitar 6.200 orang meninggal dunia dan 325 orang berhasil sembuh, menurut data dari Johns Hopkins University.

“Kita belum mendekati saat untuk mencabut lockdown,” kata Khan seperti dilansir CNN pada, Selasa (7/4/2020).

Khan melanjutkan dia sering berkomunikasi dengan para ahli untuk mengikuti perkembangan wabah virus Corona ini, yang menyebabkan sakit paru-paru.

Menurut dia, layanan Intensive Care Unit di rumah sakit di Kota London masih mampu menampung pasien baru. “Tapi ada banyak orang yang kehilangan nyawa,” kata dia.

Menurut Menteri Muda Kesehatan, Edward Argar, proses pencabutan pembatasan kegiatan publik akibat lockdown akan dilakukan jika Inggris sudah melewati masa puncak.

“Saat ini saatnya masyarakat untuk mengikuti panduan pemerintah secara ketat. Jangan mengambil risiko yang bisa mengganggu kemajuan yang kita capai,” kata dia.

Sebuah prediksi oleh tim peneliti dari University of Washington menyatakan Inggris bisa mengalami korban tewas terbanyak di Eropa, yaitu mencapai sekitar 66 ribu jiwa.

Ini terjadi karena peneliti menilai jumlah ruang ICU di rumah sakit Inggris tidak mampu menampung jumlah pasien terinfeksi virus Corona yang membludak.

Namun, penelitian ini belum memasukkan sejumlah rumah sakit darurat yang telah dibangun di sejumlah kota dan memiliki layanan ICU.

Peneliti dari University of Washington ini juga memprediksi jumlah korban tewas akibat virus Corona, seperti dilansir Daily Mail, bisa mencapai sekitar 151 ribu orang.

Ini bisa terjadi jika pemerintah tidak segera menambah kapasitas rumah sakit, peralatan pelindung diri yang dibutuhkan petugas medis, dan ventilator untuk membantu pernapasan para pasien penderita infeksi virus Corona.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

london Virus Corona

Sumber : Tempo

Editor : Andya Dhyaksa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top