Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kalau Diusir, AS Ancam Tutup Rekening Minyak Irak

Para pejabat Irak mengkhawatirkan kehancuran ekonomi negaranya jika Washington menjatuhkan sanksi, termasuk penutupan akses ke rekening tempat menyimpan hasil penjualan minyak di AS yang merupakan 90 persen dari anggaran belanja nasional.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 13 Januari 2020  |  16:51 WIB
Marinir AS dengan Batalion ke-2, Marinir ke-7 menjaga keamanan di kompleks kedutaan AS di Baghdad, Irak, 3 Januari 2020. - Sersan Marinir AS Kyle C. Talbot / via REUTERS
Marinir AS dengan Batalion ke-2, Marinir ke-7 menjaga keamanan di kompleks kedutaan AS di Baghdad, Irak, 3 Januari 2020. - Sersan Marinir AS Kyle C. Talbot / via REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA - Para pejabat Irak mengkhawatirkan kehancuran ekonomi negaranya jika Washington menjatuhkan sanksi, termasuk penutupan akses ke rekening tempat menyimpan hasil penjualan minyak di AS yang merupakan 90 persen dari anggaran belanja nasional.

Sebelumnya Presiden AS, Donald Trump marah setelah parlemen Irak pada 5 Januari lalu memutuskan untuk mengusir pasukan asing. Di antara pasukan asing itu termasuk sekitar 5.200 tentara AS yang telah membantu tentara setempat memukul mundur para jihadis sejak 2014.

Jika pasukan AS diminta untuk pergi maka negara itu menjatuhkan sanksi yang belum pernah ada sebelumnya.

AS kemudian mengirimkan pesan verbal luar biasa itu secara langsung ke kantor Perdana Menteri Adel Abdel Mahdi, menurut dua pejabat Irak seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Senin (13/1/2020).

Pemilihan parlemen untuk mengusir pasukan itu dipicu oleh kemarahan atas serangan pesawat tak berawak AS ke Baghdad dua hari sebelumnya. Serangan itu menewaskan Jenderal Iran, Qasem Soleimani dan tangan kanannya di Irak, Abu Mahdi al-Muhandis.

Rekening Bank Sentral Irak di The Fed dibuat pada 2003 setelah invasi pimpinan AS yang menggulingkan mantan diktator Saddam Hussein.

Di bawah Resolusi Dewan Keamanan PBB 1483, yang mencabut sanksi global yang melakukan embargo minyak yang diberlakukan di Irak setelah invasi Saddam ke Kuwait, semua pendapatan dari penjualan minyak Irak akan masuk ke rekening.

Iraq merupakan produsen minyak mentah terbesar kedua OPEC dan lebih dari 90 persen anggaran negara, yang mencapai US$112 miliar pada 2019, berasal dari pendapatan minyak.

Hingga hari ini, pendapatan dibayarkan dalam bentuk dollar AS ke dalam rekening The Fed setiap hari, dengan saldo sekarang sekitar US $ 35 miliar, kata para pejabat Irak.

Setiap bulan atau lebih, Irak menerbangkan US$1 Miliar hingga US$ 2 miliar dalam bentuk tunai dari akun itu untuk transaksi resmi dan komersial.

"Kami adalah negara penghasil minyak. Akun-akun itu dalam dollar. Memutus akses berarti mematikan keran uang," kata pejabat Irak itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

irak
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top