Ekonomi Inggris Mulai Bergejolak di bawah Tekanan Global dan Brexit

Kepercayaan diri para pelaku bisnis telah menurun ke level terendah sejak krisis keuangan global.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  17:24 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Ekonomi Inggris semakin menujukkan tanda-tanda ketegangan di tengah krisis Brexit dan perlambatan global yang semakin meningkat, sektor lain yang selama ini mendukung pertumbuhan turut kehilangan momentumnya.

Kepercayaan diri para pelaku bisnis telah menurun ke level terendah sejak krisis keuangan global.

Di samping itu, pasar tenaga kerja yang selama ini menjadi penopang ekonomi, juga mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan hingga menimbulkan pertanyaan tentang daya beli konsumen.

Skenario Brexit yang mengalami perubahan juga menyulitkan ekonomi terbesar kelima di dunia tersebut untuk mengukur prospek pada tahun yang akan datang.

Kesulitan yang sama juga dialami Bank Sentral Inggris serta beberapa investor yang khawatir dengan risiko resesi.

Ekonom yang disurvei oleh Reuters pada bulan lalu menyebutkan probabilitas resesi di Inggris dalam 1 tahun ke depan sebesar 35%.

"Sejak Referendum 2016, beberapa indikator ekonomi Inggris seperti kepercayaan diri bisnis, belanja rumah tangga, pasar tenaga kerja, dan investasi telah mengalami perubahan yang signifikan," seperti dikutip melalui Reuters, Selasa (8/10/2019).

Pesimisme di kalangan pebisnis mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Tolak ukur untuk kegiatan bisnis pada masa depan, berdasarkan survei Lloyd Business Barometer, CBI Growth Indicator dan IHS Markit/CIPS seluruhnya menunjukkan pelemahan.

Survei IHS Markit/CIPS yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa sektor jasa Inggris yang dominan mengalami kontraksi pada September, dengan kinerja yang paling buruk di antara ekonomi maju lainnya.

Belanja rumah tangga telah menopang pertumbuhan ekonomi Inggris sejak pemungutan suara yang menentukan Brexit pada 3 tahun lalu.

Meski demikian, ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa rumah tangga lebih banyak menghabiskan uang untuk barang non-diskresioner seperti makanan, sedangkan pengeluaran di restoran dan hotel telah melemah.

Berdasarkan data resmi, sampai dengan kuartal kedua, pengeluaran di restoran dan hotel lebih rendah 1,5% dari pada pertengahan 2016. Namun untuk belanja makanan dan minuman non-alkohol angkanya naik 7%.

Sementara itu, pasar tenaga kerja adalah titik terkuat ekonomi Inggris namun angka ketenagakerjaan tercatat mengalami penurunan secara tahunan pada semester pertama dari tingkat tertinggi pada 2012.

Di sisi lain, meskipun Kantor Statistik Nasional telah merevisi tingkat investasi bisnis dalam perekonomian Inggris akhir-akhir ini, angka-angka masih menunjukkan pengeluaran modal telah mengalami stagnasi sejak pemungutan suara Brexit pada 2016.

Investasi bisnis Inggris tumbuh sekitar 5 miliar pound lebih rendah daripada seharusnya, jika mengkuti tren pascapemungutan suara Brexit, dibandingkan dengan kondisi pada krisis keuangan terakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi inggris

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top