Perang Dagang Memanas, China Tawarkan Negosiasi dengan Kepala Dingin

Pemerintah China menyatakan bersedia menyelesaikan perselisihan dagangnya dengan Amerika Serikat (AS) melalui negosiasi yang tenang dan menentang tegas eskalasi konflik yang tengah berlangsung dengan negara berekonomi terkuat di dunia tersebut.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  12:27 WIB
Perang Dagang Memanas, China Tawarkan Negosiasi dengan Kepala Dingin
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah China menyatakan bersedia menyelesaikan perselisihan dagangnya dengan Amerika Serikat (AS) melalui negosiasi yang tenang dan menentang tegas eskalasi konflik yang tengah berlangsung dengan negara berekonomi terkuat di dunia tersebut.

Wakil Perdana Menteri China Liu He mengatakan bahwa China "dengan tegas menentang" eskalasi perang AS antara kedua negara, setelah Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif terhadap barang-barang asal China dan meminta perusahaan-perusahaan AS untuk keluar dari Negeri Tirai Bambu.

“Kami bersedia menyelesaikan masalah melalui konsultasi dan kerja sama dengan sikap tenang,” ujar Liu He di Chongqing, Caixin, sebagaimana dilansir dari Bloomberg, Senin (26/8/2019).

“Kami percaya bahwa eskalasi perang dagang tidak kondusif bagi China, AS, dan kepentingan semua orang di seluruh dunia,” lanjutnya.

Lebih lanjut Liu menegaskan bahwa China menyambut investor-investor asing, khususnya perusahaan dari AS.

"Kami menyambut perusahaan-perusahaan dari seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, untuk berinvestasi dan beroperasi di China,” papar Liu, dikutip dari Reuters.

"Kami akan terus menciptakan lingkungan investasi yang baik, melindungi hak kekayaan intelektual, mempromosikan pengembangan industri cerdas dengan pasar kami yang terbuka, dengan tegas menentang blokade teknologi dan proteksionisme, dan berusaha untuk melindungi kelengkapan rantai pasokan.”

Pada Jumat (23/8/2019), Trump menyatakan AS akan menaikkan tarif eksisting atas produk China senilai US$250 miliar dari 25 persen menjadi 30 persen per 1 Oktober 2019, bertepatan dengan perayaan hari nasional Republik Rakyat China ke-70.

Kebijakan ini disampaikan Trump hanya beberapa jam setelah Beijing mengumumkan tarif impor atas barang-barang dari AS senilai US$75 miliar, termasuk kacang kedelai dan minyak.

Selain itu, Trump mengatakan AS akan menaikkan besaran tarif yang sudah direncanakan atas produk China senilai US$300 miliar menjadi 15 persen dari sebelumnya 10 persen. Washington bakal mulai memberlakukan tarif baru mulai 1 September 2019. Namun, sebagian produk yang diincar baru akan dikenakan tarif pada 15 Desember 2019.

Trump juga meminta perusahaan-perusahaan AS untuk memindahkan operasionalnya dari China ke negara lain, termasuk kembali ke AS.

Di tengah ketegangan terbaru ini, pasar saham global serentak terbenam ke zona merah karena investor cenderung mengalihkan uang mereka dari saham ke aset yang kurang berisiko, seperti obligasi, emas, dan yen Jepang.

Yen bahkan sempat melonjak ke level 104,96 pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (26/8/2019), setelah berakhir naik tajam 1 persen atau 1,06 poin di posisi 105,39 pada perdagangan Jumat (23/8/2019).

Di sisi lain, nilai tukar yuan China terpantau lanjut melemah akibat terbebani oleh ekspektasi perlambatan yang lebih dalam di China di tengah memanasnya perang dagang antara dua negara berekonomi terbesar di dunia tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top