Trump: Korea Utara Berisiko Kehilangan Segalanya

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un berisiko kehilangan "segalanya", jika dia melanjutkan permusuhan dan tidak melakukan denuklirisasi.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 09 Desember 2019  |  06:23 WIB
Trump: Korea Utara Berisiko Kehilangan Segalanya
Presiden AS Donald Trump menghadiri KTT para pemimpin NATO di Watford, Inggris 4 Desember 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un berisiko kehilangan "segalanya", jika dia melanjutkan permusuhan dan tidak melakukan denuklirisasi.

Pernyataan itu dikeluarkan Trump setelah Korut mengatakan pihaknya telah sukses melakukan "uji coba yang sangat signifikan".

“Kim Jong-un terlalu pintar, namun sebenarnya akan banyak kehilangan, jika bertindak dengan cara yang bermusuhan. Dia menandatangani Perjanjian Denuklirisasi yang kuat dengan saya di Singapura,” kata Trump di Twitter, merujuk pada pertemuan puncak pertamanya dengan Kim di Singapura pada 2018 seperti dikutip Reuters, Senin (9/12/2019).

“Dia tentu tidak ingin menghilangkan hubungan istimewanya dengan Presiden Amerika Serikat atau mengganggu pemilihan presiden pada bulan November,” katanya.

Media pemerintah Korea Utara KCNA melaporkan sebelumnya bahwa mereka telah melakukan tes "sangat penting" di situs peluncuran satelit Sohae, tempat pengujian roket yang pernah dikatakan pejabat AS akan ditutup. Tes senjata itu dilakukan menjelang tenggat waktu akhir tahun bagi Korea Utara   menghentikan pengembangan senjata nuklir. 

Pyongyang telah memperingatkan akan mengambil "jalan baru" di tengah perundingan macet dengan Amerika Serikat.

"Korea Utara, di bawah kepemimpinan Kim Jong-un, memiliki potensi ekonomi yang luar biasa, tetapi harus melakukan  denuklirisasi seperti yang dijanjikan," kata Trump di Twitter.

Laporan KCNA menyebut uji coba itu sebagai "tes yang sangat penting dan sukses", tetapi tidak menjelaskan  apa yang diuji.

Para ahli rudal mengatakan tampaknya Korea Utara telah melakukan uji statis mesin roket.

"Jika itu memang tes mesin statis untuk rudal bahan bakar padat atau cair baru maka hal itu merupakan sinyal keras bahwa pintu untuk diplomasi dengan AS akan tertutup," kata Vipin Narang, pakar urusan nuklir di Institut Teknologi Massachusetts di Amerika Serikat.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Korea Utara, nuklir korut, Donald Trump

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top