Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Panic Buying Dimana-mana, Ini Cara Pemerintah Dunia Mengatasinya

Berikut ini simak upaya pemerintah diseluruh dunia untuk mencegah panic buying.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  18:53 WIB
Warga membawa belanjaan beristirahat di depan supermarket di Shah Alam, Selangor, Malaysia, Selasa (17/3/2020). Setelah Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mengumumkan Malaysia melakukan lockdown nasional, sejumlah supermarket diserbu masyarakat. Bloomberg - Samsul Said
Warga membawa belanjaan beristirahat di depan supermarket di Shah Alam, Selangor, Malaysia, Selasa (17/3/2020). Setelah Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mengumumkan Malaysia melakukan lockdown nasional, sejumlah supermarket diserbu masyarakat. Bloomberg - Samsul Said

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah wabah virus Corona atau Covid-19, banyak negara melakukan kebijakan lockdown atau karantina massal. 

Beberapa negara yang baru melakukan lockdown adalah Malaysia. Sementara itu, AS, Taiwan dan sejumlah negara Uni Eropa melakukan penutupan kunjungan bagi warga negara lain. Tidak tanggung-tanggung, Uni Eropa akan menerapkan kebijakan tersebut hingga satu bulan lamanya. 

Alasannya satu, negara-negara tersebut ingin menghentikan penyebaran wabah virus corona karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Kebijakan ini bukan tidak berisiko. Panic buying masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok kerap terjadi. Alhasil, sejumlah negara terus memperketat aturan main selama masa lockdown atau karantina. 

Di Inggris, pemerintahnya telah menetapkan pembatasan pembelian barang di supermarket. Untuk mengetahui lebih banyak tentang persiapan negara-negara menghadapi panic buying atau mempersiapkan karantina massal. Berikut ini rangkumannya.

1. Spanyol memiliki sistem jaringan pangan yang melayani 24.300 toko di seluruh negeri. Pemerintah memastikan setiap supermarket mampu melayani hingga 840 pelanggan dengan stok yang memadai.

2. Prancis, Kementerian Keuangan menegaskan 90 persen hingga 95 persen makanan akan tetap tersedia di toko-toko, hal itu akan mencukupi kebutuhan untuk beberapa minggu ke depan. 

3. Italia, 3 juta orang pada rantai suplai makanan tetap bekerja untuk memastikan stok makanan aman untuk seluruh masyarakat. Ada 740.000 peternakan dan 70.000 perusahaan produsen makanan yang menyuplai kebutuhan selama masa lockdown. 

4. Inggris, untuk menghindari panic buying, pengusaha ritel membuat kesepakatan untuk mendorong masyarakat bijak dalam berbelanja.  Para pengusaha ritel itu kini tengah berusaha memenuhi kebutuhan makanan untuk masyarakat, dan meminta kerja sama para pelanggan untuk tidak panik dan tetap bijak membeli. 

5. Taiwan menghentikan ekspor masker sejak 24 Januari 2020. Pemerintah lalu menarik semua masker dari para suplier dan mendistribusikannya secara merata. Produksi lokal juga digenjot dua kali lipat menjadi 10 juta per hari. Pemerintah memberlakukan aturan orang dewasa dapat membeli masker 3 kali seminggu, sedangkan anak-anak empat kali. 

6. China Berbagai perusahaan mulai dari produsen mobil hingga smartphone beralih memproduksi masker. Sinopec, perusahaan minyak dan gas China mengubah stasiun bahan bakarnya untuk posko distribusi masker, menjual 30.000 masker per hari di 50 lokasi di Beijing.

7. Malaysia, sebanyak 2.500 petugas melakukan sidak supermarket di seluruh negeri untuk memastikan stok pangan aman dan tidak ada yang melonjakkan harga. Warga diimbau untuk tidak panik dan memborong barang-barang. Outlet makanan dan minuman tetap diizinkan buka dengan hanya melayani takeaway dan pemesanan melalui aplikasi online.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona lockdown
Editor : Hadijah Alaydrus
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top