Dampak Karhutla, 37 Orang Utan di Kalimantan Tengah Terjangkit ISPA

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Tengah menyebabkan sejumlah orang utan di wilayah tersebut mengalami infeksi saluran pernafasan akut atau ISPA.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 17 September 2019  |  19:37 WIB
Dampak Karhutla, 37 Orang Utan di Kalimantan Tengah Terjangkit ISPA
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Tengah menyebabkan sejumlah orang utan di wilayah tersebut mengalami infeksi saluran pernafasan akut atau ISPA.

Spesialis Komunikasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Paulina Laurensia Ela mengatakan, sebanyak 37 orangutan muda di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, terjangkit ISPA. 

"Tim medis kami di Nyaru Menteng dengan sigap memberikan pengobatan menggunakan nebulizer, multivitamin, dan antibiotik, terutama bagi orang utan yang dianggap mengidap infeksi parah," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (17/9/2019). 

Dia mengkhawatirkan jumlahnya akan bertambah mengingat Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng letaknya tidak jauh dari kota Palangkaraya. Sejak beberapa hari lalu, asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah tersebut cukup tebal hingga menyebabkan kualitas udara masuk ke dalam kategori tidak sehat.

Pada pekan pertama Agustus lalu, Paulina menyebut tim pemadam kebakaran yang dibentuk BOFS dan dibantu sejumlah pihak sempat berjibaku melawan api yang mendekat sampai jarak sekitar 300 meter dari batas Nyaru Menteng. Api berhasil dipadamkan dalam waktu 4 jam. 

Tim di Nyaru Menteng bersama masyarakat dan unsur-unsur pemerintahan setempat juga sempat melakukan patroli serta pemadaman beberapa titik api sehingga penyebarannya berhasil dicegah. Sayangnya, kata Paulina, kegiatan pembukaan lahan memanfaatkan metode pembakaran terus terjadi di banyak daerah di Kalimantan Tengah, terutama di sekitar Kota Palangkaraya. 

"Asap tebal tidak hanya membahayakan kondisi kesehatan para staf kami di Nyaru Menteng, namun juga 355 orangutan yang kami rawat di pusat rehabilitasi itu dan pulau-pulau pra-pelepasliaran di sekitarnya," tegas Paulina.

Asap tipis juga terpantau di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari di Kalimantan Timur selama beberapa hari terakhir. Untuk mencegah dampak buruk terhadap para orang utan yang tengah menjalani rehabilitasi, tim medis Samboja Lestari memberikan susu dan multivitamin bagi semua orang utan yang kini total berjumlah 130 ekor. 

Kegiatan luar ruang para orang utan muda di sekolah hutan juga dibatasi hanya beberapa jam. 

"Bagi orangutan dewasa yang berada di dalam kompleks kandang, tim teknisi Samboja Lestari secara teratur melakukan penyemprotan untuk menjaga suhu kandang tetap sejuk," jelas Paulina.

Dia menerangkan saat kabut asap muncul, partikel debu dan karbon sisa pembakaran akan memasuki saluran pernafasan dan menyebabkan reaksi alergi yang berlebihan. Hal ini bisa memicu infeksi seperti bronchitis dan pneumonia akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh. 

Namun sejauh ini, kata Paulina, belum ada orang utan di Samboja yang terjangkit infeksi saluran pernafasan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
orang utan, kebakaran hutan

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top