Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Eijkman: Dalam Tiga Bulan ke Depan, Virus Corona Diprediksi Mereda

Eijkman memprediksi virus Corona kali ini akan berangsur mereda pada dua sampai tiga bulan ke depan. Saat ini pihaknya baru pada tahap awal untuk membuat vaksin. Apa yang dilakukan pemerintah, hanya mengikuti standar WHO.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 20 Maret 2020  |  23:32 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Hampir 20 hari Indonesia memasuki masa di mana keberadaan virus Corona (Covid-19) terdeteksi untuk pertama kali di Tanah Air. Pada Ahad pertama bulan Maret, alias 2 Maret 2020, untuk kali pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan adanya dua orang Indonesia yang positif terpapar virus tersebut.

Hanya butuh 18 hari bagi virus itu untuk menjangkit ratusan masyarakat di Indonesia lainnya. Per Jumat (20/3), pemerintah mengumumkan ada 369 pasien di Indonesia yang positif terinfeksi virus tersebut. Dan, jumlah tersebut masih bakal bertambah di waktu-waktu ke depan.

Cepatnya persebaran virus Corona kali ini diakui oleh Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof. Amin Soebandrio. Menurut Amin, jika dibandingkan dengan virus Corona pertama, atau yang lebih dikenal dengan SARS, kecepatan virus Corona kali ini 20 lebih cepat ketimbang "seniornya" itu.

"Yang kedua ini lebih cepat penularannya. Namun potensi kematiannya tidak setinggi yang pertama, di mana sampai sembilan persen. Tapi penularannya itu bisa 20 kali lebih cepat," ucap Amin kepada Bisnis, Jumat (20/3/2020).

Meski demikian, Amin memprediksi, pandemi virus ini akan berakhir di Indonesia dua sampai tiga bulan mendatang. Berikut petikan wawancara Bisnis Indonesia dengan Amin:

Pemerintah terkesan kecolongan dalam mengantasipasi wabah virus Corona di Indonesia. Menurut Anda?
Saya melihat, awalnya Menteri Kesehatan mengikuti pedoman yang dibuat WHO, memeriksa bagi mereka yang memiliki gejala dan riwayat kontak. Sehingga pemerintah tidak melakukan survei terbuka, karena Indonesia dianggap belum terjangkit.

Nyatanya, sekarang banyak yang positif terpapar, bahkan persentasenya paling tinggi di dunia.
Februari kemarin kasus 01 dan 02 entry point-nya. Mereka ada gejala dan riwayat kontak. Lalu diadakan penelusuran. Ketemu lah beberapa kasus. Tetapi orang-orang itu sudah keburu menyebarkan ke orang lain dalam beberapa hari. Otomatis jumlahnya bertambah.

Saat ini pemerintah memiliki kebijakan social distancing. Seberapa efektif?
Itu sangat efektif. Artinya, secepat mungkin kita memutus ruang gerak virus sebelum mereka yang positif pergi ke mana-mana dan melakukan kontak dengan orang lain.

Dengan makin banyaknya pasien yang positif saat ini, apakah kebijakan social distancing itu telat diperkenalkan oleh pemerintah?
Saat itu banyak masyarakat yang belum mengetahui soal tersebut, dan cenderung menghindar saat ditelusuri. Sekarang masyarakat sudah memiliki pemahaman itu dan melakukan pemeriksaan sendiri (jika menunjukan gejalan terpapar virus Corona).

Baik. Sekarang soal droplet (cairan yang keluar setelah seseorang bersin atau batuk). Berapa lama virus bisa bertahan?
Tergantung di permukaan apa. Misal, virus terlontar dan masih dalam partikel cairan tubuh, bisa bertahan cukup lama. Namun, kalau jatuh di permukaan kering yang tak mendukung si virus, bisa cepat mati. 

Kira-kira dalam satuan waktu?
Misal jatuh ke tangan, bisa tahan 15 menit, karena di tangan kita ada enzim tertentu. Jangan lupa, 15 menit bukan waktu yang sebentar. Dalam waktu itu, kita bisa pegang macam-macam.

Kalau kita hirup, bisa bertahan berapa lama?
Virus itu langsung menempel di saluran pernafasan. Dia bisa bertahan tergantung kekebalan tubuh kita. Kalau kekebalan tubuh kita baik, sel-sel bakal menolak virus itu. Dan akhirnya mengeliminasi. Namun untuk itu (mengeliminasi) butuh waktu.

Saat itu, virus dapat tetap hidup dan dapat menularkan orang lain?
Jika virus tidak masuk ke sel, tetap bisa dilemparkan (keluar) kembali dan menular. Nah, jika kekebalan tubuh kita kurang baik, sel dapat berkembang biat dan mulai menimbulkan gejala pada diri kita, seperti demam dan batuk.

Penyakit yang disebabkan virus, seperti MERS dan SARS itu berasal dari hewan. Bisa Anda jelaskan lebih detail soal ini, prof?
Virus (Corona) ini kan sebagian besar ada di hewan, sekitar 200-an jenisnya. Hanya tujuh yang bisa menginfeksi manusia: Misal MERS dan SARS Coronavirus 1 dan 2, yang saat ini mewabah. Sedangkan empat lagi adalah virus Corona yang menyebabkan flu ringan dan banyak beredar di tengah masyarakat.

Kenapa bisa menulari manusia?
Melalui proses mutasi dan adaptasi, virus itu mungkin loncat dari hewan liar ke manusia. Awalnya tidak menyebabkan sakit. Terus balik lagi ke hewan, bolak-balik selama bertahun-tahun. Akhirnya dia bisa beradaptasi menjadi virus manusia. Dia sudah mengenali reseptor tubuh manusia.

Dibanding SARS Coronavirus 1, apa perbedaannya dengan yang sekarang?
Yang kedua ini lebih cepat penularannya. Namun potensi kematiannya tidak setinggi yang pertama, di mana sampai sembilan persen. Tapi penularannya itu bisa 20 kali lebih cepat.

Apakah Eijkman sudah mempelajari migrasi virus ini, sehingga mampu membuat perkiraan (modeling) tentang titik balik lonjakan?
Itu yang sebenarnya tengah kita harapkan. Namun, untuk bisa dilakukan itu, kita harus memiliki isolat virusnya terlebih dahulu, supaya bisa mengetahui informasi genetic dari virus Covid-19.

Kita perlu menumbuhkan si virus di medium lain supaya jumlahnya agak lebih banyak. Lalu kita pelajari seluruhnya, RNA-nya (Ribonucleic acid). Dari situ kita akan bandingkan virus yang ada di Depok sama atau tidak dengan yang Jakarta Utara atau tempat lain.

Sudah berapa isolat yang dipelajari?
Kami masih memproses, masih butuh waktu beberapa minggu. Harus di tanam di sel, karena virus itu tidak bisa hidup di dalam medium biasa, harus ada sel. kami sudah menerima 200-an, yang positif ada 20-an dalam proses berikutnya kita kultur dan isolasi.

Butuh berapa lama untuk benar-benar mengetahui model dari virus ini?
Tergantung dari jumlah sampel dan distribusi yang ada. Artinya kita mesti bekerja sama dengan laboratorium yang lain.

Soal vaksin. Sudah sejauh mana Eijkman mengupaykan itu?
Kita baru tahap awal, sangat awal. Baru beberapa kali pertemuan untuk membahas grand design-nya, peta jalan, hingga struktur turunan dan juga anggaran. Secara teknis belum ada kemajuan berarti.

Kendala yang dihadapi?
Karena belum ada isolatnya. Karena bikin vaksin yang mudah adalah kita isolasi virusnya, terus kita lemahkan dan diberi kepada pasien.

Apakah Eijkman bisa memprediksi kapan virus ini berakhir?
Pada umumnya setiap pandemik dan epidemik itu punya kurva. Jumlah kasus baru di China menurun sejak dua pekan lalu. Itu disebabkan, antara lain, karena kekebalan kelompok sudah terbentuk.

Di Indonesia kita memang sudah berusaha menghentikan laju penularan. Saat ini memang grafiknya naik cukup tajam, kita harapkan dua minggu ke depan sampai di puncak untuk segera turun.

Baik. Jadi, perkiraan Anda kapan akan berakhir wabah ini di Indonesia?
Prediksi secara tidak langsung tentu kita harus berkoordinasi dengan ahli pandemilogi. Namun, pada umumnya di sekitar dua sampai tiga bulan ke depan akan turun (mereda).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

eijkman Virus Corona covid-19
Editor : Andya Dhyaksa
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top