BOJ Tahan Kebijakan Moneter Ultra Longgar

BOJ memilih untuk tetap menjaga suku bunga acuan di bawah nol hanya beberapa jam setelah The Fed memangkas suku bunga untuk kedua kalinya.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 19 September 2019  |  10:55 WIB
BOJ Tahan Kebijakan Moneter Ultra Longgar
Bank Sentral Jepang - bizdaily.com.sg

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Sentral Jepang (BOJ) memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter ultra longgarnya dan menyerukan pemeriksaan ulang terhadap kondisi harga dan ekonomi pada pertemuan Oktober.

BOJ memilih untuk tetap menjaga suku bunga acuan di bawah nol hanya beberapa jam setelah The Fed memangkas suku bunga untuk kedua kalinya.

Berdasarkan pernyataan resmi,, BOJ mempertahankan suku bunga dan pembelian aset pada posisi eksisting. Keputusan ini sebelumnya sudah diperkirakan oleh tiga perempat ekonomis yang disurvei oleh Bloomberg.

"BOJ akan meninjau kondisi ekonomi dan inflasi pada pertemuan berikutnya mulai 30 Oktober," tulis pernyataan tersebut, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (19/9/2019).

Penilaian komprehensif yang disusun pada 2016 mengarah pada penciptaan kerangka kerja kebijakan saat ini, yakni pengendalian kurva imbal hasil.

Bank sentral mengatkaan bahwa mereka perlu memperhatikan risiko kehilangan momentum terhadap target inflasi 2%.

Seruan untuk melakukan tinjauan datang ketika bank sentral global bergerak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan mencegah meningkatnya risiko.

Langkah tersebut meningkatkan harapan bahwa BOJ mungkin akan mengikuti jejak yang sama, sebagian besar alasannya untuk mencegah penguatan yen agar tidak menghambat inflasi.

Meski demikian, tidak sedikit pengamat BOJ yang mengatakan bahwa bank sentral sudah kehabisan amunisi untuk mendorong pertumbuhan, sedangkan efek samping dari stimulus terus menumpuk.

Dengan demikian, pembalikan yen selama beberapa pekan terakhir kemungkinan membantu memberi ruang bagi Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda untuk menunda kebijakan baru setidaknya untuk beberapa saat lagi.

"Strategi dasar yang tepat untuk BOJ adalah bersabar dan terus melanjutkan stimulusnya saat ini," kata Yasunari Ueno, kepala ekonom pasar di Mizuho Securities Co., sebelum keputusan diumumkan.

Pada Juli, Kuroda mengatakan bahwa bank sentral telah menjadi lebih positif terhadap peningkatan stimulus, tetapi keputusan hari ini menunjukkan sikap sabar yang cukup dari seorang kepala bank sentral yang telah lama menyampaikan kesediaannya untuk mengambil tindakan pencegahan.

Namun, BOJ menegaskan kembali dalam pernyataannya bahwa bank sentral tidak akan ragu untuk menambah stimulus jika risiko terhadap momentum menuju target inflasi 2% meningkat.

Yen diperdagangkan sekitar 108 yen terhadap greenback pada Kamis pagi setelah menyentuh 104,46 bulan lalu, level terkuat sejak November 2016. Ekonom umumnya melihat pergerakan ke 100 yer per dolar AS sebagai pemicu bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga negatifnya.

"Tekanan untuk mengambil beberapa bentuk tindakan cukup kuat, dengan jatuhnya yield global dan langkah bank sentral utama lainnya yang meningkatkan stimulus," ujar ekonom Bloomberg, Yuki Masujima.

Imbal hasil obligasi 10 tahun pemerintah Jepang diperdagangkan dalam kisaran target BOJ setelah menyentuh level terendah selama 3 tahun terakhir yakni sebesar -0,295%, tingkat yang menurut beberapa pejabat BOJ perlu ditindak lanjuti.

Tantangan mendasar lainnya yang perlu dihadapi BOJ adalah inflasi.

Inflasi tercatat sebesar 0,6% pada Juli, jauh dari target 2% BOJ.

Ekspor setiap bulan terus menurun sepanjang tahun ini.

Sementara itu kenaikan pajak penjualan, yang mulai berlaku bulan depan diperkirakan akan memukul permintaan domestik, indikator telah membantu mempertahankan pertumbuhan selama kemerosotan ekspor.

Survei Bloomberg menunjukkan kenaikan suara dari para ekonom, sekitar 83% dari mereka mengatakan bahwa kebijakan BOJ selanjutnya adalah penambahan stimulus.

Konferensi pers Guberur BOJ Haruhiko Kuroda akan dilaksanakan pada pukul 15:30 waktu Tokyo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
boj

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top