Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

India Putuskan Lockdown, Potensi Dana Asing Kabur Membesar

Lockdown akan memicu capital outflow, padahal pemerintah India membutuhkan sedikitnya 1 persen dari nilai PDB India atau US$ 30 miliar untuk merespon penyebaran virus ini.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  08:49 WIB
Gedung National Stock Exchange (NSE) di Mumbai, India. - nseindia.com
Gedung National Stock Exchange (NSE) di Mumbai, India. - nseindia.com

Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan lockdown yang diterapkan oleh India berpotensi mendorong derasnya aliran modal asing yang keluar (capital outflow).

Hal tersebut diperkirakan membuat pasar saham India anjlok di level paling dalam sejak tahun 2000. Dilansir dari Bloomberg, salah satu indikasi pemicu jatuhnya pasar saham India adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi Januari – April 2020 yang telah dikoreksi pada level 3 persen oleh Oxford Economics.

Perolehan tersebut belum pernah terjadi bahkan pada krisis-krisis ekonomi sebelumnya. Selain itu, nilai indeks utama di India juga terkoreksi sebesar 13,2 persen pda Senin (23/3/2020) kemarin akibat aksi jual di pasar Asia yang masih berlanjut.

Kondisi ini juga diperparah dengan pelemahan Rupee melebihi level 76,03 per dolar AS dan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun yang anjlok selama empat bulan belakangan.

Head of Research Samco Securities Ltd. Umesh Mehta mengatakan kontraksi di pasar saham India hanya dapat berhenti dengan adanya insentif baik dari pemerintah maupun regulator terkait dan juga kabar positif terkait perkembangan wabah virus corona di India.

Menurut estimasi dari Bloomberg Economics, pemerintah India membutuhkan sedikitnya 1 persen dari nilai PDB India atau US$ 30 miliar untuk merespon penyebaran virus ini dengan efektif.

Salah satu penasihat bidang ekonomi pemerintah India, Sanjeev Sanyal mengatakan pemerintah memiliki total utang sebesar 5,9 triliun Rupee yang akan jatuh tempo pada 2020 ini. Dengan kondisi ekonomi yang memburuk, India dihadapkan pada potensi gagal bayar yang cukup besar pada tahun ini bila aliran kas tidak dijaga dengan baik.

“Pemerintah akan melakukan seluruh upaya untuk menjaga aliran kas tetap terjaga. Kami perlu memastikan begitu krisis kesehatan ini usai, kondisi perekonomian India tidak akan terhenti,” ujarnya dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/3/2020).

Pekan lalu, Menteri Keuangan India Nirmala Sitharaman mengatakan pemerintah akan mengumumkan paket stimulus ekonomi secepatnya. Insentif ini terutama akan diberikan untuk sektor usaha yang terdampak penyebaran virus corona.

Sementara itu, Bank Sentral India, The Reserve Bank of India, telah mengumumkan suntikan dana sebesar 1 triliun Rupee pada Senin kemarin. Bank Sentral India juga akan melakukan kajian terhadap suku bunga acuan pada 3 April 2020 mendatang.

Akhir pekan lalu, Perdana Menteri Narendra Modi dan sederet pemimpin negara memberlakukan lockdown hampir menyeluruh seiring dengan menanjaknya jumlah kasus virus corona di negara tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

india bursa india narendra modi

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top