Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Corona Mengganas di AS, Trump Sebut Travel Ban Bisa Diperluas ke Lebih Banyak Negara

Pemerintah Amerika Serikat kemungkinan akan memperluas larangan perjalanan (travel ban) di tengah upaya pencegahan penyebaran virus corona (Covid-19).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 31 Maret 2020  |  07:28 WIB
Presiden Trump dalam jumpa pers task force penanganan virus Corona -  Bloomberg / Yuri Gripas
Presiden Trump dalam jumpa pers task force penanganan virus Corona - Bloomberg / Yuri Gripas

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat kemungkinan akan memperluas larangan perjalanan (travel ban) di tengah upaya pencegahan penyebaran virus corona (Covid-19).

Pada Senin (30/3/2020), Presiden Donald Trump mengatakan AS mungkin memperluas larangan perjalanan ke beberapa negara tambahan seiring dengan upayanya untuk mencegah penyebaran corona. Larangan ini telah terlebuh dahulu memengaruhi Eropa, China, serta beberapa negara lain.

“Kami dapat menambahkan beberapa lagi. Tapi pedomannya akan sangat banyak, bahkan mungkin sedikit sulit. Namun ini memiliki dampak besar, dampak yang luar biasa,” terang Trump dalam suatu konferensi pers di Gedung Putih, seperti dilansir dari Bloomberg.

Gedung Putih telah mengambil langkah untuk memblokir masuknya warga non-AS yang bepergian dari China, Iran, Inggris, Irlandia, berikut 26 negara Eropa di Wilayah Schengen.

Pemerintah AS juga mencapai kesepakatan dengan pemerintah Kanada dan Meksiko untuk secara signifikan mengurangi perjalanan lintas-perbatasan.

Menurut Trump, para pejabat mulai melihat dampak dari upaya pembatasan perjalanan ini. Pada Minggu (30/3/2020), ia mengumumkan bahwa imbauan jaga jarak (social distancing) akan diperpanjang hingga 30 April.

Ia sebelumnya bermaksud mendorong banyak warga Amerika untuk kembali beraktivitas normal pada liburan Minggu Paskah, 12 April mendatang.

Kendati demikian, korban akibat infeksi corona semakin bertambah. Pemerintahan Trump memperkirakan puncak kematian akibat pandemi corona di AS akan tercapai dalam sekitar dua pekan.

Direktur National Institute for Allergy and Infectious Disease Anthony Fauci pada Minggu (29/3/2020) mengatakan jutaan warga Amerika dapat terinfeksi virus tersebut dan angka kematian akibat di AS dapat mencapai 200.000.

“Melihat kondisi saat ini, kita melihat 100.000-200.000 kematian. Tapi, kita tidak bisa membuat proyeksi ketika angkanya terus berubah, kita bisa saja keliru," paparnya dalam sebuah acara di CNN.

Perkiraannya tentang angka kematian sebanyak 200.000 jiwa “dapat sepenuhnya dibayangkan” jika upaya untuk membendung pandemi corona gagal dilakukan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Donald Trump
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top