Kala Pengelola Kekayaan Terbesar Dunia Tak Lagi Bersemangat

UBS Global Wealth Management, yang mengelola lebih dari US$2,48 triliun aset yang diinvestasikan, berubah menjadi tidak begitu semangat pada prospek ekuitas untuk pertama kalinya sejak krisis zona euro.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  07:49 WIB
Kala Pengelola Kekayaan Terbesar Dunia Tak Lagi Bersemangat
Bursa Saham AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- UBS Global Wealth Management, yang mengelola lebih dari US$2,48 triliun aset yang diinvestasikan, berubah menjadi tidak begitu semangat pada prospek ekuitas untuk pertama kalinya sejak krisis zona euro.

Chief Investment Officer Global Mark Haefele menuliskan dalam sebuah catatan kepada para investor bahwa manajer aset asal Swiss tersebut memangkas posisi saham relatifnya terhadap obligasi tingkat tinggi untuk mengurangi eksposur dari perang dagang dan ketidakpastian politik.

"Risiko terhadap ekonomi global dan pasar telah meningkat, menyusul peningkatan baru dalam ketegangan perdagangan AS-China," kata Haefele, seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (26/8/2019).

Hafele sebelumnya menolak untuk berubah bearish terhadap saham sejak dua negara ekonomi terbesar dunia memulai perang perdagangan mereka tahun lalu.

Keputusan Presiden AS Donald Trump pada Jumat (23/8/2019), untuk menaikkan tarif barang-barang China senilai US$250 miliar menjadi 30% dari 25% mendorong langkah UBS untuk melakukan penurunan.

Dia juga menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pandangan UBS terhadap saham di pasar berkembang antara lain eksposur terhadap volatilitas pasar, pelemahan ekonomi global dan ketegangan perang dagang yang meningkat.

Awal bulan ini, bank tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan di Asia lebih dari setengah dari 6,3% menjadi 2,8% serta menyampaikan bahwa Taiwan dan Korea kemungkinan akan menanggung beban perlambatan karena ketergantungan mereka pada perdagangan dan teknologi.

Haefele memperingatkan risiko penurunanpada ekuitas besar dan mempertahankan pandangannya bahwa AS dapat menghindari resesi pada 2020.

"Namun tidak semua orang siap untuk meninggalkan saham," katanya.

Paul Sandhu, kepala solusi kuant multi-aset dan penasehat klien di BNP Paribas Asset Management memperkirakan aliran dana akan kembali ke Asia jika situasi perdagangan AS-China mulai menunjukkan tanda-tanda akan segera selesai.

Dia mengatakan bahwa investor dapat mengambil keuntungan dari dolar AS yang berpotensi melemah, dan penurunan aliran dana ke wilayah Asia akan segera mencapai titik balik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manajer investasi

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top