Pesan Perdamaian dari Seni Jalanan

Gambaran hibrida manusia bercampur hewan berwarna-warni itu seringkali menghiasi dinding di sudut jalan di Jogjakarta, Chiang Mai, dan Berlin.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 01 Desember 2019  |  00:39 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Gambaran hibrida manusia bercampur hewan berwarna-warni itu seringkali menghiasi dinding di sudut jalan di Jogjakarta, Chiang Mai, dan Berlin.

Tak hanya indah secara estetika, mural tersebut menyajikan pesan tentang keberagaman cinta, kemanusiaan, dan kritik terhadap realitas sosial. Anagard adalah sosok dibalik itu semua.

Anagard merupakan seniman jalanan atau street artist asal Indonesia. Pada awal bulan ini, tepatnya pada 6 November 2019, dia memenangkan penghargaan UOB Painting of The Year 2019 di tingkat regional Asia Tenggara melalui karya berjudul Welcome Perdamaian, Goodbye Kedengkian.

Karya dengan cat semprot stensil pada aluminium itu terinspirasi dari sebuah rumah ibadah Gereja Ayam di Bukit Rhema, Magelang, Jawa Tengah. Lewat lukisan itu, Anagar mencoba mengeksplorasi ide tentang harmoni dan toleransi di tengah keragaman.

Karya itu menampilkan sosok manusia berwajah kucing dengan hiasan kepala merpati di sisi kanan. Bagian atas lukisan itu penuh warna. Dengan gaya tradisional dan kontemporer, Anagard memadukan simbol untuk menciptakan realitas sosial.

"Lukisan ini mengambil arsitektur unik rumah ibadah tersebut, yang memiliki atap seperti kepala burung merpati, yang merupakan simbol perdamaian," ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Karyanya tersebut, kata pria bernama lengkap Andres Busrianto ini, merupakan wujud dari kegelisahannya terhadap kondisi Tanah Air yang semakim intoleran terhadap keberagaman. Dia menambahkan bahwa Jogjakarta, sebagai pusat seni di mana dia tinggal, juga dirasa semakin tidak toleran.

"Mereka mengatakan Jogja adalah kota toleransi, tetapi sejak 2016, sulit untuk mengatakan apakah Jogja tetap toleran," ujarnya.

Anagard yang lahir dari pemilik sebuah restoran kecil di Padang, Sumatra Barat, merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Dia menempih pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta. Dari situ, dia pun mulai menekuni dunia seni rupa.

Bagi Anagard, seni jalanan telah membuatnya lebih hidup. Dari sebuah seni di atas kanvas, dia mulai memindahkan karyanya itu ke dinding dan menyibak masalah sosial di sekitarnya. Baginya, seni jalanan adalah cara terbaik untuk menyampaikan sebuah kritik.

Namun, bukan seni jalanan namanya, jika tidak mengundang kritik. Beberapa kali Anagard harus rela ketika lukisan dindingnya itu hilang atau dihapus. Sebab, beberapa orang melihatnya sebagai perusak, sedangkan sebagian lainnya tersinggung dengan kritikan yang disampaikannya.

Oleh karena itu, dia memakai nama samaran Anagard, yang terinspirasi dari nama mantan pacarnya. "Aku tidak membuat seni jalanan untuk menjadi terkenal. Jika orang tahu identitas asliku, itu berbahaya," ujar pria 35 tahun itu.

Anagard merupakan sosok yang aktif dalam berbagai pameran grup baik lokal maupun internasional, termasuk Indonesia, Malaysia, Belgia, dan Australia. Dia pernah menerima beberapa pencapaian, yakni sebagai Finalis Indonesia Art Award 2013, Finalis Jakarta Art Award, Kompetisi Lukisan, 2012 dan Finalis Bangsa Neo, Yogyakarta Biennale IX, Indonesia, 2007.

Dedikasi Seni

Didorong oleh semangat untuk memotivasi kreativitas para seniman berbakat, United Overseas Bank (UOB) memulai kompetisi Painting of the Year di Singapura pada tahun 1982. Saat ini, kompetisi seni tahunan tersebut merupakan kompetisi terlama di Singapura dan salah satu yang paling bergengsi di Asia Tengara.

Painting of the Year (POY), yang diselenggarakan di empat Negara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand telah banyak menemukan seniman pendatang baru berbakat atau pun seniman profesional melalui kontribusinya yang signifikan terhadap perkembangan seni di Asia Tenggara.

Deputy Chairman dan CEO UOB Wee Ee Cheong mengatakan bahwa kompetisi POY UOB telah membantu mengeluarkan kekuatan seni untuk menginspirasi, membuka pikiran, dan menciptakan paradigma baru kepada publik.

"Semangat yang giat dan inovasi yang kita lihat dalam diri para seniman dan melalui karya seni mereka selaras dengan filosofi dan warisan UOB. Cara seni menghubungkan manusia dan budaya, serta mempromosikan Bhinneka Tunggal Ika juga merupakan kualitas yang sejalan dengan filosofi bisnis UOB," ujar Wee.

Sementara itu, Strategic Communications and Brand Head UOB Indonesia Maya Rizano menegaskan bahwa program tersebut adalag ajang untuk menemukan generasi seniman baru agar mereka bisa berkarir secara profesional.

Menurutnya, UOB merupakan salah satu bank yang konsisten pada bidang seni lantaran dukungan terhadap seni saat ini masih sangat minim. Selain itu, keberadaan galeri seni juga terbatas, sehingga para seniman kurang disorot publik.

"Tujuan diadakan kompetisi ini supaya mereka bisa terekspos. Selain itu kita juga memiliki beberapa program kemitraan untuk terus memprofilkan, mendukung, memberi kesempatan, dan membuka network para seniman agar lebih berkembang," ujar Rizano.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lukisan

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top