Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Konjen RI: Pola Aktivitas Masyarakat China Berubah Akibat Corona

Secara perlahan, jumlah warga terinfeksi virus Corona menurun signifikan di China. Di sisi lain, pasien yang dinyatakan sembuh kian meningkat. Kendati demikian otoritas negara itu tetap memberlakukan sejumlah aturan guna mencegah meluasnya penularan.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 11 Maret 2020  |  12:29 WIB
Konjen RI: Pola Aktivitas Masyarakat China Berubah Akibat Corona
Seorang petugas polisi yang mengenakan masker pelindung berjalan melewati toko Apple yang tutup di Shanghai, China, pada 5 Februari 2020. - Qilai Shen / Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Masyarakat di negara China mengalami perubahan pola aktivitas harian pascapenyebaran virus Corona atau Covid-19. Pengecekan dan pemeriksaan suhu tubuh dilakukan di semua tempat untuk mencegah penyebaran virus tersebut.

Secara perlahan, jumlah warga terkonfirmasi Corona menurun signifikan di China. Di sisi lain, pasien yang dinyatakan sembuh juga kian meningkat. Kendati demikian otoritas negara itu tetap memberlakukan sejumlah aturan guna mencegah meluasnya penularan.

Bisnis berkesempatan melakukan komunikasi dengan Konsul Jenderal Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Shanghai Deny W Kurnia melalui pesan teks dan voice note Whatsapp. Komunikasi melalui WeChat, Instagram Video Call, dan Whatsapp Video Call sempat dicoba namun tak tersambung, sehingga teks dan voice note menjadi pilihan terakhir.  

Berikut petikan wawancara dengan Konsul Jenderal KJRI Shanghai Deny W Kurnia:

Bagaimana kondisi di Shanghai setelah penyebaran virus Corona di China? 

Kondisi terus membaik, aktivitas menuju ke normal.

Bagaimana aktifitas warga setempat?

Merebaknya virus bersamaan dengan libur panjang perayaan Imlek pada 25 Januari sampai 9 Februari sehingga ada kesan sepi. Ketika libur Imlek diperpanjang sampai 16 Februari [akibat Corona], sepinya Shanghai terlihat lebih panjang. Namun dalam dua minggu selanjutnya, aktivitas berangsur menggeliat, dan setelah itu cenderung menuju normal.

Apakah penyebaran virus Corona menyebabkan kepanikan di Shanghai?

Merebaknya kasus di China bersamaan dengan libur Imlek. Tidak ada kesan kepanikan terjadi di Shanghai. Harga beberapa bahan pokok sempat mengalami sedikit kenaikan pada sekitar 2 - 3 hari awal merebaknya kasus Covid-19. Juga sempat ada kelangkaan masker, namun segera teratasi.

Apa ada ketentuan khusus bagi masyarakat untuk menghindari Corona di sana?

Warga di Shanghai diminta mengenakan masker, selalu bersih dan sterilkan tangan, mengurangi atau menghindari aktivitas di luar, juga diminta menghindari kerumunan massa. Otoritas setempat memberlakukan berbagai monitoring, checking suhu badan, dan pemeriksaan identitas, termasuk di gate perumahan, stasiun, airport, dan gedung-gedung.

Bagaimana kabar WNI di Shanghai? 

Seluruh warga negara Indonesia di Shanghai sehat-sehat. Tidak ada kasus [terkait virus Corona].

Bagaimana cara KJRI memantau WNI di sana?

Kami terus menjalin komunikasi dan bergabung dalam grup-grup WeChat dengan WNI dan pelajar.

Apa tindakan khusus yang dilakukan KJRI dalam mengantisipasi virus ini?

Kami memberikan imbauan dan memonitor WNI agar menjaga kesehatan dan berada dalam koridor yang aman. Mendukung dan mendistribusikan masker dan beberapa kebutuhan logistik kepada WNI. Komunikasi berlangsung lancar. Tidak ada laporan spesifik dari WNI. Komunikasi kami terus terjalin dengan para WNI.

Apakah China mulai memasuki masa release mengingat kasus Corona terus menurun?

Nampaknya begitu, karena kalau misalkan kita lihat kasus konfirmasi Corona itu kan jumlah totalnya sampai sekarang 80.566 [Per Jumat 6 Maret 2020]. Adapun penambahan kasus 144 dalam sehari. Itu sudah sangat kecil karena pada masa puncaknya penambahan kasus itu mencapai 3.000 per hari. Jadi ini sekarang sudah pada tahap stabilisasi menuju ke perbaikan atau menuju ke tahap mengatasi persoalannya. Dari 80.566 kasus, 52.000 lebih sudah sembuh. Artinya yang sekarang tersisa di rumah sakit sekitar 25.400 [Per 6 Maret 2020]. Jadi artinya sudah menuju pemulihan.

Suspect baru yang ditemukan sudah menyentuh 522  orang. Itu orang-orang yang baru pulang dari mana, baru ketahuan mendapatkan gejala dan sebagainya. Tapi kasus baru itu kan hanya pada angka itu 100-an. Sehingga kemudian orang yang sembuh menjadi lebih banyak.

Bagaimana masyarakat China menjalankan aktivitas hariannya?

Berangsur normal. Mereka memang seperti menjalani sesuatu yang baru, seperti sudah biasa melakukan pengecekan sebelum masuk ke gedung, pemeriksaan suhu tubuh, mengisi nama. Semua orang di sini memiliki kode QR seperti di Alipay. Dari format itu mereka dapat melihat status saya dari segi kesehatannya.

Status saya kan green, saya perlihatkan ke petugas bahwa saya green. Itu menunjukkan saya tidak pernah ke mana-mana dalam 14 hari terakhir. Mungkin orang yang punya catatan tertentu warnanya akan lain.

Jadi dari Alipay saya, status saya green. Keseharian di China berangsur normal tapi ada hal-hal baru yang dilakukan, seperti saat masuk ke kompleks perumahan. Kalau orang asing akan dicegah masuk atau diminta penjelasan detail. Saya sendiri masuk kompleks hari pertama dicek suhu. Tapi ketika ketahuan saya tidak ke mana-mana baru dipersilakan masuk. Pengecekan berikutnya menjadi lebih rutin dan ini hal baru yang dijalani masyarakat China.

Apakah mereka sudah beradaptasi dengan kondisi yang ada? 

Saya melihat masyarakat RRT ini pragmatis dan kooperatif. Jadi ketika pemerintahnya mengatakan ini sistem baru yang direkomendasikan, ya dilaksanakan secara bertahap. Semuanya berjalan dengan smooth dan lancar serta logis. Kooperatif lah. Sehingga itu yang saya lihat membuatnya menjadi mudah untuk me-manage masyarakat di sini, termasuk mengatasi persoalan seperti ini. Mereka cenderung patuh pada apa yang diinginkan, dijadikan sebagai policy oleh pemerintah.

Bagaimana dengan kabar WNI dan KJRI?

Kalau di Shanghai sepengetahuan saya semua baik-baik saja. WNI kita sebelum liburan Imlek di Shanghai dan empat provinsi yang mengitarinya ketika kita lihat dari daftar yang diidentifikasi sekitar 3.000 orang. Imlek membuat libur panjang sehingga masyarakat di sini mobilitasnya tinggi. Sehingga yang tersisa di Shanghai ketika merebak kasus ini, mungkin setengahnya atau kurang dari itu, bisa sampai sepertiganya. Mereka belum pada balik ke wilayah Shanghai dan empat provinsi yang mengitarinya.

Kami dari KJRI semuanya baik, melaksanakan tugas memfasilitasi, melaksanakan peran kita melindungi warga dan melaksanakan tugas lain-lain dan saya kira tidak ada hambatan berarti selama ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china shanghai Virus Corona
Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top