Wishnutama Sebut Dampak Virus Corona ke Pariwisata Masih Anomali

Periode Februari -- April menjadi masa yang kritis bagi industri pariwisata seiring dengan tingginya tingkat booking hotel untuk liburan musim panas.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  18:07 WIB
Wishnutama Sebut Dampak Virus Corona ke Pariwisata Masih Anomali
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio memberikan pemaparan saat acara musyawarah nasional PHRI XVII di Karawang, Jawa Barat, Senin (10/2). Pemerintah menyiapkan anggaran senilai lebih dari Rp10 triliun untuk pengembangan lima destinasi super prioritas, yakni Borobudur, Danau Toba, Labuan Bajo, Likupang, dan Mandalika pada 2020. Bisnis - Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, KARAWANG - Kontribusi industri pariwisata diprediksi akan terkoreksi seiring dengan dampak merebaknya virus corona di wilayah Asia. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama mengatakan periode Februari -- April menjadi masa yang  kritis bagi industri pariwisata seiring dengan tingginya tingkat booking hotel untuk liburan musim panas.

Seperti diberitakan sebelumnya, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memprediksi potential loss akibat virus corona mencapai Rp2,7 triliun lantaran banyak reservasi yang dibatalkan, terutama di Bali. 

“Kami mesti hitung ulang karena ini kan sesuatu yang anomali dan cara menghitungnya tidak sederhana karena kita tidak tahu sampai kapan corona virus ini akan terjadi," katanya di sela Munas PHRI ke-17, Senin (10/2). 

Kekhawatiran ini bertambah dengan merebaknya kasus virus corona yang tidak hanya terjadi di daratan China, tetapi mulai menyebar ke negara lainnya seperti Hongkong. “Misalnya kalau nanti Hongkong mesti ditutup, sementara Hongkong hub untuk masuk ke Indonesia, itu punya dampak yang lebih besar lagi,” tambahnya. 

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan industri pariwisata bakal terus berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Untuk itu, pihaknya mendorong berbagai upaya kepada pelaku usaha penyedia hospitality, termasuk pariwisata ekonomi kreatif, penyegaran regulasi, omnibus law, wisata halal, dan peningkatan sumber daya manusia.

Selain itu, China bukan satu-satunya pasar. Masih banyak negara-negara yang tidak konvensional yang berminat berkunjung ke Indonesia. Namun, dengan merebaknya virus corona, fokus menggarap destinasi domestik justru perlu ditingkatkan untuk menarik wisata lokal. “Wisata nusantara dan daerah-daerah yang non tradisional, yang berbasis meeting, insentive, conferences, exhibitions [MICE].”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata, Wishnutama

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top