Virus Corona: 242 Orang Meninggal di Hubei, Jepang Catat Kematian Pertama

Jumlah kematian resmi di China akibat virus Corona melonjak secara dramatis kemarin setelah pihak berwenang mengubah metode penghitungan mereka sehingga memicu kekhawatiran bahwa epidemi itu jauh lebih buruk daripada yang dilaporkan.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 14 Februari 2020  |  06:48 WIB
Virus Corona: 242 Orang Meninggal di Hubei, Jepang Catat Kematian Pertama
Tenaga medis menggunakan pakaian pelindung khusus saat merawat pasien yang terinfeksi virus corona di Rumah Sakit Zhongnan, Universitas Wuhan, di Wuhan, Provinsi Hubei, China Senin(27/1 - 2020). China Daily via Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah kematian resmi di China akibat virus Corona melonjak secara dramatis kemarin setelah pihak berwenang mengubah metode penghitungan mereka sehingga memicu kekhawatiran bahwa epidemi itu jauh lebih buruk daripada yang dilaporkan.

Ketika angka kematian melonjak di China, Vietnam menempatkan 10.000 orang di bawah karantina setelah enam kasus COVID-19 ditemukan di sekelompok desa yang merupakan karantina di luar negeri.

Jepang melaporkan kematian pertama orang yang terinfeksi sekaligus kematian ketiga di luar China setelah Filipina dan Hong Kong.
Akibat banyaknya kritikan atas penanganan krisis itu di dalam negeri, Partai Komunis China memecat dua pejabat tinggi di provinsi Hubei, pusat penyebaran wabah itu.

Perkembangan itu terjadi beberapa jam setelah Presiden Xi Jinping mengklaim "hasil positif" dari upaya penanggulangan epidemi yang kini secara resmi telah membunuh 1.367 orang dan menginfeksi hampir 60.000.

Di Hubei dan ibukotanya, Wuhan, tempat puluhan juta orang terjebak sebagai bagian dari upaya karantina yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebayak 242 orang meninggal dunia kemarin.

Sementara itu 14.840 orang lainnya dipastikan terinfeksi di Hubei saja. Dengan kasus dan kematian baru sejauh ini provinsi itu tercatat sebagai tempat terbesar per hari sejak krisis bermula.

Akan tetapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah bergerak untuk menenangkan ketakutan dengan mengatakan angka-angka baru itu "tidak mewakili perubahan signifikan dalam lintasan wabah."

"Peningkatan yang Anda semua lihat dalam 24 jam terakhir sebagian besar disebabkan oleh perubahan dalam bagaimana kasus-kasus itu dilaporkan," ujar Michael Ryan, kepala program kedaruratan kesehatan WHO seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Jumat (14/2/2020).

Pihak berwenang Hubei mengatakan peningkatan angka kematian terjadi karena mereka telah memperluas definisi infeksi untuk memasukkan orang yang "didiagnosis secara klinis" melalui hasil foto paru-paru.

Kritik semakin meningkat setelah kematian seorang dokter yang telah berusaha meningkatkan kekhawatiran tentang wabah pada bulan Desember tetapi dibungkam oleh pihak berwenang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
virus corona

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top