Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pendapatan Meroket, OYO Tetap Merugi US$335 Juta

Oyo Hotels & Homes, menelan kerugian US$335 juta kendati mencatakan pendapatan US$951 juta pada tahun fiskal 2019.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 17 Februari 2020  |  22:23 WIB
Pendapatan Meroket, OYO Tetap Merugi US$335 Juta
Salah satu penginapan di Jakarta yang tergabung di jaringan Oyo. - Oyorooms.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Oyo Hotels & Homes (OYO), perusahaan rintisan yang bergerak di bidang akomodasi asal India, mencatatkan kenaikan pendapatan hingga US$951 juta pada tahun fiskal 2019 (per Maret 2019).

Angka tersebut menunjukkan kenaikan empat kali lipat dibandingkan periode sebelumnya yang hanya mencetak pendapatan senilai US$211 juta. Namun, kerugian justru naik menjadi US$335 juta dari sebelumnya US$53 juta seiring dengan ekspansi perusahaan rintisan ini ke China dan pasar-pasar lainnya.

OYO pertama kali didirikan oleh Ritesh Agarwal di India sebagai alternatif akomodasi murah dengan kualitas yang terjamin. Dengan dukungan SoftBank Group Corp., perusahaan ini membidik ekspansi secara internasional dan menjadi waralaba hotel dengan jumlah kamar terbanyak di dunia.

Berkat keagresifannya di India, negara tersebut berkontribusi terhadap pendapatannya hingga 63,5 persen pada tahun fiscal lalu, atau turun dari 99 persen sebelumnya. Kerugian OYO di India turun menjadi 14 persen dibandingkan sebelumnya sebesar 24 persen.

"Kami berada pada jalur yang benar untuk mencapai keuntungan. Kami sama sekali tidak menetapkan target, tetapi pendapatan terus tumbuh, kerugian turun, dan marjin cukup sehat,” kata Aditya Ghosh, salah satu direksi OYO, dilansir Bloomberg, Senin (17/2/2020).

Perusahaan saat ini cukup khawatir dengan merebaknya wabah virus corona di China karena telah memicu larangan perjalanan di beberapa negara.

“Krisis virus corona telah menguasai China dan itu akan berdampak negatif terhadap bisnis dalam jangka pendek. Kita tidak bisa mengatakan berapa kerugiannya. Terlalu dini untuk mengatakan jumlah kerugiannya tetapi banyak provinsi di China yang sudah terdampak,” ujar Ghosh.

Berdasarkan laporan keuangannya, marjin kotor naik menjadi 14,7 persen dari 10,6 persen. OYO telah melakukan pengurangan pasar-pasar tertentu, misalnya dengan merumahkan sekitar 12.000 karyawannya di India.’

“Kita telah keluar dari 200 kota di India dan itu hanya berkontribusi di bawah 5 persen terhadap pendapatan,” jelas Rohit Kapoor, CEO untuk India dan Asia Selatan.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

india HOTEL

Sumber : Bloomberg

Editor : Oktaviano DB Hana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top