Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

New York Rebut Status 'Pusat Keuangan No.1 Dunia' dari London

Survei dari konsultan Duff & Phelps mengungkapkan bahwa New York tetap menjadi pusat keuangan top dunia, mengeser London ke posisi kedua karena ketidakpastian Brexit merusak sentimen terhadap ibukota Inggris.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 Januari 2020  |  15:50 WIB
Saham Corteva, Inc (NYSE: CTVA) resmi diperdagangkan di bursa saham New York Stock Exchange pada Senin (3/6) waktu setempat - Bisnis/Riendy Astria
Saham Corteva, Inc (NYSE: CTVA) resmi diperdagangkan di bursa saham New York Stock Exchange pada Senin (3/6) waktu setempat - Bisnis/Riendy Astria

Bisnis.com, JAKARTA -- Survei dari konsultan Duff & Phelps mengungkapkan bahwa New York tetap menjadi pusat keuangan top dunia, mengeser London ke posisi kedua karena ketidakpastian Brexit merusak sentimen terhadap ibukota Inggris.

Sementara itu, kota-kota di Asia kian bersaing menempati posisi teratas survei pusat keuangan top dunia.

Seperti yang diketahui, Inggris akan resmi meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari 2020 dan kondisi ini sejalan ketidakpastian pasca masa transisi yang baru akan berakhir pada bulan Desember 2020.

Dilansir Reuters, survei Global Regulatory Outlook yang melibatkan 245 pejabat senior dari perusahaan manajemen aset, perbankan, dan perusahaan keuangan lainnya di seluruh dunia menemukan bahwa New York terus unggul terhadap London.

Sebanyak 56% responden menganggap pusat keuangan AS tersebut sebagai pusat uang paling penting di dunia, naik 33 poin persentase selama dua tahun terakhir.

Sementara itu, hanya 33% responden yang menganggap London sebagai pusat keuangan global terkemuka, turun lebih dari 20 poin persentase selama dua tahun terakhir.

"Sulit untuk tidak menyangkut-pautkan bahwa tiga tahun ketidakpastian sejak pemilu Brexit pertama turut berkontribusi pada turunnya peringkat London," kata Direktur Pelaksana Duff & Phelps, Monique Melis, dikutip melalui Reuters, Senin (27/1/2020).

Survei ini juga menunjukkan bahwa New York dan London akan berpindah posisi pada lima tahun ke depan, dengan pusat-pusat keuangan baru di Hong Kong, Singapura dan Shanghai diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan terbesar.

Hanya 22% yang memperkirakan London akan tetap menjadi pusat keuangan utama dalam waktu lima tahun ke depan. Di samping itu, bebera responden berpendapat bahwa Paris, Frankfurt atau kota Eropa lainnya bisa saja menggantikan New York atau London.

Para responden lebih menyukai London daripada New York dalam hal kebijakan yang paling menguntungkan untuk jasa keuangan di dunia.

"Jika pemerintah dapat memposisikan Inggris sebagai pusat keuangan dengan regulasi yang lebih menguntungkan dan memisahkannya dari birokrasi Eropa, maka kita dapat melihat Inggris kembali ke posisi teratas dan menarik bakat baru ke sektor ini," kata Melis.

London telah menunjukkan ketahanannya sejak Inggris memutuskan untuk meninggalkan Uni Eropa pada 2016 dengan melampaui New York sebagai pusat pertukaran suku bunga dan pemimpin dalam perdagangan mata uang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

new york london inggris Brexit
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top