Hadapi Ancaman Perang Modern, Menhan harus Punya Visi Jauh ke Depan

Pembina Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Wibisono mengatakan saat ini konsep Perang Modern mulai nyata. Artinya, permasalahan keamanan di Indonesia bukan lagi hanya sekadar perang fisik tetapi juga perang ideologi yang disebarkan melalui perkembangan teknologi.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  00:24 WIB
Hadapi Ancaman Perang Modern, Menhan harus Punya Visi Jauh ke Depan
Prajurit TNI AU menembakkan rudal ke udara saat uji coba perdana senjata baru Denhanud 472 Paskhas, di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Kamis (13/7). Dalam kegiatan tersebut dilakukan uji coba terhadap senjata baru jenis rudal chiron buatan Korea Selatan dan meriam oerlikon skyshield buatan Swiss. - ANTARA/Abriawan Abhe

Bisnis.com, JAKARTA – Perbincangan bursa menteri Kabinet Kerja Jokowi jilid dua terus mengundang perhatian masyarakat. Berbagai sosok kandidat calon menteri mulai bermunculan. Presiden Joko Widodo sendiri memastikan bahwa susunan kabinetnya akan terdiri dari kader partai politik dan kalangan professional.

Meski banyak bermunculan nama-nama dari kalangan milenial, Presiden juga diharapkan dapat tetap memilih sosok yang berpengalaman di bidangnya. Salah satu posisi yang cukup krusial dalam periode kedua kabinet kerja Jokowi-Ma’ruf Amin adalah Menteri Pertahanan.

Pembina Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Wibisono mengatakan saat ini konsep Perang Modern mulai nyata. Artinya, permasalahan keamanan di Indonesia bukan lagi hanya sekadar perang fisik tetapi juga perang ideologi yang disebarkan melalui perkembangan teknologi.

Konsep mengenai Perang Modern sebagai konsep penyadaran bangsa ini pernah digagasnya melalui penerbitan buku berjudul Bangsa Indonesia Terjebak Perang Modern di tahun 2004 yang ditulis bersama Menteri Pertahanan Jendral  Ryamizard Ryacudu dan Pendiri Universitas Pertahanan Letjen Prof  Syarifudin Tippe.

Menurutnya, untuk menghadapi Perang Modern tersebut dibutuhkan sosok calon menteri “new leader” sebagai Jenderal Pemikir yang memiliki visi jauh ke depan. Berangkat dari latar belakang yang sama dengan Ryamizard sebagai orang yang memahami konsep Perang Modern, Wibisono menilai bahwa Syarifudin Tippe cocok menjadi Menhan

“Saya pernah bekerjasama dengan kedua Jendral ini dalam mewujudkan konsep “Perang Modern”. Kedua Jendral ini satu visi dan satu pemikiran dalam Platform Pertahanan dan Keamanan Nasional sehingga saya menilai Tippe merupakan sosok yang cakap dan memenuhi syarat sebagai Menhan,” jelas Wibisono, Rabu (22/8/2019).

Syrarifudin Tippe atau yang akrab disapa Bang Tippe ini merupakan jendral purnawirawan bergelar “Profesor Pertahanan” yang  telah menghasilkan beberapa “legacy” selama dalam karier militernya. Lulusan Akabri tahun 75 ini merupakan Pendiri Unhan (Universitas Pertahanan) dan Rektor pertama di Unhan, serta pernah menjabat sebagai Komandan Seskoad

Tippe sendiri bukanlah sosok yang asing di tubuh TNI. Dia dianggap mampu menciptakan kondisi yang kondusif di Aceh ketika menjabat Danrem 012/Teuku Umar, 1999-2001. Selain itu, sebagai Pendiri Universitas Pertahanan, Tippe memiliki karir akademis yang cemerlang.

Baginya Unhan merupakan titik cair secara intelektual antara sipil militer. “Sebelumnya militer dengan sipil di Indonesia selalu bertemu di jalan saat mahasiswa demonstrasi. Kemudian Unhan mencoba untuk secara akademik mensinergikan sipil militer,” jelas pria kelahiran Sinjai, Sulawesi Selasatan 7 Juni 1953 ini.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabinet kerja

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top