Trump: China Minta Perundingan Perdagangan Dimulai Lagi

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa China telah meminta agar perundingan perdagangan antara kedua negara dimulai kembali.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  15:59 WIB
Trump: China Minta Perundingan Perdagangan Dimulai Lagi
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menghadiri pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa China telah meminta agar perundingan perdagangan antara kedua negara dimulai kembali.

Permintaan itu disampaikan beberapa jam setelah Wakil Perdana Menteri China Liu He menyerukan kedua belah pihak untuk bersikap tenang di tengah memanasnya tensi perdagangan antara kedua negara akibat rencana pengenaan tarif baru terhadap satu sama lain.

“China tadi malam menghubungi orang-orang perdagangan kami dan mengajak untuk bernegosiasi kembali,” tutur Trump di sela-sela pertemuan G7 di Biarritz, Prancis, seperti dilansir dari Bloomberg (Senin, 26/8/2019).

Pejabat pemerintah AS, ungkap Trump, menerima dua sambungan telepon yang "sangat produktif" dari China. Namun ia menolak mengatakan apakah telah berbicara langsung dengan Presiden China Xi Jinping.

“Mereka ingin membuat kesepakatan. Kami akan segera memulai dan bernegosiasi dan melihat apa yang terjadi tetapi saya pikir kami akan membuat kesepakatan,” tambah Trump.

Sementara itu, menjawab pertanyaan awak media terkait pernyataan Trump tersebut, Geng Shuang, juru bicara Kementerian Luar Negeri di Beijing, mengatakan bahwa ia tidak mengetahui perihal komunikasi via telepon antara AS-China.

Namun, Geng pada Senin (26/8/2019) menegaskan kembali posisi China bahwa perang dagang harus diselesaikan melalui negosiasi.

Sebelumnya, Wakil Perdana Menteri China Liu He mengatakan bahwa China bersedia menyelesaikan perselisihan dagangnya dengan AS melalui negosiasi yang tenang dan menentang tegas eskalasi konflik yang tengah berlangsung dengan negara berekonomi terkuat di dunia tersebut.

“Kami bersedia menyelesaikan masalah melalui konsultasi dan kerja sama dengan sikap tenang,” ujar Liu He di Chongqing, Caixin.

“Kami percaya bahwa eskalasi perang dagang tidak kondusif bagi China, AS, dan kepentingan orang-orang di seluruh dunia,” lanjutnya.

Pada Jumat (23/8/2019), Trump menyatakan AS akan menaikkan tarif eksisting atas produk China senilai US$250 miliar dari 25 persen menjadi 30 persen per 1 Oktober 2019, bertepatan dengan perayaan hari nasional Republik Rakyat China ke-70.

Kebijakan ini disampaikan Trump hanya beberapa jam setelah Beijing mengumumkan tarif impor atas barang-barang dari AS senilai US$75 miliar, termasuk kacang kedelai dan minyak.

Selain itu, Trump mengatakan AS akan menaikkan besaran tarif yang sudah direncanakan atas produk China senilai US$300 miliar menjadi 15 persen dari sebelumnya 10 persen. Washington bakal mulai memberlakukan tarif baru mulai 1 September 2019. Namun, sebagian produk yang diincar baru akan dikenakan tarif pada 15 Desember 2019.

Trump juga meminta perusahaan-perusahaan AS untuk memindahkan operasionalnya dari China ke negara lain, termasuk kembali ke AS.

Lebih lanjut Liu menegaskan bahwa China menyambut semua investor asing, termasuk dari AS.

"Kami menyambut perusahaan-perusahaan dari seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, untuk berinvestasi dan beroperasi di China,” papar Liu.

"Kami akan terus menciptakan lingkungan investasi yang baik, melindungi hak kekayaan intelektual, mempromosikan pengembangan industri cerdas dengan pasar kami yang terbuka, dengan tegas menentang blokade teknologi dan proteksionisme, dan berusaha untuk melindungi kelengkapan rantai pasokan.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top