Libanon Larang Mantan Bos Nissan Carlos Ghosn Bepergian

Jaksa penuntut Libanon memberlakukan larangan perjalanan terhadap mantan bos Nissan Carlos Ghosn pada Kamis (9/1/2020). Ghosn melarikan diri dari Jepang ke Libanon.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 09 Januari 2020  |  22:03 WIB
Libanon Larang Mantan Bos Nissan Carlos Ghosn Bepergian
Mantan Chairman Nissan Motor Carlos Ghosn duduk di dalam mobil ketika ia meninggalkan kantor pengacara setelah dibebaskan dengan jaminan dari Rumah Tahanan Tokyo, di Tokyo, Jepang, 6 Maret 2019. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA - Jaksa penuntut Libanon memberlakukan larangan perjalanan terhadap mantan bos Nissan Carlos Ghosn, Kamis (9/1/2020).

Dikutip dari Reuters, seorang sumber pengadilan mengatakan larangan tersebut diberlakukan setelah Ghosn diinterogasi atas surat perintah Interpol yang dikeluarkan Jepang. Pihak Jepang meminta penangkapan Ghosn atas tuduhan pelanggaran keuangan.

Ghosn melarikan diri dari Jepang ke Libanon, rumah masa kecilnya, bulan lalu ketika dia sedang menunggu persidangan atas tuduhan pendapatan yang tidak dilaporkan, pelanggaran kepercayaan dan penyalahgunaan dana perusahaan, yang semuanya dia bantah.

Sumber lain menyatakan bahwa otoritas kehakiman Libanon juga meminta file tentang Ghosn di Jepang, termasuk tuduhan terhadapnya dan tidak akan menanyai dia lagi sampai informasi tersebut diterima.

Carlos Abou Jaoude, pengacara Ghosn yang berpusat di Beirut, mengatakan kepada penyiar Lebanon MTV Ghosn "sangat nyaman" dengan proses di Beirut.

“Dia sangat nyaman dengan langkah yang dilakukan. Ghosn juga nyaman dengan dirinya sendiri terutama setelah apa yang dia lalui," ujar Jaoude.

Sumber-sumber di pengadilan juga menyatakan keputusan yang dikeluarkan jaksa penuntut mengharuskan Ghosn  memberi tahu pihak berwenang tentang tempat tinggalnya.

Ghosn juga akan menyerahkan paspor Prancisnya ke pihak berwenang Libanon pada Kamis.

Pria kelahiran Brasil itu mengatakan pada Rabu lalu bahwa dia telah melarikan diri ke Libanon untuk membersihkan namanya dan siap untuk diadili di mana saja dia bisa mendapatkan persidangan yang adil.

Ghosn mengatakan siap untuk tinggal lama di Libanon, yang tidak mengizinkan ekstradisi warga negaranya. Sumber yang dekat dengan pria berusia 65 tahun itu mengatakan tim hukumnya mendorong Ghosn untuk diadili di negara itu. 

Selain surat perintah Interpol, Ghosn juga diinterogasi atas pengaduan hukum formal yang diajukan kepadanya oleh sekelompok pengacara Lebanon yang menuduhnya melakukan "normalisasi" dengan Israel atas kunjungan yang dilakukan di sana pada 2008.

Jaksa membebaskan Ghosn dengan persyaratan yang sama, bahwa dia harus memberitahukan tempat tinggalnya kepada pihak berwenang.

Tidak ada pernyataan langsung dari kantor kejaksaan. Dalam komentarnya kepada MTV, pengacara Ghosn, Jaoude mengatakan pernyataan akan dikeluarkan oleh tim Ghosn nanti.

Ghosn mengatakan pada Rabu bahwa dia telah melakukan perjalanan sebagai warga negara Prancis dan seorang eksekutif Renault untuk menandatangani kontrak dengan perusahaan Israel yang didukung negara untuk menjual kendaraan listrik, dan telah diwajibkan untuk pergi karena dewan meminta itu.

Ghosn mengatakan meminta maaf atas perjalanan itu dan mengatakan dia tidak bermaksud menyakiti rakyat Libanon, yang menganggap Israel sebagai negara musuh.

Selama kunjungan itu, Ghosn bertemu dengan mantan perdana menteri Israel Ehud Olmert, yang menjadi perdana menteri pada saat perang 2006 antara Israel dan kelompok Libanon yang didukung Iran, Hizbullah.

Hampir 1.200 warga Libanon, sebagian besar warga sipil, tewas dalam perang 2006 dan 158 orang tewas di Israel, sebagian besar tentara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Carlos Ghosn

Editor : Saeno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top