Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

China Bisa Kaya dan Nol Karbon pada 2050

China dipandang dapat menjadi ekonomi yang sepenuhnya maju dan tidak menghasilkan emisi karbon apa pun pada pertengahan abad ini.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 25 November 2019  |  09:24 WIB
Seorang pria berjalan di Lujiazui, distrik finansial di Pudong, Shanghai, China, 17 Juli 2017. - REUTERS/Aly Song
Seorang pria berjalan di Lujiazui, distrik finansial di Pudong, Shanghai, China, 17 Juli 2017. - REUTERS/Aly Song

Bisnis.com, JAKARTA – China dipandang dapat menjadi ekonomi yang sepenuhnya maju dan tidak menghasilkan emisi karbon apa pun pada pertengahan abad ini.

Menurut laporan The Energy Transitions Commission (ETC), koalisi eksekutif global dari seluruh lanskap energi yang berkomitmen pada perjanjian iklim Paris, tingkat simpanan dan investasi yang tinggi di China memungkinkan pengeluaran yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tersebut.

“China dapat menggandakan pertumbuhan ekonomi per kapita dan standar hidup hingga tiga kali lipat sembari memangkas permintaan energi final sebesar 27 persen pada tahun 2050,” papar ETC, yang menerbitkan laporan tersebut bekerja sama dengan Rocky Mountain Institute (RMI).

Hal itu akan membutuhkan pengurangan penggunaan baja dan semen, penggunaan bahan baku yang lebih sirkular seperti plastik, dan langkah-langkah efisiensi energi termasuk elektrifikasi transportasi.

“China memiliki keunggulan kelembagaan, keuangan, dan teknologi dari sumber daya terkonsentrasi untuk mencapai usaha besar. Ini membuatnya ditempatkan dengan baik untuk merangsang investasi jangka panjang dan skala besar setelah menetapkan tujuan-tujuan strategis,” ujar Jules Kortenhorst, CEO RMI .

“Ini sekaligus membantu meletakkan dasar yang kuat bagi China untuk mengejar target nol karbon pada tahun 2050 serta mendapatkan keuntungan ekonomi dan lingkungan yang akan dihasilkan,” sambungnya, seperti dilansir melalui Bloomberg (Senin, 25/11/2019).

Target nol emisi akan membutuhkan dekarbonisasi total pembangkit listrik dan perluasan penggunaan daya sekitar 15.000 TWh pada tahun 2050.

Hampir 70 persen dari pembangkit listrik akan dipenuhi oleh tenaga angin dan solar dengan dukungan fleksibilitas dan penyimpanan jaringan.

Upaya ini juga akan membutuhkan peningkatan lebih dari tiga kali lipat dalam produksi dan penggunaan hidrogen menjadi lebih dari 80 juta ton pada tahun 2050, bersama dengan peran penting dari peningkatan bioenergi dan carbon capture (teknik yang digunakan dalam mengurangi karbon).

Total permintaan energi primer China bisa turun 45 persen hingga 2050 sebagai akibat dari berkurangnya energi yang hilang dalam pembangkit listrik.

Sementara itu, permintaan bahan bakar fosil bisa jatuh lebih dari 90 persen karena bahan bakar non-fosil akan melonjak 3,4 kali.

Laporan itu juga menyoroti tindakan sektoral utama dan kebijakan publik yang diperlukan, seperti sistem harga karbon nasional, untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut.

Langkah oleh China menuju nol emisi sangat penting bagi dunia untuk melawan perubahan iklim. Meski telah menghabiskan lebih banyak uang ketimbang negara lain untuk energi bersih, China masih merupakan konsumen terbesar batu bara, bahan bakar fosil paling kotor.

Negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu juga diperkirakan memiliki kapasitas tenaga batu bara yang sama dalam pipeline dengan total saat ini pada 28 negara yang tergabung dalam Uni Eropa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china emisi karbon
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top