No-Deal Brexit Akan Rugikan Produsen Mobil Eropa

Lebih dari 20 kelompok dagang dari seluruh wilayah terlah bergabung dalam komunitas ini.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 23 September 2019  |  11:41 WIB
No-Deal Brexit Akan Rugikan Produsen Mobil Eropa
Ilustrasi brexit - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Hanya ada sisa waktu kurang dari 6 pekan sebelum Inggris terpisah dari Uni Eropa, para produsen mobil memberikan peringatan untuk kesekian kalinya bahwa Brexit tanpa kesepakatan akan menimbulkan konsekuensi fatal bagi industri.

"No-deal Brexit akan berdampak langsung dan merusak industri otomotif, merusak daya saing dan menyebabkan kerusakan lainnya yang tidak dapat diubah," ujar Direktur Kelompok Produsen dan Pedagang Motor Inggris Mike Hawes, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (23/9/2019).

Lebih dari 20 kelompok dagang dari seluruh wilayah terlah bergabung dalam komunitas ini.

Selama beberapa dekade, pembuat mobil Eropa telah mengembangkan rantai pasokan yang bergantung pada kelancaran pergerakan barang di seluruh kawasan blok tersebut.

Setiap kendaraan dirakit dari sekitar 30.000 bagian, sebagian besar dari bagian tersebut dikirim melintasi perbatasan beberapa kali.

Diakhirinya perdagangan bebas akan mengganggu model operasi yang selalu tepat waktu ini, di mana setiap menit terhentinya produksi di Inggris saja diperkirakan akan menyebabkan kerugian sekitar 50.000 pound atau senilai US$ 62.500.

Jika Inggris benar-benar keluar memisahkan diri, produsen mobil lokal tidak akan lagi menjadi bagian dari kesepakatan perdagangan Uni Eropa dan akan kehilangan akses khusus (preferential arrangements) dengan 30 negara, termasuk Turki, Afrika Selatan, Jepang, dan Korea Selatan.

"Terlebih lagi, pengenaan pungutan Organisasi Perdagangan Dunia akan menaikkan biaya produksi sebesar 5,7 miliar euro," ungkap kelompok tersebut.

Beban ini tentunya akan menjadi pukulan tambahan bagi industri yang sudah menghadapi banyak tantangan, mulai dari penjualan yang lesu, perang dagang AS-China, hingga pergeseran minat yang mahal menuju kendaraan listrik.

Pembuat mobil telah memperingatkan bahwa hard Brexit akan menggeser produksi keluar dari Inggris.

Nissan Motor Co membatalkan rencana untuk membuat X-Trail SUV di pabriknya yang terletak di Sunderland, Inggris, sementara BMW AG telah menyisihkan 300 juta euro untuk menangani beban tambahan terkait Brexit dan mengatakan akan mengurangi produksi di pabriknya di Oxford jika Inggris memilih no-deal Brexit.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah berjanji untuk membawa Inggris keluar dari UE, dengan atau tanpa kesepakatan, pada 31 Oktober, bahkan setelah Parlemen Inggris mengeluarkan undang-undang yang akan memaksanya menunda jika ia gagal mendapatkan kesepakatan.

Meskipun sikap kerasnya mungkin merupakan taktik negosiasi, pendekatan itu telah menciptakan ketidakpastian yang tidak disukai bagi pembuat mobil dan bisnis lainnya.

Erik Jonnaert, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Mobil Eropa, menyatakan bahwa kebutuhan berulang untuk merencakan dan menerapkan langkah darurat guna menghadapi Brexit yang kacau akan sangat mengganggu.

"Oleh karena itu industri automoible Eropa menyerukan semua pihak untuk mengesampingkan skenario no-deal Brexit sesegera mungkin," ujar Jonnaert melalui pernyataannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top