Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mimpi-mimpi Cak Imin Bersama PKB

Dimunculkanlah raja dangdut Rhoma Irama sebagai bakal calon presiden PKB guna menjadi penggaet massa.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar berpidato saat penutupan Muktamar PKB 2019 di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (21/8/2019)./ANTARA FOTO-Fikri Yusuf
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar berpidato saat penutupan Muktamar PKB 2019 di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (21/8/2019)./ANTARA FOTO-Fikri Yusuf

Kabar24.com, JAKARTA — Sosok Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menjelma menjadi orang kuat baru di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa menjelang Pemilu Legislatif 2009.

Celakanya, status PKB sebagai salah satu partai papan atas dalam belantika politik Indonesia langsung melempem. Perolehan suara PKB merosot dari 10,57% total suara sah pada Pileg 2004 menjadi 4,94% pada Pileg 2009.

Muhaimin tampaknya tidak menganggap kemerosotan itu sebagai tanda kualat melawan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur—yang pada akhir 2009 wafat. Pria yang akrab disapa Cak Imin itu justru mampu melahirkan ide segar buat menghadapi Pileg 2014.

Dimunculkanlah raja dangdut Rhoma Irama sebagai bakal calon presiden PKB guna menjadi penggaet massa. Bahkan singkatan partai itu sempat diplesetkan menjadi ‘partainya kesatria bergitar’.

Strategi itu menjadi salah satu faktor melesatkan suara PKB menjadi 9,04% total suara sah. Suara Pileg 2014 memang naik, tetapi impian Rhoma untuk menjadi capres dikandaskan. PKB memilih mengajukan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

Ketika sistem Pemilu 2019 berubah menjadi serentak, PKB tambah moncer dengan meraup 9,80% total suara sah. Sejumlah lembaga survei menyebut elektabilitas PKB terbantu dengan ketokohan pendiri PKB, Ma’ruf Amin, yang menjadi pendamping Joko Widodo dalam Pilpres 2019.

Berbekal keberhasilan mengerek suara dan memenangkan Jokowi-Ma’ruf, Cak Imin dengan percaya diri menggelar Muktamar V di Bali pada 20-22 Agustus 2019.

Mirip dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang berkongres di Pulau Dewata, keterpilihan petahana sudah duluan menggema sehingga Muktamar hanya sebagai seremonial tanpa pertarungan.

Tak hanya itu, pria kelahiran Jombang tersebut juga menjadi formatur atau mandataris tunggal penyusun kepengurusan DPP periode 2019-2024. Cak Imin pun leluasa memilih anak buahnya, termasuk jabatan sekretaris jenderal yang akhirnya jatuh ke tangan Hasanuddin Wahid.

Menurut Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti, Cak Imin menjadi sosok powerfull pasca-Muktamar Bali. Apalagi, Cak Imin dengan cerdik menyelenggarakan Muktamar di antara waktu pasca-Pileg 2019 dan sebelum penyusunan kabinet pemerintahan periode 2019-2024.

Praktis tidak ada riak untuk menyabotase keterpilihan Cak Imin sebagai orang nomor satu PKB. Tokoh-tokoh pesaing memilih diam, termasuk politisi daerah yang mengharapkan rekomendasi dalam Pilkada 2020.

“PKB sekarang lagi dalam keadaan solid-solidnya,” kata Ray saat dihubungi Bisnis, Rabu (28/8/2019).

Kepengurusan periode 2019-2024 bakal menjadi ajang pembuktikan ketokohan Cak Imin. Pasalnya, dalam politik Indonesia, figur sentral parpol biasanya identik sebagai penarik massa.

Namun, pengalaman Pileg 2009, 2014, dan 2019 belum menunjukkan korelasi antara ketokohan Cak Imin dengan perolehan suara PKB. Cak Imin memang terus berhasil mempertahankan kekuasaan di partainya, tetapi sadar diri belum mampu menjadi vote getter utama.

Kesempatan itu terbuka pada Pemilu 2024 karena Cak Imin bisa menaikkan ambisinya. Dari sekadar ngarep posisi calon wakil presiden pada Pilpres 2019 menjadi calon presiden pada 5 tahun mendatang.

Pada 2024, tidak ada lagi Jokowi sebagai petahana. Ma’ruf Amin pun belum tentu ikut bertarung karena usia semakin senja.

Namun, Ray masih pesimistis Cak Imin mendapatkan tiket sebagai calon presiden. Jangankan berkontes dalam Pilpres 2024 dan menaikkan suara PKB, Ray memprediksi Cak Imin sepanjang periode kepemimpinannya bakal diuji dengan kegaduhan internal.

Ujian itu, menurut dia, bakal terjadi usai penetapan kabinet Jokowi-Ma’ruf. Sebagai salah satu parpol pengusung Jokowi-Ma’ruf, PKB disebut-sebut mendapatkan jatah kursi menteri yang tidak berbeda jauh dari Kabinet Kerja.

PKB mengklaim telah menyetorkan 10 nama kader sebagai calon menteri kepada Presiden Jokowi. Bila nama yang terpilih hanya 30%, Ray meyakini bakal muncul ketidakpuasan dari kader lain.

Ujian Cak Imin berikutnya adalah ketika pelaksanaan Pilkada 2020. Sejumlah elite PKB di daerah bisa saja tidak mendapatkan rekomendasi. Bisa juga hasil kontestasi tidak seperti yang diharapkan sehingga Cak Imin menjadi sasaran tembak dari kader-kadernya.

“Artinya, pasca-penyusunan kabinet dan pasca-Pilkada 2020, situasinya akan kembali berubah. Mungkin akan bermunculan bibit ketidakpuasan dan bibit kejenuhan,” ujar Ray.

Kritik terhadap Cak Imin boleh saja datang dari berbagai sisi. Toh, sejak menjungkalkan Gus Dur, musuh Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) itu terus bermunculan.

Namun, Cak Imin tampaknya tetap tidak ambil pusing. Mantan kader PKB pro-Gus Dur, Imam Anshori Saleh, pernah menyebut bekas Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) itu sosok yang percaya diri.

Penilaian itu disampaikan Imam ketika mengamati perangai Cak Imin yang seolah-olah sudah pasti dipilih oleh Jokowi sebagai cawapres. Faktanya, ambisi itu bertepuk sebelah tangan.

Tatkala membuka Muktamar PKB, Cak Imin melontarkan sejumlah strategi untuk mendongkrak suara PKB. Dari yang berbau lelucon seperti mengajak politisi cantik—yang ditujukan kepada Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie—untuk bergabung dengan PKB, hingga strategi kekinian berupa pengurus melek media sosial.

“Dengan kemajuan teknologi, zonasi regional tidak lagi menjadi pijakan utama. Tapi jangkauan komunitas IT-lah yang akan bisa mendekatkan kita dengan para pengurus, kader, dan pemilih,” ujarnya.

PKB juga berniat menancapkan pengaruhnya di luar Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan kata lain, PKB ingin menggarap pasar pemilih selain kalangan akar rumput Nahdlatul Ulama (NU).

Di luar Jatim dan Jateng, hasil Pileg 2019 menunjukkan PKB meraup suara cukup tinggi di Papua, Lampung, Banten, Jawa Barat. Di Papua yang didominasi pemilih non-muslim, PKB meraup 399.011 suara dan duduk di peringkat ketiga.

Meski demikian, Jatim yang selalu menjadi kontributor terbesar suara PKB bukan berarti sudah aman. Sebagai contoh, pada pemilihan anggota DPRD Jatim, posisi PKB sebagai peraih suara terbanyak dikudeta oleh PDIP sehingga harus melepas kursi ketua parlemen provinsi satu-satunya.

Dengan kekuasaannya saat ini, Cak Imin tentu bisa bermimpi dan memasang target apa saja. Namun, dia tidak boleh lupa bahwa ketika Gus Dur lagi kuat-kuatnya pun bisa jatuh pula.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper