Praktik Iklan Google Tuai Investigasi

Sekelompok negara bagian di seluruh Amerika Serikat (AS) membuka penyelidikan mengenai apakah praktik periklanan Google melanggar undang-undang antimonopoli.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 September 2019  |  09:17 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Sekelompok negara bagian di seluruh Amerika Serikat (AS) membuka penyelidikan mengenai apakah praktik periklanan Google melanggar undang-undang antimonopoli.

Dilansir dari Bloomberg, pihak jaksa agung dari 48 negara bagian di AS, yang dipimpin oleh Ken Paxton dari Texas, serta dari Distrik Columbia dan Puerto Rico mengumumkan perihal penyelidikan tersebut pada Senin (9/9/2019) waktu setempat di Mahkamah Agung di Washington.

Penyelidikan ini dilakukan dengan berlandaskan kekhawatiran bahwa Google telah meningkatkan biaya untuk pengiklan. Ada pula keraguan tentang apakah konsumen mendapatkan informasi terbaik dari hasil pencarian perusahaan teknologi itu.

“Ini [Google] adalah perusahaan yang mendominasi seluruh aspek periklanan di internet dan pencarian di internet,” ujar Paxton.

Penyelidikan tersebut menjadi tanda terbaru atas berkembangnya investigasi antimonopoli yang mempertemukan Google bersama dengan perusahaan teknologi lainnya di AS.

Pejabat-pejabat pemerintah diketahui semakin skeptis terhadap dominasi para pemain terbesar di industri ini dan mengambil langkah awal untuk mengendalikan perusahaan-perusahaan itu.

Besarnya ukuran kelompok investigasi, yang mencakup setiap negara bagian kecuali California dan Alabama, merupakan ancaman bagi Google. Negara-negara bagian itu memiliki rekam jejak menindak perusahaan-perusahaan besar, seperti produsen rokok dan bank, atas kerugian terhadap konsumen dan memenangkan denda yang dapat mencapai nilai miliaran dolar.

“Sungguh menakjubkan bahwa mereka [negara bagian] memiliki 50 jaksa agung yang merupakan bagian dari investigasi multi-negara,” tutur Charlotte Slaiman, penasihat kebijakan senior untuk kelompok advokasi konsumen Public Knowledge.

“Ini menunjukkan semakin banyak sumber daya staf yang dapat diajukan untuk bertanggung jawab. Penyelidikan apa pun dalam praktik periklanan Google akan membutuhkan banyak waktu,” lanjutnya.

Menyusul pengumuman tersebut, saham induk Google, Alphabet, turun sebanyak 1 persen dan ditutup kurang dari 1 persen di level US$1.205,27 di New York pada perdagangan Senin (9/9/2019). Saham ini diperdagangkan sekitar 7 persen di bawah rekor yang dicapai pada akhir April.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
google

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top