Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Antisipasi Puncak Wabah Corona, DPR: Lockdown Belum Perlu

Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay mengatakan Indonesia belum perlu melakukan isolasi atau penguncian satu wilayah akibat dampak virus Corona. Meski sudah ada sejumlah korban infeksi maupun korban meninggal dunia akibat Corona, lockdown dinilai belum perlu.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 13 Maret 2020  |  18:59 WIB
Ilustrasi-Anggota militer memeriksa formulir otorisasi perjalanandi stasiun kereta api Centrale di Milan, Italia, Selasa (10/3/2020). Italia menjadi negara pertama yang mencoba melakukan kebijakan lock down (penguncian) untuk menghentikan penyebaran virus corona. Bloomberg - Camilla Cerea
Ilustrasi-Anggota militer memeriksa formulir otorisasi perjalanandi stasiun kereta api Centrale di Milan, Italia, Selasa (10/3/2020). Italia menjadi negara pertama yang mencoba melakukan kebijakan lock down (penguncian) untuk menghentikan penyebaran virus corona. Bloomberg - Camilla Cerea

Bisnis.com, JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay mengatakan Indonesia belum perlu melakukan isolasi atau penguncian satu wilayah akibat infeksi virus Corona. Meski sudah ada sejumlah korban infeksi maupun korban meninggalakibat virus Corona, lockdown dinilai belum perlu dilakukan saat ini.

Menurut Saleh pencegahan dan antisipasi dari segala aspek agar virus Corona tidak semakin menyebar sangat diperlukan. Dia mengaku sangat prihatin dengan bertambahnya jumlah mereka yang positif terinfeksi Corona.

Kondisi itu, ujarnya, menandakan bahwa virus ini masih mengkhawatirkan. "Karena itu, pemerintah perlu melakukan terobosan-terobosan untuk mencegah penyebarannya, namun  penguncian atas satu wilayah belum diperlukan," ujarnya.

“Selama penyebarannya masih bisa dikendalikan, tentu belum perlu untuk mengunci satu kota tertentu,” tegas Saleh.

Pernyataan itu disampaikannya terkait sejumlah langkah yang disarankan untuk mengatasi penyebaran virus Corona.

Deputi Bidang Intelijen Teknologi BIN Mayjen TNI Afini Boer dalam sebuah diskusi memperkirakan puncak penyebaran Corona atau Covid-19 di Indonesia akan terjadi sekitar bulan Puasa atau 60-80 hari sejak pengumuman kasus positif (2/3/2020) lalu. Hal ini berdasarkan simulasi data yang dilakukan pihaknya.

Afini Boer menyampaikan ada dua upaya penanganan yang bisa dilakukan.

Menurutnya, membatasi suatu wilayah bisa menjadi pilihan dengan melakukan isolasi atau bisa bersifat self isolation (isolasi mandiri). Selain itu, bisa dilakukan contact tracing, yakni dengan melacak ke mana saja korban melakukan perjalanan dan dengan siapa mereka berhubungan sehingga bisa membatasinya (restriksi).

"Seandainya infeksi sudah menurun baru kita lakukan mitigasi sehingga terjadi penurunan,” ujarnya dalam sebuah diskusi di Kantor DPP Partai Golkar, Jumat (13/3/2020).

Sementara itu, Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid menegaskan bahwa Pemerintah harus sudah menyiapkan protokol tertentu untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona.

Alasannya, intensitas kegiatan yang melibatkan massa pada bulan puasa sangat tinggi dan rawan terhadap penyebaran virus mematikan itu.

"Dari BIN disebutkan bahwa puncaknya kemungkinan akan terjadi di bulan puasa, kita tahu banyak sekali bahkan tiap hari salat tarawih akan dilakukan, apakah akan restriksi di masjid-masjid karena memang pertemuan di atas 100 dibatasi di beberapa negara. Protokol kita seperti apa. Harus sudah disiapkan dari sekarang," ujar Meutya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona lockdown
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top