Hindari Ancaman Trump, Vietnam Genjot Upaya Seimbangkan Neraca Perdagangan dengan AS

Kawasan tersebut akan menjadi rumah bagi proyek gas alam cair (liquefied natural gas/LNG)senilai US$5 miliar yang akan mencakup terminal impor dan pembangkit listrik berbahan bakar gas dan akan mengimpor bahan bakar AS ke negara itu.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 25 September 2019  |  10:32 WIB
Hindari Ancaman Trump, Vietnam Genjot Upaya Seimbangkan Neraca Perdagangan dengan AS
Presiden AS Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri (PM) Vietnam Nguyen Xuan Phuc melambaikan bendera Vietnam sambil menyapa para siswa yang menyambut mereka di Hanoi, Vietnam, Rabu (27/2/2019). - Reuters/Leah Millis

Bisnis.com, JAKARTA - Vietnam menggelontorkan upaya untuk menyeimbangkan surplus neraca perdagangan dengan Amerika Serikat, di antaranya dengan pengembangan sejumlah proyek di kawasan pesisir, yang lebih dikenal dengan komoditas tanaman buah naganya.

Kawasan tersebut akan menjadi rumah bagi proyek gas alam cair (liquefied natural gas/LNG)senilai US$5 miliar yang akan mencakup terminal impor dan pembangkit listrik berbahan bakar gas dan akan mengimpor bahan bakar AS ke negara itu.

Rencana ini telah mendapat restu dari Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc sebagai bagian dari dorongan untuk membeli produk-produk AS di Vietnam.

"Saya belum pernah melihat pemerintah Vietnam bergerak begitu cepat," kata John Rockhold, seorang insinyur dengan pengalaman 28 tahun mengembangkan proyek infrastruktur di Vietnam, sekaligus direktur wilayah di Energy Capital Vietnam.

“Saya pikir mereka melihat LNG sebagai cara untuk menurunkan defisit perdagangan AS dengan Vietnam. Ada banyak tekanan dari Gedung Putih saat ini," lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Memang, para pemimpin negara ini melakukan semua yang mereka bisa untuk menghindari nasib seperti China setelah Presiden Donald Trump pada bulan Juni menggambarkan Vietnam sebagai "pelaku tunggal paling buruk bagi semua orang" ketika ditanya apakah dia ingin mengenakan tarif pada negara tersebut.

“Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer memiliki papan skor: jika suatu negara memiliki surplus perdagangan dengan AS senilai lebih dari US$10 miliar, negara tersebut akan menjadi target utama," kata Ernest Bower, presiden direktur Bower Group Asia yang berbasis di Virginia.

Di bawah tekanan dari AS, Vietnam juga menindak pelabelan palsu barang-barang buatan China yang dialihkan melalui negara Vietnam untuk mengurangi tarif impor AS.

Vietnam mungkin telah menjadi penerima manfaat terbesar dari perang dagang AS-China di Asia karena perusahaan-perusahaan termasuk Nintendo Co dan Alphabet Inc. Google mengalihkan produksi ke negara tersebut.

Jadi para pejabat Vietnam, dari politbiro hingga pemerintah daerah, mencari cara untuk memangkas surplus perdagangan negara itu dengan AS yang mencapai US$ 40 miliar pada 2018. Surplus tersebut mencapai US$30 miliar dalam tujuh bulan pertama tahun ini, 39 persen lebih tinggi daripada pada periode yang sama tahun lalu, menurut data Biro Sensus AS.

"Jika kita membeli lebih banyak dari AS, itu pasti akan membantu meningkatkan hubungan kita dengan mereka," kata Mai Anh Tung, seorang pejabat pemerintah di provinsi Binh Thuan, lokasi tempat proyek LNG yang melibatkan perusahaan seperti General Electric Co, KBR Inc. dan Gas Korea akan dikembangkan.

Batubara dan Mesin

Presiden Vietnam sekaligus Sekjen Partai Komunis Nguyen Phu Trong diperkirakan akan mengunjungi Gedung Putih bulan depan dengan daftar kesepakatan untuk produk-produk buatan AS. Produk tersebut mencakup gas alam dari Texas, batu bara dari Pennsylvania, daging babi dari Iowa, dan bahkan mesin pesawat terbang, yang nilainya dapat mencapai miliaran dolar. Bukan kebetulan bahwa banyak dari produk ini berasal dari daerah yang penting bagi harapan terpilihnya kembali Trump pada tahun 2020.

Ini bukan pertama kalinya Trump menekan Vietnam pada perdagangan. Presiden AS mendesak para pemimpin Vietnam untuk membeli peralatan militer AS selama kunjungannya tahun 2017 ke negara itu, mengingatkan bahwa ia akan menghadapi pemilihan ulang. Vietnam, yang hingga 2016 dilarang membeli sistem senjata militer AS, telah menerima pelatihan dari AS mengenai navigasi proses pengadaan AS, kata Tuong Vu, seorang profesor ilmu politik di University of Oregon.

Pemerintah satu partai Vietnam dapat memengaruhi keputusan perusahaan swasta, perusahaan milik negara, bahkan otoritas lokal, seperti dalam pengawasan proyek LNG di provinsi Binh Thuan, 212 kilometer timur laut Kota Ho Chi Minh. Proyek ini akan membeli LNG dari AS, meskipun diskusi dengan pemasok belum dimulai, kata Rockhold.

"Jika perusahaan swasta mendukung kebijakan pemerintah, pemerintah dapat mendukung perusahaan swasta dengan cara lain," kata Le Dang Doanh, seorang ekonom dan mantan penasihat pemerintah yang berbasis di Hanoi. "Semua taipan di Vietnam terhubung dengan baik dengan pemerintah."

PM Phuc langsung menuju ke presiden AS di KTT G20 di Jepang untuk mengadakan pembicaraan dadakan dan berjanji untuk membeli LNG asal AS dalam "volume besar.” Total permintaan LNG negara itu diperkirakan mencapai 4 juta ton per tahun pada 2030, menurut analis dari BloombergNEF.

Sementara itu, impor semua bahan bakar tersebut dari AS, yang nilainya mencapai sekitar US$1,5 miliar per tahun, sebanding dengan 3,7 persen surplus perdagangan Vietnam dengan AS.

Bulan ini, Liquefied Natural Gas Ltd. mengumumkan jangka waktu yang tidak mengikat yang mengarah kepada kesepakatan pertama untuk memasok gas AS ke Vietnam untuk pembangkit listrik Delta Mekong.

“Perjanjian tersebut akan membantu menyeimbangkan surplus perdagangan Vietnam dengan AS," ungkap Delta Offshore Energy PTE LTD dalam siaran pers.

Sebelumnya, Phuc dalam wawancara Januari silam berjanji bahwa negaranya akan membeli lebih banyak pesawat Boeing Co. Sebulan kemudian, selama kunjungan Trump ke Hanoi untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Bamboo Airways Vietnam dan VietJet Aviation JSC menandatangani perjanjian untuk membeli 110 pesawat Boeing. Perusahaan BUMN, Vietnam Airlines JSC, juga mengatakan sedang mempertimbangkan pesanan untuk 50 hingga 100 unit pesawat 737 Max.

“Berbisnis dengan mitra AS aman dan dapat membantu mengembangkan hubungan antara Vietnam dan AS,” ungkap CEO Bamboo Airways, Trinh Van Quyet.

Pada bulan Agustus, Vietnam National Coal-Mineral Industries yang dikelola pemerintah mengumumkan negosiasi untuk membeli batubara AS untuk pertama kalinya dari Xcoal Energy & Resources LLC, yang berbasis di Pennsylvania.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
vietnam

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top