Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Cara Gampang Mengukur Kegentingan Virus Corona di Jakarta

Sebaran virus corona sekarang semakin besar dan luas karena terus ada penambahan pasien yang positif Covid-19.
Hendri Tri Widi Asworo
Hendri Tri Widi Asworo - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  18:47 WIB
Penumpang menggunakan antiseptik atau hand sanitizer di Halte Harmoni, Jakarta, Selasa (3/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Penumpang menggunakan antiseptik atau hand sanitizer di Halte Harmoni, Jakarta, Selasa (3/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memberikan masukan kepada pemerintah untuk melakukan riset secara random guna mengetahui seberapa besar dan luas sebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia, khususnya Jakarta.

Hal tersebut disampaikan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam, Selasa (17/3/2020) malam.

Menurutnya, sebaran virus corona sekarang semakin besar dan luas karena terus ada penambahan pasien yang positif Covid-19. Oleh sebab itu, pihaknya mengusulkan kepada Kementerian Riset dan Teknologi RI untuk melakukan riset secara random.

“Kita perlu dana riset untuk melihat secara random. Nanti orang kita ambil [sampel] secara random sampel swap,” ujarnya kepada Bisnis.

Dia memberikan gambaran, sebanyak 1.000 orang Jakarta diambil sampel swap atau tes cairan tenggorokan dan hidung. Dari situ bisa diketahui berapa pasien yang masuk dalam kategori orang dalam pantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Namun, apabila dari riset 1.000 orang tersebut, diketahui mencapai 100 orang positif Covid-19, Jakarta dalam kondisi gawat. “Sebanyak 50 saja dalam kategori gawat. Apalagi sampai 100 yang positif Covid-19,” tegasnya.

Kenapa disebut kategori gawat? Karena dengan asumsi 50-100 pasien positif berarti ada sekitar 10% yang terpapar corona. Dengan perhitungan sederhana penduduk Jakarta sebanyak 10 juta, berarti bisa mencapai 500.000-1 juta.

“Perhitungan kecil saja, misal dapat 1% saja dari 10 juta penduduk berarti 100.000. Makanya saya bilang, [dari hasil riset] itu [bisa] keputusan untuk lockdown. Karena episenter di Jakarta.”

Menurutnya, hal tersebut juga dilakukan di Inggris untuk mengetahui seberapa parah sebaran virus corona. Sampel yang diambil di negara itu mencapai 100.000. Kemudian ditemukan sekitar 130 orang positif Covid-19. “Artinya itu 0,13% yang terpapar virus,” tambahnya.

Ketua Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla sebelumnya menyampaikan penularan virus corona di Indonesia relatif besar karena dari jumlah orang yang diperiksa 1.000-an orang ditemukan ratusan yang positif Covid-19.

“Tiap hari di Indonesia naik rata-rata 30 persen penderita. Menteri sampaikan kemarin [Senin] masih 130, hari ini sudah 174, itu sudah naik 40 orang dalam waktu satu hari. Bagaimana kalau sebulan? Ini semua suatu masalah besar yang kita hadapi," katanya, Selasa (17/3).

Menurutnya angka pasien positif corona berpotensi bertambah apabila proses pemeriksaan lebih banyak masyarakat. Oleh sebab itu, dia menyarankan dilakukan karantina wilayah untuk mengurangi persebaran penularan.

Adapun hingga Rabu (18/3/2020), ada tambahan 55 kasus baru positif virus corona, sehingga total ada 227 kasus dengan 19 orang meninggal dunia dan 11 orang sembuh.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fkui Virus Corona lockdown
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top